Jurnas.net - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mulai mengantisipasi potensi dampak ekonomi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Salah satu langkah yang disiapkan adalah memperkuat pengendalian inflasi serta menggelar program pasar murah untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di Kota Pahlawan.
Langkah antisipatif ini muncul setelah memanasnya situasi di Timur Tengah menyusul serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran, pada Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan serta korban sipil dan meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Cegah Pemalsuan Karcis Parkir, Dishub Surabaya Siapkan Voucher Parkir Standar Peruri
Situasi geopolitik yang memanas ini memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global. Apalagi, muncul isu potensi pemblokiran jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.
Jika gangguan distribusi energi terjadi, harga minyak dunia diperkirakan akan melonjak dan berdampak langsung pada harga bahan bakar serta berbagai kebutuhan pokok di banyak negara, termasuk Indonesia.
Menanggapi perkembangan tersebut, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan bahwa pemerintah daerah terus memantau situasi global sambil berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Menurutnya, Pemkot Surabaya telah beberapa kali menggelar rapat bersama para pemangku kepentingan untuk mengantisipasi potensi lonjakan inflasi akibat dinamika geopolitik internasional.
“Kami sudah beberapa kali melakukan rapat dengan seluruh stakeholder terkait kemungkinan terjadinya inflasi. Kita akan melihat perkembangan harga sampai minggu depan,” kata Eri, Jumat, 6 Maret 2026.
Baca juga: Zakat Tembus Rp18 Miliar di Surabaya, Eri Cahyadi Sebut Masjid Cheng Hoo Simbol Gotong Royong
Ia menjelaskan, jika konflik terus meluas dan harga minyak dunia melonjak, dampaknya bisa merembet pada kenaikan harga berbagai komoditas di dalam negeri. “Dengan potensi blokir Selat Hormuz dan semakin masifnya konflik, kami khawatir jika harga minyak dunia naik, otomatis akan mempengaruhi harga barang di Indonesia, termasuk di Surabaya,” jelasnya.
Karena itu, Pemkot Surabaya menempatkan pengendalian inflasi sebagai prioritas utama agar gejolak global tidak langsung berdampak pada daya beli masyarakat. Sebagai langkah konkret, pemerintah kota akan meningkatkan pemantauan harga di pasar, memperkuat koordinasi dengan distributor bahan pokok, serta memastikan ketersediaan stok tetap aman.
Selain itu, Pemkot Surabaya juga menyiapkan intervensi melalui program pasar murah untuk menjaga stabilitas harga dan membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. “Kami akan melakukan pasar murah dan memastikan inflasi di Surabaya tetap terkendali meskipun ada situasi global seperti sekarang,” tegasnya.
Baca juga: Pemkot Surabaya Gandeng Kejati Jatim untuk Tarik Aset yang Dikuasai Pihak Ketiga
Di sisi lain, Pemkot Surabaya juga terus memantau kondisi warga Indonesia yang berada di luar negeri. Berdasarkan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, hingga saat ini warga negara Indonesia, termasuk warga Surabaya, dilaporkan dalam kondisi aman.
Eri juga memastikan tidak ada pejabat di lingkungan Pemkot Surabaya yang sedang menjalankan ibadah umrah di tengah situasi global tersebut. Selain itu, ia turut mengimbau masyarakat Surabaya untuk mempertimbangkan kembali rencana perjalanan ke luar negeri yang tidak bersifat mendesak.
“Kepada masyarakat Surabaya, kami mengimbau agar mempertimbangkan kembali perjalanan luar negeri yang tidak mendesak. Dengan melihat situasi global saat ini, sebaiknya dijadwalkan ulang demi keamanan,” pungkasnya.
Editor : Rahmat Fajar