Jurnas.net – Di tengah derasnya arus kehidupan modern, kisah Muslichah (85) justru menghadirkan pelajaran sederhana namun jarang disadari: kekuatan disiplin dari uang recehan. Perempuan asal Bugul Kidul, Kota Pasuruan ini membuktikan bahwa impian besar bisa lahir dari kebiasaan kecil yang dijaga puluhan tahun.
Setiap hari, Muslichah masih mendorong rombong cilok sejauh sekitar satu kilometer. Rutinitas itu ia jalani bukan semata untuk bertahan hidup, melainkan bagian dari perjalanan panjang mewujudkan satu impian: berangkat haji.
Baca juga: Masa Tunggu Haji di Gresik Dipangkas Jadi 26 Tahun: Kuota 2026 Naik Jadi 2.846 Jamaah
Sejak muda, tepatnya setelah menikah di usia 18 tahun, Muslichah sudah terbiasa bekerja keras. Bahkan di usia senja, ia tetap bangun dini hari untuk menyiapkan dagangan.
"Subuh sudah di dapur, jam dua sudah mulai persiapan. Semua saya buat sendiri,” kata Muslichah, Jumat, 24 April 2026.
Penghasilannya tak besar. Dari berjualan di kantin sekolah, ia hanya membawa pulang sekitar Rp50 ribu per hari. Namun justru dari keterbatasan itu, ia membangun kebiasaan yang konsisten: menyisihkan Rp10 ribu hingga Rp15 ribu setiap hari.
Tabungan itu tidak disimpan di bank, melainkan sebagian diselipkan di bambu di rumahnya. Cara sederhana, tapi penuh komitmen. “Sedikit-sedikit saya sisihkan. Kalau tidak nabung, ya tidak bisa berangkat,” katanya.
Selain itu, ia juga rutin mengikuti arisan mingguan. Dari kombinasi disiplin menabung dan kebiasaan hidup hemat, Muslichah akhirnya mampu mendaftar haji pada 2017. Setelah menunggu sembilan tahun, kini ia berangkat dengan hati penuh syukur.
Baca juga: Negatif Covid-19 Hasil Swab PCR: 11 Jemaah Haji Jatim Tetap Dalam Pengawasan Ketat 14 Hari
Perjalanan hidupnya bukan tanpa ujian. Suaminya telah wafat 12 tahun lalu, dan dua dari delapan anaknya lebih dulu meninggal dunia. Namun, cobaan itu tidak mematahkan semangatnya.
Kini, ia tidak berangkat sendiri. Putri bungsunya, Mariyatul Kibtiyah (35), ikut mendampingi melalui penggabungan mahram lansia. Keputusan itu lahir dari kekaguman sang anak terhadap ketekunan ibunya.
“Saya melihat sendiri bagaimana emak menabung dari jualan cilok. Saya jadi ingin ikut mendampingi,” ujar Mariyatul.
Baca juga: Dua Kloter Perdana Debarkasi Surabaya Tiba di Tanah Air
Selama lima tahun terakhir, Mariyatul turut membantu ekonomi keluarga dengan berjualan cilok pada malam hari. Ia bahkan menyisihkan uang dari sisa belanja bahan dagangan untuk ikut menabung.
Kisah Muslichah bukan sekadar tentang keberangkatan haji. Ini adalah cerita tentang konsistensi, ketahanan, dan keyakinan bahwa mimpi tidak selalu butuh langkah besar, cukup langkah kecil yang dilakukan tanpa henti.
Kini, di usia 85 tahun, Muslichah akhirnya menapaki perjalanan spiritual yang telah ia perjuangkan seumur hidupnya. “Senang sekali rasanya. Alhamdulillah bisa berangkat,” ucapnya haru.
Editor : Andi Setiawan