Jurnas.net - Di tengah pesatnya perkembangan kawasan wisata Banyuwangi, tersimpan sebuah dusun yang tak hanya kaya akan budaya, tetapi juga menjadi simbol toleransi dan kreativitas masyarakat lintas agama. Dusun Patoman Tengah, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, atau yang lebih dikenal sebagai Dusun Balian, kini berkembang sebagai kampung seni dan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Julukan Dusun Balian melekat karena mayoritas penduduknya merupakan umat Hindu. Nuansa khas Bali begitu terasa saat memasuki kawasan ini. Deretan rumah dengan arsitektur bernuansa Bali, keberadaan pura, hingga aktivitas budaya masyarakat menghadirkan atmosfer berbeda di wilayah ujung timur Pulau Jawa tersebut.
Baca juga: Kuliner Ikan Asap Blimbingsari Banyuwangi Eksis Sejak 1977, Pesanannya Tembus Sumatera
Namun, kekuatan utama Dusun Balian bukan hanya terletak pada identitas budayanya, melainkan juga pada kehidupan sosial masyarakat yang harmonis dan penuh toleransi.
Kepala Dusun Patoman Tengah, I Gede Yuda Permana, mengatakan kehidupan antarumat beragama di wilayahnya telah terjalin harmonis sejak lama. Warga dari berbagai latar belakang agama hidup berdampingan dan saling membantu dalam berbagai kegiatan sosial maupun keagamaan.
“Selama ini tidak pernah ada masalah. Kalau umat Hindu ada kegiatan, umat lain ikut membantu. Begitu juga sebaliknya, jadi saling mengisi,” kata Yuda, saat mendampingi Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Minggu, 10 Mei 2026.
Kondisi tersebut membuat Dusun Patoman dikenal sebagai salah satu Kampung Pancasila di Banyuwangi, di mana nilai gotong royong dan toleransi masih terjaga kuat di tengah keberagaman masyarakat.
Tidak hanya itu, Dusun Balian juga menjadi ruang tumbuh bagi seni budaya lokal. Di kawasan tersebut berdiri Pura Desa yang tak sekadar difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran seni dan budaya bagi generasi muda.
Anak-anak dan remaja di dusun tersebut rutin belajar tari tradisional, gamelan, hingga pendidikan agama Hindu. Aktivitas itu menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya sekaligus membangun ruang kreatif bagi anak muda Banyuwangi.
Baca juga: KPK Pastikan Sukojati Tetap 'On Track', Banyuwangi Didorong Perluas Desa Antikorupsi
Suasana seni tradisional yang hidup membuat Dusun Balian perlahan berkembang menjadi salah satu pusat pelestarian budaya lokal berbasis masyarakat. Selain seni budaya, geliat ekonomi kreatif masyarakat juga mulai tumbuh pesat. Salah satu pelaku UMKM yang cukup dikenal adalah Kayan Suartana, seniman sekaligus pengrajin ukir kayu dan pasir.
Kayan merintis usahanya sejak tahun 2000 sambil aktif berkesenian di bidang tari dan musik tradisional. Ketekunannya melestarikan budaya melalui karya seni membuatnya pernah menerima penghargaan tali kasih dari mantan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pada 2015.
Kini, usahanya berkembang dengan memproduksi berbagai ornamen rumah, patung artistik, hingga kerajinan berbahan pasir pantai dan kayu yang dipasarkan ke berbagai daerah seperti Bali, Nganjuk, hingga Jawa Tengah. “Awalnya hanya kecil-kecilan, sekarang sudah banyak pesanan dari luar daerah,” ujar Kayan.
Potensi ekonomi Dusun Patoman juga mulai diperkuat dari sektor pertanian bernilai ekspor. Salah satunya melalui budidaya Cabe Jawa atau Cabe Puyang yang kini diminati pasar internasional.
Baca juga: Banyuwangi Permudah Legalitas UMKM Lewat Program Si Kedip Wangi, Layanan Jemput Bola ke Desa
Salah seorang petani, Made Ardana, mengembangkan sekitar seribu pohon Cabe Jawa di lahan seluas 3.000 meter persegi. Tanaman tersebut dinilai lebih mudah dirawat dibanding cabai biasa dan memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. “Perawatannya lebih simpel dibanding cabai biasa. Setelah dipanen tinggal direbus lalu dijemur sekitar tiga hari,” jelas Made.
Dari satu kilogram Cabe Jawa basah, petani bisa menghasilkan sekitar tiga ons produk kering dengan harga jual mencapai Rp85 ribu per kilogram. Permintaan pasar terhadap komoditas tersebut disebut terus meningkat. Bahkan hasil panen warga telah dipasarkan hingga Jepang dan China untuk kebutuhan industri kosmetik dan herbal.
Perpaduan antara toleransi, pelestarian budaya, kreativitas masyarakat, serta potensi ekonomi membuat Dusun Balian bukan sekadar kampung adat biasa. Dusun ini menjelma menjadi wajah lain Banyuwangi yang menunjukkan bahwa budaya lokal dapat tumbuh berdampingan dengan pembangunan ekonomi masyarakat.
Editor : Andi Setiawan