Dies Natalis KOHATI: Merefleksi Kembali Peran Perempuan dari Masa ke Masa

jurnas.net
Heni Ratnawati, Wakil Sekretaris Bidang Kajian dan Advokasi KOHATI PB HMI - (2024-2026). (Dok: Jurnas.net)

Oleh: Heni Ratnawati, M.Pt. 

Wakil Sekretaris Bidang Kajian dan Advokasi KOHATI PB HMI - (2024-2026)

Baca juga: Anas Urbaningrum Soroti Tren Penurunan Kepercayaan Publik terhadap Pemerintah, Beri Lima Saran untuk Presiden

 

Setiap 17 September, Korp HMI-Wati (KOHATI) memperingati hari lahirnya. Namun, Dies Natalis semestinya tidak hanya menjadi perayaan tentang usia. Juga menjadi momentum untuk berhenti sejenak, melihat perjalanan yang telah dilalui, sekaligus merefleksi tentang arah yang ingin dituju.

Lebih dari setengah abad perjalanan KOHATI telah mempertemukan organisasi ini dengan berbagai masa. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, KOHATI tumbuh dengan tantangan yang terus berubah.

Hari ini, perempuan hidup dalam ruang yang jauh lebih kompleks. Teknologi membuka kesempatan yang luas, tetapi pada saat yang sama menghadirkan tantangan baru. Ruang publik semakin terbuka, namun perempuan juga dituntut memiliki kemampuan untuk menjaga diri, mengelola tekanan, dan tetap memiliki pijakan nilai. Karena itu, membicarakan perempuan hari ini tidak cukup hanya berbicara tentang kecerdasan.

Ada kematangan emosional yang perlu dibangun. Ada kedalaman spiritual yang perlu dijaga serta ada tanggung jawab sosial yang pada akhirnya menuntut perempuan untuk membawa apa yang dipelajarinya menjadi sesuatu yang benar-benar bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Di titik inilah KOHATI memiliki peran yang penting. Kaderisasi perlu terus bergerak mengikuti zaman, tanpa kehilangan nilai yang menjadi khittah perjuangannya. KOHATI dapat menjadi ruang tempat perempuan bukan hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga bertumbuh sebagai manusia yang utuh.

Baca juga: Safari Ramadan KAHMI Jatim Ditutup di Kediri, 150 Alumni HMI Perkuat Konsolidasi Organisasi

Perempuan yang cerdas, tetapi tetap memiliki kepekaan. Perempuan yang matang dalam menghadapi dinamika kehidupan. Perempuan yang memiliki keberanian untuk hadir di tengah persoalan masyarakat.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah proses kaderisasi bukan hanya berapa banyak kader yang pernah mengikuti proses di dalamnya. Lebih jauh, ia dapat dilihat dari seberapa banyak kader yang kemudian mampu membawa manfaat ketika kembali ke tengah masyarakat.

KOHATI memiliki sejarah panjang untuk itu. Tantangan generasi hari ini adalah bagaimana warisan tersebut tidak berhenti sebagai sejarah, tetapi terus menemukan bentuk baru yang relevan.

Sebab perempuan yang dibutuhkan masa kini bukan hanya perempuan yang mampu mengikuti perubahan, tetapi perempuan yang mampu mengambil bagian dalam menciptakan perubahan.

Baca juga: Keliling 7 Cluster di Jatim, Safari Ramadan KAHMI Matangkan Persiapan Muswil Oktober 2026

Dies Natalis KOHATI akhirnya menjadi pengingat bahwa setiap generasi memiliki tugasnya masing-masing. Jika generasi terdahulu telah meletakkan fondasi, maka generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk memperluas makna perjuangan itu.

Bukan sekadar menjadi lebih tua, tetapi menjadi lebih bermakna. Bukan sekadar semakin besar, tetapi semakin berarti.

Selamat Dies Natalis KOHATI. Semoga perjalanan panjang ini terus melahirkan perempuan-perempuan yang cerdas, kokoh secara nilai, dan nyata kontribusinya bagi umat dan bangsa.

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru