Jurnas.net – Rumah Sakit Hewan (RSH) Banyuwangi memperluas layanan kesehatan hewan dengan membuka Unit Layanan Khusus Penyakit Dalam dan Bedah Hewan. Unit yang merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (Unair) tersebut diharapkan memperkuat posisi RSH Banyuwangi sebagai fasilitas kesehatan hewan rujukan.
Unit layanan itu berada di kompleks RSH Banyuwangi, Jalan RA Kartini Nomor 56. Kehadirannya melengkapi layanan kesehatan hewan yang sebelumnya telah tersedia sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap penanganan kasus hewan yang membutuhkan pemeriksaan dan tindakan lebih spesifik.
Baca juga: Liliane Foundation Dukung Banyuwangi Jadi Daerah Inklusif, 155 Anak Disabilitas Dapat Pendampingan
Ada lima bidang layanan yang tersedia, yakni penyakit dalam, bedah, reproduksi, nutrisi, dan patologi anatomi. Untuk menunjang pelayanan, unit tersebut dilengkapi sejumlah peralatan pemeriksaan, mulai dari hematology analyzer, pemeriksaan kimia darah, ultrasonografi (USG), X-Ray, pemeriksaan histopatologi, hingga pemeriksaan parasit. Layanan juga diperkuat tenaga dokter hewan dengan berbagai kompetensi.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, pengembangan unit tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan hewan sekaligus memperkuat RSH Banyuwangi sebagai fasilitas rujukan. "Unit tambahan ini melengkapi layanan kesehatan yang sebelumnya sudah ada di RSH Banyuwangi," kata Ipuk, Jumat, 25 September 2026.
Menurut Ipuk, keberadaan layanan khusus tersebut memiliki arti penting bagi Banyuwangi. Pasalnya, wilayah kabupaten tersebut berdekatan dengan tiga kawasan taman nasional yang menjadi habitat berbagai jenis fauna.
Dengan fasilitas dan tenaga medis yang lebih lengkap, RSH Banyuwangi diharapkan dapat mendukung penanganan satwa, termasuk ketika terjadi kasus kesehatan pada fauna yang membutuhkan tindakan medis. “Ini akan menunjang kinerja BKSDA dan teman-teman taman nasional terkait penanganan fauna. Kalau terjadi kasus terhadap hewan tertentu, harapan kami akan memudahkan dan mempercepat penanganannya,” ujar Ipuk.
Penguatan layanan tersebut tidak hanya ditujukan bagi hewan peliharaan masyarakat, tetapi juga berpotensi mendukung penanganan satwa yang membutuhkan layanan kesehatan veteriner melalui koordinasi dengan instansi terkait.
Dekan FIKKIA Universitas Airlangga, Dr. Rahadian Indarto Susilo, Sp.BS (K), mengatakan, unit tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat yang membutuhkan penanganan kesehatan hewan secara lebih spesifik. Menurut dia, sejumlah tindakan medis yang membutuhkan keahlian khusus dapat dilakukan di unit tersebut.
Baca juga: Pasar Banyuwangi Segera Beroperasi, 560 Pedagang Mulai Terima Lapak Hasil Revitalisasi
"Salah satu contohnya, unit ini bisa melayani operasi melahirkan bagi hewan yang tidak bisa melahirkan secara normal. Lalu ada juga operasi tumor atau patah tulang," ujarnya.
Untuk mendukung layanan tersebut, sedikitnya 10 dokter hewan akan terlibat sesuai bidang keahlian masing-masing. Mereka memiliki kompetensi antara lain di bidang bedah dan penyakit dalam veteriner, reproduksi veteriner, nutrisi veteriner, patologi anatomi veteriner, parasitologi veteriner, serta kesehatan masyarakat veteriner.
Dengan dukungan tersebut, masyarakat diharapkan tidak selalu harus membawa hewan yang membutuhkan penanganan khusus ke daerah lain.
Peresmian unit layanan khusus tersebut juga dirangkai dengan berbagai kegiatan pelayanan kesehatan hewan secara gratis dalam rangka Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190. Layanan gratis diberikan bagi hewan peliharaan masyarakat, khususnya kucing dan anjing.
Baca juga: Ribuan Pelari dari Aceh hingga Papua Ramaikan Soekarno Run di Banyuwangi
Layanan tersebut meliputi pemeriksaan kesehatan, pemberian vaksin, vitamin, serta obat cacing yang dikemas dalam Gerakan Obat Cacing untuk Kucing dan Anjing Terpadu dan Vaksinasi Rabies (GOCAT+R). Sebanyak 400 dosis vaksin rabies disiapkan dalam kegiatan tersebut.
Dari jumlah itu, sebanyak 250 dosis diberikan melalui layanan di RSH Banyuwangi. Sementara sisanya didistribusikan ke empat Puskeswan yang ditunjuk, yakni Puskeswan Blimbingsari, Gambiran, Genteng, dan Tegaldlimo.
Penguatan fasilitas kesehatan hewan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan veteriner, tetapi juga mendukung upaya pencegahan penyakit hewan menular dan menjaga kesehatan hewan di Banyuwangi.
Dengan bertambahnya layanan khusus, tenaga ahli, serta fasilitas pemeriksaan, RSH Banyuwangi diarahkan menjadi salah satu simpul layanan kesehatan hewan yang dapat menangani kasus secara lebih lengkap sekaligus mendukung kebutuhan konservasi satwa di wilayah Banyuwangi.
Editor : Risfil Athon