Jurnas.net - Ketua Umum DPP Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM), Ir. Izedrik Emir Moeis, M.Sc., menekankan pentingnya mengenalkan kembali pemikiran Bung Karno kepada generasi muda melalui pendidikan dan kebudayaan. Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan pada Kongres X GPM di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (28/10).
Emir menyampaikan bahwa pendidikan dan kebudayaan menjadi bagian penting dari program perjuangan GPM. Menurutnya, pelaksanaan program organisasi perlu dibangun melalui semangat gotong royong dan keterlibatan seluruh kader.
Baca juga: 5.000 Tumpeng Untuk Bung Karno: Simbol Cinta Rakyat dalam Haul ke-55 di Blitar
Ia menyoroti terbatasnya pemahaman generasi muda terhadap Marhaenisme. Menurut Emir, kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah bangsa, termasuk masa ketika pemikiran Bung Karno dan gerakan yang berlandaskan Marhaenisme mengalami tekanan politik selama puluhan tahun.
Karena itu, GPM memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan kembali Marhaenisme kepada generasi muda dengan bahasa yang mudah dipahami dan dekat dengan persoalan sehari-hari. Emir menekankan bahwa esensi Marhaenisme berkaitan erat dengan perjuangan melawan kemiskinan, ketimpangan, dan eksploitasi terhadap rakyat.
Pemikirannya mengenai Marhaenisme juga dituangkan dalam buku Marhaenisme: Visi Sosialisme Indonesia. Melalui pendidikan dan penguatan pemahaman ideologi, GPM diharapkan dapat menjaga kesinambungan pemikiran Bung Karno sekaligus menjadikannya relevan bagi generasi penerus.
Selain persoalan ideologi, Emir turut menyoroti situasi global yang penuh ketidakpastian, mulai dari konflik geopolitik hingga kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS. Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi perekonomian Indonesia dan kehidupan masyarakat, terutama apabila berujung pada kenaikan harga bahan bakar dan biaya kebutuhan lainnya.
Emir juga mengingatkan pentingnya memahami sejarah perjalanan bangsa, termasuk pengalaman GPM yang pernah mengalami tekanan politik dan dampaknya terhadap para kader. Sejarah tersebut, menurutnya, tidak boleh dilupakan agar generasi mendatang memahami tantangan yang pernah dihadapi dalam memperjuangkan ideologi dan cita-cita politik.
Menutup sambutannya, Emir menegaskan komitmen GPM untuk terus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kesetiaan pada Marhaenisme, menurutnya, harus diwujudkan melalui pengabdian kepada masyarakat, perjuangan melawan ketidakadilan, dan kontribusi nyata bagi bangsa.
Editor : Prabu Narashan