Jurnas.net - Gelombang demonstrasi yang berujung pada kerusuhan dan penjarahan rumah sejumlah politikus serta pejabat negara pada akhir Agustus lalu diyakini bukanlah aksi spontan masyarakat. Menurut pakar grafolog dan pengamat perilaku, Gusti Aju Dewi, rangkaian peristiwa itu tampak terlalu rapi untuk disebut sebagai kejadian organik.
“Pihak di balik layar jelas ada, meskipun saya tidak tahu siapa secara pasti. Namun logikanya sederhana: demo yang benar-benar murni dan spontan selalu kacau. Pesannya tidak seragam, aksinya acak, dan waktunya pun tak sinkron,” kata Gusti Aju, Sabtu, 2 November 2025.
Ia menduga, ada pihak yang menyusup dan memanfaatkan kemarahan publik sebagai bahan bakar untuk menciptakan kekacauan. Indikasinya, pola penjarahan dan serangan terhadap rumah para pejabat terlihat sistematis dan terkoordinasi, sementara pengamanan di beberapa lokasi justru minim.
“Mobilisasi massa berlangsung sangat rapi, seolah sudah dirancang untuk menjarah rumah-rumah tokoh politik dan pejabat. Ini bukan sekadar luapan emosi rakyat, tapi sinyal adanya operasi sosial yang terencana,” tegasnya.
Lebih jauh, Gusti Aju menyebut bahwa aksi penjarahan terhadap rumah Ahmad Sahroni, Uya Kuya, Eko Patrio, hingga mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani patut diduga sebagai bagian dari skenario besar yang digerakkan oleh disinformasi dan perang opini digital.
“Peristiwa akhir Agustus itu seharusnya menjadi wake-up call bagi kita semua. Kita tidak sedang menghadapi sekadar hoaks, tapi perang opini yang terstruktur, di mana masyarakat dijadikan bahan bakar emosi untuk mengguncang stabilitas bangsa,” paparnya.
Baca Juga : Comeback Ahmad Sahroni: Diserbu Emak-Emak Saat Wisuda Gelar Doktor Ilmu Hukum
Ia menjelaskan, ketika kemarahan publik dimanipulasi melalui DFK (Disinformasi, Fitnah, Kebencian), batas antara benar dan salah menjadi kabur. Publik yang termakan provokasi merasa tindakannya sah, padahal melanggar hukum.
“Akibatnya, muncul pembenaran atas penjarahan dan kekerasan, seolah-olah itu ekspresi kekecewaan rakyat. Padahal, ini justru bagian dari strategi besar untuk menciptakan amarah massal yang diarahkan pada target politik tertentu,” lanjutnya.
Menurut Gusti Aju, sosok seperti Ahmad Sahroni, yang selama ini dikenal aktif membantu warga, menjadi korban framing dan dijadikan kambing hitam dalam narasi rekayasa tersebut.
“Inilah bahayanya disinformasi ketika moral publik dibajak. Orang merasa tindakannya benar, padahal sudah melanggar hukum,” ujarnya menegaskan.
Ia juga mengingatkan bahwa segala bentuk kekerasan dan penjarahan tetap merupakan tindak kriminal yang harus diproses secara hukum. Jika ada anggota dewan atau pejabat yang dinilai bermasalah, sanksinya harus berdasarkan mekanisme hukum yang sah, bukan tekanan massa.
“Soal sanksi atau pencopotan jabatan, seharusnya melalui pembuktian hukum dan mekanisme formal, bukan amarah publik. Jika kita biarkan emosi menggantikan hukum, bangsa ini akan hancur perlahan,” pungkasnya.
Editor : Redaksi
Berita Terbaru
Minggu, 01 Nov 2026 10:49 WIB
Minggu, 01 Nov 2026 10:49 WIB
Oleh: Wakit Nurohman Advokat dan Mahasiswa Magister Hukum Universitas Surabaya (Ubaya) Putusan Mahkamah Agung Nomor 742 K/TUN/2026 mengenai Surat Keterangan…
Sabtu, 31 Okt 2026 19:32 WIB
Sabtu, 31 Okt 2026 19:32 WIB
Jurnas.net – Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, H. Ali Mufthi, mendukung upaya pemulangan Jimat Klontong, pusaka bersejarah yang menjadi bagian dari identitas …
Sabtu, 31 Okt 2026 18:21 WIB
Sabtu, 31 Okt 2026 18:21 WIB
Oleh: Prof. Dr. Dian Anita Nuswantara, S.E., M.Si., Ak., CA, CIPSAS Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Perekonomian tidak hanya bergerak melalui…
Sabtu, 31 Okt 2026 13:14 WIB
Sabtu, 31 Okt 2026 13:14 WIB
Jurnas.net - PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) terus menunjukkan kepeduliannya terhadap kebutuhan dasar masyarakat melalui program Tanggung Jawab…
Sabtu, 31 Okt 2026 11:05 WIB
Sabtu, 31 Okt 2026 11:05 WIB
Jurnas.net – Penanganan dugaan peredaran rokok ilegal oleh Polres Probolinggo menjadi sorotan setelah dua orang yang dipersoalkan massa demonstran disebut d…
Jumat, 30 Okt 2026 19:42 WIB
Jumat, 30 Okt 2026 19:42 WIB
Jurnas.net – PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) bergerak cepat menangani insiden kebakaran yang terjadi di area Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (…
Jumat, 30 Okt 2026 17:10 WIB
Jumat, 30 Okt 2026 17:10 WIB
Jurnas.net – Memulai bisnis kopi dari pasar lokal, Aryasetya Kanaka Dumadi berhasil mengembangkan usahanya hingga menembus pasar internasional. Wisudawan p…
Jumat, 30 Okt 2026 10:27 WIB
Jumat, 30 Okt 2026 10:27 WIB
Jurnas.net – Direktorat Siber Polda Jawa Timur mengungkap dugaan penyalahgunaan data kependudukan berupa kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK) y…
Kamis, 29 Okt 2026 20:35 WIB
Kamis, 29 Okt 2026 20:35 WIB
Jurnas.net - I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan atau Alit Kelakan terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Marhaenis (DPP GPM) periode…
Kamis, 29 Okt 2026 17:21 WIB
Kamis, 29 Okt 2026 17:21 WIB
Jurnas.net – Dugaan aliran dana pungutan liar (pungli) senilai Rp 687,5 juta kepada mantan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur, Nur K…
Rabu, 28 Okt 2026 21:55 WIB
Rabu, 28 Okt 2026 21:55 WIB
Jurnas.net - Penguatan jaringan transmisi listrik menjadi kunci keberhasilan transisi energi Indonesia. Pembangunan pembangkit energi terbarukan harus diiringi…
Rabu, 28 Okt 2026 20:56 WIB
Rabu, 28 Okt 2026 20:56 WIB
Jurnas.net - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan pentingnya menghidupkan kembali pemikiran Bung Karno dan menempatkan Marhaenisme…
Rabu, 28 Okt 2026 18:48 WIB
Rabu, 28 Okt 2026 18:48 WIB
Jurnas.net - Ketua Umum DPP Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM), Ir. Izedrik Emir Moeis, M.Sc., menekankan pentingnya mengenalkan kembali pemikiran Bung Karno…
Selasa, 27 Okt 2026 17:51 WIB
Selasa, 27 Okt 2026 17:51 WIB
Jurnas.net – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, menilai penanganan pengangguran tidak cukup hanya mengandalkan program bursa kerja atau j…
Selasa, 27 Okt 2026 14:33 WIB
Selasa, 27 Okt 2026 14:33 WIB
Jurnas.net - Kekhawatiran aksinya terbongkar diduga menjadi motif Dwi Bagus Martono (40) membunuh anak tirinya, AGM, yang baru berusia empat tahun di Kota…