Jurnas.net - Di tengah meningkatnya kebutuhan logistik cepat dan presisi di era perdagangan digital, Surabaya kini memasuki babak baru sebagai episentrum logistik udara Indonesia Timur. Peresmian DHL Express Surabaya Gateway and Service Centre, Kamis, 4 Desember 2025, bukan hanya menyimbolkan ekspansi perusahaan global, tetapi menggeser titik gravitasi logistik nasional yang selama ini bertumpu pada Jakarta.
Fasilitas seluas 10.000 m² dengan investasi lebih dari EUR 9 juta ini hadir dengan konsep berbeda: menggabungkan operasi gateway dan service center dalam satu lokasi terpadu. Model ini memotong rantai proses yang selama bertahun-tahun membuat distribusi barang di kawasan timur Indonesia lebih lambat dibanding barat.
Surabaya Gateway dirancang bukan semata untuk mempercepat pengiriman, tetapi untuk menciptakan pusat pergerakan barang baru yang melayani kawasan industri Jatim, Bali, Nusa Tenggara hingga sebagian Kalimantan.
Dengan jarak hanya 15 menit dari Bandara Juanda, fasilitas ini berfungsi layaknya mini air hub, konsep yang selama ini hanya dimiliki Jakarta dan Singapura.
Kunci transformasi ini adalah tersambungnya Surabaya Gateway dengan South Asia Hub di Singapura melalui penerbangan khusus DHL, sehingga waktu transit ekspor-impor dipangkas signifikan.
“Indonesia adalah salah satu dari 20 pasar dengan pertumbuhan tercepat. Surabaya Gateway memperkuat konektivitas intra-Asia dan antar benua,” kata Senior VP Network Operations & Aviation-Asia Pacific DHL, Peter Bardens, di sela peresmian.
Banyak industri manufaktur besar beroperasi di Surabaya, Gresik, Pasuruan, dan Malang—mulai tekstil, furnitur, kulit, hingga consumer goods. Selama ini, sebagian besar arus ekspor mereka masih melalui gateway Jakarta karena kapasitas layanan logistik udara di wilayah timur belum setara. Dengan hadirnya fasilitas ini, arus logistik dari Jatim tak perlu lagi “ke barat dulu” sebelum terbang ke pasar global.
Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak, menegaskan bahwa Surabaya Gateway menjadi pengungkit besar transformasi rantai pasok nasional. "Ini bukan hanya soal pengiriman cepat. Ini tentang bagaimana Jawa Timur menjadi Gerbang Baru Nusantara, yang menyatukan distribusi timur dan barat dan memungkinkan pelaku usaha bersaing global,” kata Emil.
Surabaya Gateway dilengkapi fasilitas modern, yakni Regulated Agent (RA) onsite untuk pemeriksaan keamanan kargo udara, Unit Load Device (ULD) build-up, area bonded impor-ekspor, proses loading langsung dari fasilitas ke pesawat, dan sistem transfer langsung antarmoda.
Semua proses yang biasanya terpencar kini berada dalam satu bangunan, menurunkan risiko keterlambatan dan mempercepat SLA (service level agreement).
DHL memproyeksikan pertumbuhan volume sebesar 2% per tahun, didorong meningkatnya permintaan logistik ekspres dari sektor e-commerce, ekspor UKM, dan perdagangan internasional.
Jatim menjadi provinsi dengan peran ekonomi strategis, yaitu berkontribusi ±15% PDB nasional, ekspor nonmigas tumbuh stabil, investasi asing meningkat, dan konsumsi rumah tangga kuat. Kinerja ini membuat banyak investor, termasuk DHL, memandang Jatim sebagai pasar logistik masa depan.
Senior Technical Advisor DHL Express Indonesia, Ahmad Mohamad, menyebut fasilitas ini sebagai katalis pertumbuhan ekonomi. "Fasilitas ini adalah infrastruktur strategis yang mempercepat arus perdagangan dan memperkuat daya saing regional. Kami percaya masa depan Indonesia ada di pusat logistik baru seperti Surabaya," kata Ahmad.
Sebagai bagian dari DHL Group yang menghasilkan EUR 84,2 miliar pada 2024, perusahaan menargetkan emisi net-zero pada 2050. Surabaya Gateway disiapkan sebagai fasilitas yang dapat mengadopsi teknologi hijau, mulai dari kendaraan listrik hingga sistem energi yang lebih efisien.
Dengan tujuh gateway yang beroperasi di Indonesia, DHL memastikan UMKM hingga industri besar mendapatkan akses cepat ke pasar internasional, mendukung visi Indonesia 2045 sebagai pemain utama logistik global.
Editor : Andi Setiawan