Jurnas.net - Jawa Timur kembali menegaskan posisinya sebagai provinsi rujukan pembangunan desa nasional. Dalam ajang Festival Bangun Desa Bangun Indonesia 2025, perwakilan desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) dari Jatim memborong tujuh penghargaan nasional dari berbagai kategori strategis, mulai dari penguatan ekonomi desa, inovasi pangan, hingga revitalisasi budaya.
Capaian ini bukan sekadar kemenangan lomba, melainkan cerminan dari ekosistem kebijakan desa yang matang dan berkelanjutan di Jawa Timur. Dari Malang, Banyuwangi, Gresik, Blitar hingga daerah tapal kuda, desa-desa Jatim menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak lagi berbasis proyek jangka pendek, tetapi bertumpu pada kemandirian ekonomi, inovasi lokal, dan kolaborasi masyarakat.
Adapun tujuh penghargaan yang diraih Jawa Timur meliputi:
Juara 1 Duta BUMDesa Bersama 2025 – Suyanto, Direktur BUMDesa Bersama Kawi Indah LKD, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.
Juara 5 Duta BUMDesa Bersama 2025 – Eko Wisnu W, Direktur BUMDesa Gondowangi Kaligondo, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.
Juara 3 BUMDesa Inspiratif – BUMDesa Bersama Singosari LKD, Kabupaten Malang.
Juara 2 BUMDesa Inspiratif – BUMDesa Cipta Sejahtera Yosowilangun, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.
Juara 2 Inovasi Ketahanan Pangan Desa – Desa Kemiri, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.
Juara Favorit Lomba Desa Ekspor – BUMDesa Karya Mandiri Ngoran, Kabupaten Blitar.
Juara Kategori II Revitalisasi Budaya Desa Wisata Nusantara – Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi.
Penghargaan tersebut diserahkan bertepatan dengan Peringatan Hari Desa Nasional 2026 di Lapangan Desa Butuh, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (15/1/2026), yang dihadiri langsung oleh Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto.
Dalam momentum itu, Menteri Desa memimpin pembacaan Deklarasi Boyolali, yang menegaskan komitmen desa sebagai motor utama pembangunan nasional, selaras dengan Asta Cita Presiden, khususnya membangun dari desa dan dari bawah demi pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
Terpisah, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa prestasi Jatim di tingkat nasional tidak lahir secara instan, melainkan buah dari kebijakan yang konsisten membangun Desa Mandiri Berkelanjutan.
“Desa adalah ujung tombak pembangunan nasional. Jawa Timur saat ini memiliki 4.716 desa mandiri, terbanyak di Indonesia. Tantangan berikutnya adalah memastikan desa-desa mandiri ini tumbuh menjadi desa berkelanjutan,” ujar Khofifah.
Menurutnya, desa berkelanjutan bukan hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga mampu menjaga keseimbangan sosial, lingkungan, pendidikan, dan kesehatan masyarakatnya. “Ketika desa mampu mengoptimalkan potensi dan sumber daya lokalnya, maka kesejahteraan akan tumbuh dari bawah. Dari desa inilah Indonesia Maju 2045 bisa dimulai,” tegasnya.
Berdasarkan Kepmendes PDTT Nomor 343 Tahun 2025, Jawa Timur menyumbang sekitar 23 persen dari total desa mandiri nasional, menjadikannya kontributor terbesar percepatan pembangunan desa di Indonesia.
Untuk memperkuat fondasi tersebut, Pemprov Jatim menjalankan sejumlah program strategis, seperti Desa Berdaya, Desa Wisata Cerdas Mandiri dan Sejahtera (Dewi Cemara), hingga Desa Devisa yang membuka akses ekspor bagi produk unggulan desa.
“Pembangunan desa hari ini harus adaptif, kolaboratif, dan berorientasi masa depan. Desa tidak boleh tertinggal, justru harus menjadi pusat pertumbuhan baru,” pungkas Khofifah.
Editor : Amal