Jurnas.net - Kearifan lokal Pulau Bawean kembali menegaskan eksistensinya di tingkat nasional. Konsep arsitektur Dhurung Bawean, rumah tradisional khas masyarakat Bawean, mencuri perhatian publik melalui karya bertajuk “Dhurung Argapana” yang sukses meraih Juara 1 BTN Housingpreneur 2025 kategori Rumah Nusantara - Business Ideation (Mahasiswa).
Karya tersebut digagas oleh tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan diumumkan sebagai pemenang pada Sabtu, 31 Januari 2026. Lebih dari sekadar prestasi akademik, capaian ini menjadi momentum strategis bagi Kabupaten Gresik untuk menegaskan ulang arah identitas budaya dan arsitektur daerah di tengah kuatnya citra sebagai kawasan industri dan pelabuhan nasional.
Menanggapi prestasi tersebut, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, menilai Dhurung Bawean menawarkan narasi alternatif bagi pembangunan Gresik modern, tetapi tidak tercerabut dari akar budaya.
“Di tengah wajah Gresik yang dikenal sebagai daerah industri besar, Dhurung Bawean menghadirkan pesan bahwa modernitas tidak harus menyingkirkan kearifan lokal,” kata Yahya, Senin, 2 Februari 2026.
Menurut Yahya, Dhurung Bawean selama ini dikenal sebagai rumah panggung sederhana dengan ruang depan terbuka yang bersifat multifungsi. Namun di balik kesederhanaannya, terdapat filosofi sosial yang kuat. "Dalam tradisi masyarakat Bawean, dhurung bukan sekadar bagian bangunan. Ia adalah ruang sosial, tempat menerima tamu, bermusyawarah, menyelesaikan persoalan kampung, sekaligus mempererat relasi antarwarga. Nilai keterbukaan, kesetaraan, dan kebersamaan inilah yang menjadi ruh utama Dhurung Bawean,” jelasnya.
Melalui konsep Dhurung Argapana, lanjut Yahya, nilai-nilai tersebut berhasil diterjemahkan ke dalam desain hunian modern yang adaptif terhadap iklim tropis, hemat energi, serta ramah lingkungan. Optimalisasi ventilasi alami, pencahayaan maksimal, serta penggunaan material lokal menjadikan konsep ini relevan dengan isu arsitektur berkelanjutan (sustainable architecture) yang kini menjadi perhatian dunia.
“Ini membuktikan bahwa arsitektur tradisional Nusantara, termasuk Dhurung Bawean, bukan warisan masa lalu yang usang, tetapi memiliki daya saing konseptual hingga level global,” tegasnya.
Dhurung Bawean, rumah tradisional khas masyarakat Bawean. (Istimewa)
Tokoh asal Bawean tersebut juga memberikan dorongan kebijakan yang tegas. Ia menilai Dhurung Bawean bukan sekadar artefak budaya, melainkan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang layak diangkat menjadi ikon dan identitas arsitektur resmi Kabupaten Gresik.
“Dhurung Bawean adalah identitas kultural Gresik, khususnya Pulau Bawean. Sudah saatnya pemerintah daerah menjadikannya sebagai langgam arsitektur daerah yang hadir di bangunan publik, fasilitas pelayanan, hingga kawasan pariwisata,” katanya.
Menurut politisi Golkar itu, penguatan identitas arsitektur lokal justru menjadi pembeda strategis di tengah dominasi wajah industrial Gresik. Integrasi unsur Dhurung Bawean pada gedung pemerintahan, terminal, pelabuhan, rest area, hingga destinasi wisata akan memperkuat citra Gresik sebagai daerah maju yang tetap berakar pada budaya.
“Gresik tidak boleh kehilangan jati diri. Dengan menghadirkan Dhurung Bawean dalam desain modern, Gresik bisa tampil sebagai daerah industri yang berbudaya, berkarakter, dan memiliki narasi pembangunan yang kuat,” ujarnya.
Lebih jauh, Yahya mendorong adanya Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur penggunaan elemen arsitektur Dhurung Bawean pada bangunan milik pemerintah daerah serta kawasan strategis pariwisata. Menurutnya, kebijakan ini penting untuk memastikan konsistensi arah pembangunan sekaligus menciptakan kepastian bagi pelaku ekonomi kreatif.
“Kalau ada Perdanya, dampaknya berlapis. Ada kebanggaan masyarakat, arah pembangunan yang jelas, sekaligus efek ekonomi bagi arsitek lokal, perajin, UMKM material bangunan, hingga sektor pariwisata budaya,” pungkas politisi dari Dapil Jawa Timur 8 (Kab. Jombang, Kab. Madiun, Kab. Mojokerto, Kab. Nganjuk, Kota Madiun, dan Kota Mojokerto) itu.
Untuk diketahui, Pulau Bawean sendiri memiliki potensi pariwisata yang besar, mulai dari wisata bahari, budaya, hingga religi. Namun hingga kini, identitas arsitektural Bawean belum terintegrasi secara kuat dalam branding pariwisata Kabupaten Gresik. Penguatan Dhurung Bawean sebagai ikon visual dinilai dapat memperkaya pengalaman wisata sekaligus memperpanjang lama tinggal wisatawan.
Dengan pendekatan tersebut, Dhurung Bawean tidak hanya menjadi simbol masa lalu, melainkan aset strategis masa depan, fondasi pembangunan Gresik yang berkelanjutan, berkarakter, dan berdaya saing, baik di tingkat nasional maupun global.
Editor : Amal