Dhurung Bawean dalam Perspektif Ekokultural: Model Lumbung Pangan Berbasis Kearifan Lokal

author jurnas.net

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Dhurung Bawean merupakan warisan arsitektur tradisional dari Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. (Disparekrafbudpora.gresikkab.go.id)
Dhurung Bawean merupakan warisan arsitektur tradisional dari Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. (Disparekrafbudpora.gresikkab.go.id)

Oleh: Afaf Ahmad El Syarief

(Penulis adalah Siswa Kelas XI MAN 2 Kota Malang)

Setiap menjelang Hari Raya Idulfitri, ada satu perjalanan yang selalu saya nantikan: pulang ke Pulau Bawean. Kedua orang tua saya berasal dari pulau kecil di tengah Laut Jawa ini. Bagi kami, mudik bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan cara menjaga ikatan dengan tanah asal, keluarga besar, serta memori masa kecil yang secara perlahan membentuk cara pandang saya terhadap kehidupan.

Di rumah orang tua saya di Bawean, berdiri tiga bangunan dhurung. Sejak kecil, bangunan-bangunan itu sudah menjadi bagian dari keseharian keluarga kami. Dhurung berfungsi sebagai tempat menyimpan padi, tempat duduk di sore hari, sekaligus ruang bercengkerama bersama keluarga dan tetangga.

Dahulu, saya memandangnya sebagai bagian biasa dari rumah. Namun, setelah mengikuti studi lapangan bersama tim dengan pendampingan PT Riset Juara, saya mulai memahami bahwa dhurung bukan sekadar bangunan fisik, melainkan representasi pengetahuan lokal yang bernilai tinggi.

Pulau Bawean secara administratif berada di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Sebagai wilayah kepulauan, Bawean memiliki keterbatasan akses transportasi dan distribusi barang, termasuk bahan pangan. Kondisi geografis ini menuntut masyarakatnya untuk hidup dengan perhitungan yang matang: menentukan waktu tanam, mengatur pola konsumsi, serta menyimpan hasil panen agar dapat mencukupi kebutuhan hingga musim berikutnya.

Dari kebutuhan itulah dhurung hadir dan bertahan hingga kini. Dhurung merupakan bangunan terpisah dari rumah utama yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan padi. Material penyusunnya berasal dari lingkungan sekitar, seperti kayu dan bambu, sehingga ramah lingkungan dan mudah diperoleh.

Meski tampak sederhana, dhurung dirancang dengan pertimbangan ekologis yang matang. Lantainya dibuat lebih tinggi dari tanah untuk menghindari kelembapan, sistem sirkulasi udaranya baik, serta strukturnya mampu menjaga padi tetap kering dan aman dari serangan hama.

Selama melakukan observasi lapangan di beberapa desa di Bawean, saya menemukan bahwa dhurung masih digunakan dan dirawat dengan baik. Masyarakat tidak membangunnya sebagai simbol budaya semata, melainkan sebagai bagian dari sistem hidup sehari-hari.

Pengetahuan tentang cara membangun, mengisi, dan merawat dhurung diwariskan secara turun-temurun melalui praktik langsung dan pengalaman kolektif, bukan melalui buku atau pelatihan formal.

Di rumah orang tua saya sendiri, dhurung juga memiliki fungsi sosial yang kuat. Tamu kerap disambut di dhurung sebelum masuk ke rumah utama. Obrolan ringan, diskusi keluarga, hingga musyawarah kecil sering berlangsung di ruang ini. Dhurung menjadi ruang yang terbuka, hangat, dan egaliter. Dari sini saya menyadari bahwa fungsi dhurung tidak berhenti pada urusan pangan, tetapi juga berperan dalam menjaga kohesi sosial dan budaya masyarakat Bawean.

Pengalaman personal ini semakin menemukan maknanya ketika dikaitkan dengan pendekatan ekokultural. Dhurung lahir dari relasi yang erat antara manusia, lingkungan, dan budaya. Ia merupakan hasil adaptasi masyarakat Bawean terhadap kondisi alam pulau yang terpisah dari daratan utama, dengan segala keterbatasan dan tantangan yang menyertainya.

Pulau Bawean sejatinya memiliki tanah yang subur dan kondisi alam yang mendukung pertanian. Namun, keterbatasan distribusi membuat masyarakatnya tidak berorientasi pada produksi berlebihan. Mereka menanam secukupnya, mengonsumsi seperlunya, dan menyimpan sisanya sebagai cadangan. Dhurung menjadi bagian penting dari sistem tersebut—sebuah mekanisme sederhana namun efektif dalam menjaga ketersediaan pangan dan menghadapi masa-masa sulit.

Berdasarkan studi lapangan yang kami lakukan, saya menyimpulkan bahwa dhurung merupakan bentuk kesiapsiagaan masyarakat Bawean dalam menjaga ketahanan pangan berbasis kearifan lokal. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan kedua tentang penghapusan kelaparan dan pencapaian ketahanan pangan.

Sebagai generasi muda yang memiliki keterikatan langsung dengan Bawean, saya memandang dhurung sebagai warisan budaya yang masih hidup dan relevan. Ia mengajarkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu harus dibangun melalui teknologi tinggi atau sistem industri besar, tetapi dapat tumbuh dari pengetahuan lokal, kebiasaan sehari-hari, serta hubungan yang selaras antara manusia dan lingkungannya. Di tengah tantangan krisis pangan global saat ini, pengalaman masyarakat Bawean melalui dhurung layak mendapat perhatian lebih luas dan dijadikan bahan pembelajaran bersama.

Berita Terbaru

Direktur PT BPI Ajukan Eksepsi Kasus Wire Rope Tanpa SNI, Kuasa Hukum: Ini Persoalan Administratif

Direktur PT BPI Ajukan Eksepsi Kasus Wire Rope Tanpa SNI, Kuasa Hukum: Ini Persoalan Administratif

Senin, 10 Agu 2026 16:27 WIB

Senin, 10 Agu 2026 16:27 WIB

Jurnas.net – Perkara dugaan perdagangan tali kawat baja atau wire rope tanpa Sertifikat Produk Penggunaan Tanda Standar Nasional Indonesia (SPPT SNI) memasuki b…

PDIP di Bawah Gerindra dalam Survei IPO, Hasto Minta Kader Tak Terlena Elektabilitas

PDIP di Bawah Gerindra dalam Survei IPO, Hasto Minta Kader Tak Terlena Elektabilitas

Senin, 10 Agu 2026 15:17 WIB

Senin, 10 Agu 2026 15:17 WIB

Jurnas.net – Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto meminta kader partainya tidak menjadikan angka elektabilitas sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan p…

PKDI Gresik Libas Bangkalan 4-1 di PKDI Cup II, Modal Hadapi Sidoarjo

PKDI Gresik Libas Bangkalan 4-1 di PKDI Cup II, Modal Hadapi Sidoarjo

Senin, 10 Agu 2026 07:19 WIB

Senin, 10 Agu 2026 07:19 WIB

Jurnas.net – Persaudaraan Kepala Desa Indonesia (PKDI) Kabupaten Gresik mengawali kiprahnya di Turnamen Sepak Bola PKDI Cup II 2026 dengan kemenangan m…

Sederet Muka Baru Skuad PSS Sleman, Ini Daftarnya

Sederet Muka Baru Skuad PSS Sleman, Ini Daftarnya

Minggu, 09 Agu 2026 10:06 WIB

Minggu, 09 Agu 2026 10:06 WIB

Jurnas.net - PSS Sleman memperkenalkan tim baru atay launching skuad untuk mengarungi kompetisi Super League musim 2026/2027 di Stadion Maguwoharjo Kabupaten Sl…

Polda Jatim Tangkap Pembunuh Nenek 79 Tahun di Pasuruan, Ternyata Kerabat Korban

Polda Jatim Tangkap Pembunuh Nenek 79 Tahun di Pasuruan, Ternyata Kerabat Korban

Jumat, 07 Agu 2026 18:46 WIB

Jumat, 07 Agu 2026 18:46 WIB

Jurnas.net – Pelarian pria berinisial YA (35), tersangka pembunuhan terhadap Nurami (79), warga Dusun Talang Lor, Desa Winongan Kidul, Kecamatan Winongan, K…

Yusuf Ekodono dan Anang Maruf Gabung Soekarno Cup 2026, Siap Cari Bibit Baru Timnas Indonesia

Yusuf Ekodono dan Anang Maruf Gabung Soekarno Cup 2026, Siap Cari Bibit Baru Timnas Indonesia

Jumat, 07 Agu 2026 17:49 WIB

Jumat, 07 Agu 2026 17:49 WIB

Jurnas.net – Turnamen sepak bola usia muda Soekarno Cup U-17 2026 mendapat suntikan semangat dari dua legenda Timnas Indonesia, Yusuf Ekodono dan Anang Maruf. K…