Gus Lilur: Muktamar NU Harus Bersih dari Intervensi Politik, Jangan Jadikan Jam’iyah Alat Kekuasaan

author Kurniawan

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, saat bertemu Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar. (Dok: Jurnas.net)
HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, saat bertemu Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar. (Dok: Jurnas.net)

Jurnas.net – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama, suara kritis datang dari HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur. Ia mengingatkan bahwa forum tertinggi organisasi tersebut tidak boleh tercemar kepentingan politik praktis yang berpotensi merusak marwah keulamaan.

Menurut Gus Lilur, muktamar kali ini bukan sekadar agenda rutin lima tahunan, melainkan momentum penting yang akan menentukan arah masa depan NU, apakah tetap berada di jalur keilmuan para ulama atau justru semakin terseret dalam pusaran kekuasaan.

“NU ini didirikan oleh para ulama besar dengan fondasi ilmu dan akhlak, bukan untuk menjadi alat kepentingan kekuasaan,” kata Gus Lilur, Rabu, 15 April 2026.

Ia menilai, gejala kaburnya batas antara organisasi keagamaan dan politik semakin nyata dalam dinamika internal NU belakangan ini. Sejumlah nama yang memiliki latar belakang kuat di politik disebutnya ikut mempertegas kekhawatiran tersebut.

Gus Lilur bahkan mendorong evaluasi terbuka terhadap kepemimpinan Yahya Cholil Staquf demi menjaga arah organisasi tetap berada di rel keulamaan. “Ini bukan soal pribadi, tapi soal marwah. NU harus dijaga agar tidak menjadi panggung politisi. Kalau dibiarkan, kepercayaan umat bisa terkikis,” ujarnya.

Ia juga menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “gus-gus nanggung”, yakni figur yang memanfaatkan NU sebagai legitimasi sosial untuk kepentingan pribadi maupun politik. “Kita punya tradisi besar pesantren, bahtsul masail, khazanah keilmuan. Tapi yang tampil justru sering bukan yang paling alim, melainkan yang paling dekat dengan kekuasaan,” katanya kritis.

Menurutnya, NU tidak kekurangan tokoh dengan kapasitas keulamaan dan intelektualitas mumpuni. Ia menyebut sejumlah nama yang dinilai layak menjadi rujukan kepemimpinan berbasis keilmuan, seperti Nasaruddin Umar, Said Aqil Siradj, Abdus Salam Shohib, Yusuf Chudlory, Zulfa Mustofa, hingga Bahauddin Nursalim. “NU ini kaya tokoh. Jangan sampai yang muncul itu-itu saja karena faktor politik,” tegasnya.

Gus Lilur menekankan bahwa muktamar harus menjadi momentum pemurnian organisasi dari kepentingan pragmatis. Ia meminta peserta muktamar berani mengambil sikap moral dengan memilih pemimpin yang benar-benar berangkat dari tradisi keilmuan. “Sudah saatnya kita bilang cukup pada pengurus yang haus kekuasaan. NU bukan batu loncatan politik. Kalau mau berpolitik, silakan di partai, jangan bawa-bawa NU,” ujarnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa independensi NU merupakan kunci agar organisasi tetap menjadi penyejuk dan penuntun umat. Jika terlalu dekat dengan kekuasaan, peran moral tersebut berpotensi tergerus. “NU harus berdiri di atas semua golongan, bukan menjadi bagian dari kepentingan tertentu,” katanya.

Ia juga mendorong agar muktamar mengembalikan fokus pada penguatan ekosistem intelektual mulai dari pesantren, forum bahtsul masail, hingga pengembangan pemikiran Islam yang kontekstual. “Kalau NU kuat di ilmu, otomatis akan dihormati. Tapi kalau sibuk di politik, lama-lama hanya akan diperalat,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Gus Lilur menegaskan bahwa muktamar kali ini merupakan ujian sejarah bagi NU. Ia berharap para kiai dan ulama mampu mengambil keputusan yang berpihak pada masa depan jam’iyah, bukan kepentingan jangka pendek.

“Ini bukan soal hari ini saja, ini soal masa depan NU dan umat. Kita mau kembali ke jalan ulama, atau terus terseret arus kekuasaan itu yang sedang dipertaruhkan,” pungkasnya.

Berita Terbaru

Nasdem DIY Tuntut Tempo Sajikan Pemberitaan Berimbang

Nasdem DIY Tuntut Tempo Sajikan Pemberitaan Berimbang

Rabu, 15 Apr 2026 06:12 WIB

Rabu, 15 Apr 2026 06:12 WIB

Jurnas.net - DPW Partai Nasdem Daerah istimewa Yogyakarta (DIY) membantah isi pemberitaan Tempo berjudul “PT Nasdem Indonesia Raya Tbk,”. Isi di dalam karya ter…

Pemkot Surabaya Hukum Pelaku Vandalisme, Empat Pemuda Dikerahkan Layani ODGJ di Liponsos

Pemkot Surabaya Hukum Pelaku Vandalisme, Empat Pemuda Dikerahkan Layani ODGJ di Liponsos

Selasa, 14 Apr 2026 15:43 WIB

Selasa, 14 Apr 2026 15:43 WIB

Jurnas.net — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menunjukkan sikap tegas terhadap aksi perusakan estetika kota. Empat pemuda pelaku vandalisme di kawasan Viaduk G…

ASN Anak Buah Khofifah Terancam Dipecat Usai Terbukti Selingkuh, BKD Jatim Tunggu Putusan Inkrah

ASN Anak Buah Khofifah Terancam Dipecat Usai Terbukti Selingkuh, BKD Jatim Tunggu Putusan Inkrah

Selasa, 14 Apr 2026 13:29 WIB

Selasa, 14 Apr 2026 13:29 WIB

Jurnas.net – Skandal moral mengguncang birokrasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Badan Pengelolaan Keuangan d…

Arkeolog Desak Pemkab Gresik Serius Lestarikan Dhurung Bawean yang Terancam Punah

Arkeolog Desak Pemkab Gresik Serius Lestarikan Dhurung Bawean yang Terancam Punah

Selasa, 14 Apr 2026 11:05 WIB

Selasa, 14 Apr 2026 11:05 WIB

Jurnas.net - Meski telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada 2024, eksistensi Dhurung Bawean justru dinilai masih berada di ujung ancaman.…

Berburu Batik Otentik, Pusat Batik Banyuwangi Jadi Etalase Budaya dan Ekonomi Kreatif

Berburu Batik Otentik, Pusat Batik Banyuwangi Jadi Etalase Budaya dan Ekonomi Kreatif

Selasa, 14 Apr 2026 10:04 WIB

Selasa, 14 Apr 2026 10:04 WIB

Jurnas.net – Kain batik bukan sekadar busana bagi masyarakat Banyuwangi, melainkan representasi identitas budaya yang sarat makna. Kini, akses terhadap wastra k…

PN Surabaya Paksakan Eksekusi Tanpa Inkracht, Ahli Waris Sebut Praktik Hukum di Surabaya Cacat Keadilan

PN Surabaya Paksakan Eksekusi Tanpa Inkracht, Ahli Waris Sebut Praktik Hukum di Surabaya Cacat Keadilan

Selasa, 14 Apr 2026 09:53 WIB

Selasa, 14 Apr 2026 09:53 WIB

Jurnas.net - Aroma ketidakadilan menyeruak dari rencana eksekusi paksa sebuah rumah di Jalan Rungkut Asri Barat X No. 16, Surabaya, Selasa, 14 April 2016.…