Pansus DPRD Kuliti Bobrok BUMD Jatim: Ketergantungan Ekstrem, Aset Terbengkalai dan Kinerja Amburadul

author Insani

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Juru Bicara Pansus BUMD DPRD Jawa Timur, Abdullah Abu Bakar. (Insani/Amal)
Juru Bicara Pansus BUMD DPRD Jawa Timur, Abdullah Abu Bakar. (Insani/Amal)

Jurnas.net - kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jawa Timur terkuak dalam pembahasan Panitia Khusus (Pansus) DPRD Jatim. Alih-alih menjadi mesin penggerak ekonomi daerah, sebagian besar BUMD justru dinilai gagal menjalankan fungsi strategisnya.

Ketimpangan kontribusi, lemahnya tata kelola, hingga indikasi moral hazard menjadi potret buram yang tak lagi bisa ditutup dengan laporan administratif.

Juru Bicara Pansus BUMD DPRD Jawa Timur, Abdullah Abu Bakar, secara tegas menyebut bahwa struktur BUMD saat ini menunjukkan ketergantungan yang sangat berbahaya pada satu entitas: Bank Jatim.

“Dari total dividen Rp488,1 miliar, sekitar 86 persen atau lebih dari Rp420 miliar berasal dari Bank Jatim. Ini bukan sekadar dominasi, tapi alarm keras bahwa BUMD kita tidak sehat secara struktur,” kata Abdullah, dalam rapat paripurna Kamis, 30 April 2026.

Sementara itu, BUMD lain yang bergerak di sektor energi, industri, logistik, dan jasa hanya berbagi sisa kontribusi yang sangat kecil. Holding besar seperti PJU hanya menyumbang sekitar 7 persen, sedangkan PWU dan JGU bahkan tak mencapai Rp2 miliar atau hanya di kisaran 0,2–0,3 persen.

Kondisi ini, menurut Abdullah, menunjukkan kegagalan serius dalam membangun diversifikasi sumber pendapatan daerah. “Kalau satu entitas menjadi tulang punggung, sementara yang lain nyaris tak berfungsi, maka ini bukan portofolio bisnis, tapi ketergantungan ekstrem,” ujarnya.

Pansus menilai persoalan BUMD di Jawa Timur bukan sekadar lemahnya kinerja perusahaan per perusahaan, melainkan kegagalan sistemik dalam pengelolaan portofolio secara keseluruhan.

Tidak adanya arah bisnis yang terintegrasi, fungsi holding yang mandul, serta minimnya strategi pengembangan sektor non-keuangan menjadi akar persoalan. Akibatnya, BUMD non-perbankan tidak berkembang dan gagal memberikan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Jika dibandingkan dengan Jawa Tengah, ketimpangan ini semakin terlihat. Meski tetap didominasi Bank Jateng, BUMD lain di provinsi tersebut masih mampu memberikan kontribusi yang lebih proporsional. Hal ini menandakan adanya ekosistem bisnis yang lebih sehat dan terdistribusi.

“Jawa Timur masih tertinggal dalam membangun ekosistem BUMD yang produktif. Ini bukan soal potensi, tapi soal pengelolaan,” katanya.

Temuan paling tajam Pansus mengarah pada lemahnya sistem penilaian kinerja. Selama ini, Key Performance Indicator (KPI) dinilai hanya bersifat administratif dan tidak berbasis hasil nyata (outcome). Akibatnya, muncul fenomena yang disebut Pansus sebagai “kinerja tanpa tekanan”. Direksi dan komisaris tetap berada di posisi mereka meskipun perusahaan stagnan atau bahkan merugi.

“Evaluasi kinerja tidak punya taring. Tidak ada konsekuensi nyata. Ini yang membuat manajemen tidak terdorong melakukan perbaikan,” ungkapnya.

Lebih jauh, Pansus juga menemukan ketidakseimbangan antara remunerasi dan kinerja. Dalam sejumlah kasus, manajemen tetap menerima gaji dan fasilitas tinggi, meskipun perusahaan tidak memberikan kontribusi signifikan. “Ini berpotensi menimbulkan moral hazard. Tidak ada korelasi antara kinerja dan imbalan,” tegasnya.

Masalah lain yang tak kalah serius adalah pengelolaan aset. Pansus menemukan banyak aset BUMD yang tidak produktif, bahkan menjadi beban keuangan.

Aset tersebut diklasifikasikan dalam tiga masalah utama. Aset hasil penyertaan modal tanpa kajian kelayakan yang memadai. Aset idle berupa tanah dan bangunan yang tidak dimanfaatkan. Aset yang dikuasai pihak lain tanpa kontribusi signifikan.

Alih-alih menghasilkan nilai ekonomi, aset-aset ini justru memunculkan biaya tambahan seperti pajak dan pemeliharaan.

Yang lebih memprihatinkan, hingga kini belum ada data konsolidasi aset BUMD yang akurat dan terverifikasi. Kondisi ini memperlihatkan lemahnya transparansi dan pengawasan. “Bagaimana mau optimal kalau datanya saja tidak jelas. Ini persoalan mendasar dalam tata kelola,” kata Abdullah.

Dengan berbagai persoalan tersebut, Pansus memperingatkan bahwa keberadaan sebagian BUMD berpotensi berubah dari aset strategis menjadi beban fiskal jangka panjang. Jika tidak segera dibenahi, BUMD bukan lagi instrumen pembangunan, melainkan sumber pemborosan yang menggerus keuangan daerah.

“Kalau tidak ada perubahan mendasar, kita hanya memelihara masalah. BUMD seharusnya memberi nilai tambah, bukan jadi beban,” pungkas politisi PAN itu.

Berita Terbaru

Golkar Jatim Mulai Panaskan Mesin Politik 2029, Ali Mufthi: Musda Tuntas, Kini Bidik Pemilih Muda

Golkar Jatim Mulai Panaskan Mesin Politik 2029, Ali Mufthi: Musda Tuntas, Kini Bidik Pemilih Muda

Jumat, 31 Jul 2026 19:43 WIB

Jumat, 31 Jul 2026 19:43 WIB

Jurnas.net - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Jawa Timur mulai mengakselerasi konsolidasi organisasi sebagai langkah awal menghadapi Pemilu 2029.…

Bupati Gresik Buka MPLS Sekolah Rakyat, Pendidikan Gratis Disiapkan untuk Putus Rantai Kemiskinan

Bupati Gresik Buka MPLS Sekolah Rakyat, Pendidikan Gratis Disiapkan untuk Putus Rantai Kemiskinan

Jumat, 31 Jul 2026 17:16 WIB

Jumat, 31 Jul 2026 17:16 WIB

Jurnas.net - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik resmi memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Permanen di Desa…

Kado HUT Ke-81 RI, Pemprov Jatim Bebaskan Denda Pajak Kendaraan dan Beri Insentif untuk Buruh serta Ojol

Kado HUT Ke-81 RI, Pemprov Jatim Bebaskan Denda Pajak Kendaraan dan Beri Insentif untuk Buruh serta Ojol

Jumat, 31 Jul 2026 15:26 WIB

Jumat, 31 Jul 2026 15:26 WIB

Jurnas.net - Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menggulirkan program pembebasan pajak kendaraan bermotor sepanjang Agustus 2026, berdasarkan Keputusan…

Kapal Express Bahari 3F Rusak Disenggol Tanker hingga Batal Berlayar, Bagaimana Hak Penumpang atas Kompensasi?

Kapal Express Bahari 3F Rusak Disenggol Tanker hingga Batal Berlayar, Bagaimana Hak Penumpang atas Kompensasi?

Jumat, 31 Jul 2026 14:36 WIB

Jumat, 31 Jul 2026 14:36 WIB

Jurnas.net - Insiden senggolan yang merusak KM Express Bahari 3F kembali memicu terganggunya layanan penyeberangan Gresik–Pulau Bawean. Di tengah keterbatasan a…

Mengukur Keberhasilan Pemerintah: Apakah Survei Kepuasan Sudah Cukup?

Mengukur Keberhasilan Pemerintah: Apakah Survei Kepuasan Sudah Cukup?

Jumat, 31 Jul 2026 13:26 WIB

Jumat, 31 Jul 2026 13:26 WIB

Oleh: Ir. Jailani, S.T., M.M. Komisioner Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Di negara demokrasi, survei opini publik telah menjadi salah satu…

DPRD Jatim Dukung Putusan MK Pisahkan Anggaran MBG dari Pendidikan, Puguh: Mutu Sekolah Harus Jadi Prioritas

DPRD Jatim Dukung Putusan MK Pisahkan Anggaran MBG dari Pendidikan, Puguh: Mutu Sekolah Harus Jadi Prioritas

Jumat, 31 Jul 2026 09:18 WIB

Jumat, 31 Jul 2026 09:18 WIB

Jurnas.net – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, menyambut positif putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menegaskan bahwa anggaran Program M…