Kasus TBC Mengganas di Surabaya Sepanjang 2026, DPRD Jatim Minta Pemerintah Bergerak Lebih Agresif

author Insani

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PKS Dapil Kota Surabaya, Lilik Hendarwati. (Fraksipksjatim)
Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PKS Dapil Kota Surabaya, Lilik Hendarwati. (Fraksipksjatim)

Jurnas.net – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Kota Surabaya. Dalam kurun lima bulan pertama tahun 2026, sebanyak 4.191 kasus TBC berhasil ditemukan di Kota Pahlawan. Angka tersebut menjadi alarm bahwa penyebaran penyakit menular ini masih cukup tinggi dan membutuhkan langkah penanganan yang lebih masif serta terintegrasi.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Surabaya, jumlah kasus yang ditemukan hingga Mei 2026 itu merupakan bagian dari estimasi 11.412 kasus TBC yang diperkirakan terjadi sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ribuan warga Surabaya masih berpotensi terpapar penyakit yang hingga kini menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat penyakit menular di Indonesia.

Anggota DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Surabaya, Lilik Hendarwati, menilai tingginya angka temuan kasus TBC harus menjadi perhatian serius seluruh pihak. Menurutnya, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat tidak boleh lengah menghadapi ancaman penyakit yang penularannya berlangsung melalui udara tersebut.

“Temuan 4.191 kasus TBC dalam lima bulan pertama tahun ini tentu menjadi peringatan bagi kita semua. Ini menunjukkan bahwa persoalan TBC di Surabaya masih nyata dan membutuhkan perhatian serius. Namun masyarakat juga tidak perlu panik karena meningkatnya temuan kasus bisa menjadi indikator bahwa upaya skrining dan penemuan dini semakin aktif dilakukan,” Kata Lilik, Jumat, 12 Juni 2026.

Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Timur itu menjelaskan, semakin banyak kasus yang ditemukan justru dapat menjadi peluang untuk mempercepat pengobatan dan memutus rantai penularan. Sebab, salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian TBC adalah masih banyaknya penderita yang tidak terdeteksi atau terlambat mendapatkan pengobatan.

“Yang berbahaya adalah ketika penderita tidak terdeteksi dan tetap beraktivitas tanpa pengobatan. Karena itu, skrining aktif dan pelacakan kontak harus terus diperkuat agar kasus-kasus yang tersembunyi bisa segera ditemukan,” katanya.

Menurut Lilik, penanganan TBC tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan. Penyakit ini membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat karena erat kaitannya dengan pola hidup, kondisi lingkungan, kepadatan permukiman, hingga tingkat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.

“Saya mendorong adanya sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, fasilitas kesehatan, RT/RW, sekolah, tempat ibadah, dunia usaha, dan seluruh elemen masyarakat. Penanganan TBC harus menjadi gerakan bersama karena dampaknya menyangkut kesehatan publik,” tegasnya.

Ia juga menyoroti masih kuatnya stigma negatif terhadap penderita TBC di tengah masyarakat. Tidak sedikit pasien yang memilih menutupi penyakitnya karena takut dikucilkan, sehingga akhirnya terlambat mendapatkan pengobatan dan berpotensi menularkan penyakit kepada orang lain.

“Literasi dan edukasi harus terus diperkuat. Sampai hari ini masih ada stigma buruk terhadap penderita TBC. Padahal TBC bukan penyakit kutukan dan bukan aib. Penyakit ini bisa dicegah, diobati, dan disembuhkan apabila ditangani dengan benar,” ujarnya.

Karena itu, Lilik mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap gejala-gejala TBC seperti batuk berkepanjangan, penurunan berat badan, demam yang tidak kunjung sembuh, hingga keringat berlebih pada malam hari. Masyarakat yang mengalami gejala tersebut diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

“TBC adalah penyakit yang bisa disembuhkan apabila terdeteksi lebih awal dan pasien disiplin menjalani pengobatan hingga tuntas. Jangan mengucilkan penderita, tetapi berikan dukungan agar mereka bisa sembuh dan kembali produktif,” tuturnya.

Selain itu, Lilik meminta Pemerintah Kota Surabaya memperluas program skrining dan pelacakan kontak terutama di kawasan padat penduduk yang memiliki risiko penularan lebih tinggi. Ia juga menekankan pentingnya memastikan ketersediaan obat, kemudahan akses layanan kesehatan, serta dukungan gizi bagi pasien dari keluarga kurang mampu.

“Yang tidak kalah penting adalah memastikan seluruh pasien menyelesaikan pengobatan sampai tuntas. Karena jika pengobatan terputus, risiko penularan akan tetap tinggi dan bahkan bisa memunculkan TBC resistan obat yang jauh lebih sulit ditangani,” katanya.

Lilik berharap seluruh pihak dapat menjadikan persoalan TBC sebagai prioritas bersama. Dengan deteksi dini, pengobatan yang disiplin, edukasi yang masif, serta dukungan masyarakat, Surabaya diyakini mampu menekan laju penyebaran TBC dan mewujudkan target eliminasi TBC nasional pada 2030.

“Ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tugas kita bersama. Semakin cepat kasus ditemukan dan diobati, semakin besar peluang kita memutus rantai penularan TBC di Surabaya,” pungkasnya.

Berita Terbaru

APBD 2025 Disetujui, DPRD Surabaya Minta Pemkot Jangan Jumawa dengan Predikat WTP

APBD 2025 Disetujui, DPRD Surabaya Minta Pemkot Jangan Jumawa dengan Predikat WTP

Senin, 27 Jul 2026 14:36 WIB

Senin, 27 Jul 2026 14:36 WIB

Jurnas.net – Predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang kembali diraih Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya atas laporan keuangan tahun 2025 ternyata belum m…

Dukung Swasembada Gula, PT KUR Mulai Distribusikan Benih Tebu ke Sejumlah Daerah di Jatim

Dukung Swasembada Gula, PT KUR Mulai Distribusikan Benih Tebu ke Sejumlah Daerah di Jatim

Senin, 27 Jul 2026 11:37 WIB

Senin, 27 Jul 2026 11:37 WIB

Jurnas.net – PT Karya Usaha Rossan (KUR) mulai mendistribusikan benih tebu ke sejumlah daerah sebagai bagian dari dukungan terhadap program swasembada gula n…

Reses di Mojokerto, Anggota DPRD Jatim Sumardi Soroti Polindes dan Insentif Guru PAUD

Reses di Mojokerto, Anggota DPRD Jatim Sumardi Soroti Polindes dan Insentif Guru PAUD

Senin, 27 Jul 2026 11:10 WIB

Senin, 27 Jul 2026 11:10 WIB

Jurnas.net – Permasalahan pelayanan kesehatan di tingkat desa melalui Pondok Bersalin Desa (Polindes) serta keberlanjutan insentif bagi guru Pendidikan Anak U…

MA Putuskan PT Kasa Husada Wira Jatim Wanprestasi, Gugatan Rp 2,175 Miliar Ikut Seret Gubernur Jatim

MA Putuskan PT Kasa Husada Wira Jatim Wanprestasi, Gugatan Rp 2,175 Miliar Ikut Seret Gubernur Jatim

Minggu, 26 Jul 2026 21:18 WIB

Minggu, 26 Jul 2026 21:18 WIB

Jurnas.net – Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan kasasi dalam perkara perdata Nomor 2423 K/PDT/2026 yang diajukan PT Kasa Husada Wira Jatim terkait sengketa …

2.000 Pelari Ramaikan SIER Mangrove Eco Run 3.0, Trail Run di Hutan Mangrove Jadi Daya Tarik Baru

2.000 Pelari Ramaikan SIER Mangrove Eco Run 3.0, Trail Run di Hutan Mangrove Jadi Daya Tarik Baru

Minggu, 26 Jul 2026 16:02 WIB

Minggu, 26 Jul 2026 16:02 WIB

Jurnas.net - PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) kembali menegaskan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui penyelenggaraan SIER Mangrove…

SIER dan Pemkot Surabaya Teken MoU Perkuat Riset dan Inovasi, Dorong Industri Berkelanjutan Berbasis Lingkungan

SIER dan Pemkot Surabaya Teken MoU Perkuat Riset dan Inovasi, Dorong Industri Berkelanjutan Berbasis Lingkungan

Sabtu, 25 Jul 2026 17:24 WIB

Sabtu, 25 Jul 2026 17:24 WIB

Jurnas.net – PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk mendorong pembangunan industri yang …