Jurnas.net – Operasional pemberangkatan jemaah haji Embarkasi Surabaya memasuki hari ke-29 dengan capaian 91 persen dari total kuota musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi. Di tengah kelancaran proses pemberangkatan, jumlah jemaah wafat kembali bertambah menjadi 13 orang. Sementara itu, jumlah calon haji yang mengalami penundaan keberangkatan justru menurun menjadi 10 orang.
Berdasarkan laporan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya per 19 Mei 2026, sebanyak 40.207 jemaah dan petugas telah diberangkatkan menuju Tanah Suci dalam 106 kelompok terbang (kloter).
Jumlah tersebut merupakan 91 persen dari total rencana pemberangkatan Embarkasi Surabaya tahun ini yang mencapai 44.080 orang. Kuota tersebut terdiri atas 42.109 jemaah, 464 petugas, 162 Petugas Haji Daerah (PHD), dan 140 Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (PIH KBIHU).
Pada 19 Mei 2026, Embarkasi Surabaya memberangkatkan empat kloter tambahan yakni SUB 103, SUB 104, SUB 105, dan SUB 106 dengan total 1.517 jemaah dan petugas. Sebelumnya, hingga 18 Mei 2026, jumlah jemaah yang telah diterbangkan mencapai 38.690 orang dalam 102 kloter. Dari total jemaah yang telah diberangkatkan, sebanyak 18.848 orang merupakan laki-laki dan 21.359 lainnya perempuan.
Ketua PPIH Embarkasi Surabaya, Mohammad As’adul Anam, mengatakan operasional pemberangkatan haji hingga saat ini berjalan tertib dan sesuai jadwal berkat penguatan koordinasi lintas sektor di lingkungan embarkasi.
“Alhamdulillah, operasional pemberangkatan jemaah haji Embarkasi Surabaya terus berjalan lancar dan kondusif. Sinergi antarpetugas terus diperkuat agar jemaah memperoleh pelayanan terbaik sejak masuk asrama hingga keberangkatan menuju Tanah Suci,” kata Anam, Rabu, 20 Mei 2026.
Meski operasional berjalan lancar, dinamika pemberangkatan masih terus terjadi. PPIH mencatat sebanyak 171 mutasi keluar yang memengaruhi komposisi manifest keberangkatan jemaah. Mutasi keluar tersebut terdiri atas satu jemaah sakit di daerah, 39 jemaah sakit di Rumah Sakit Haji, dua jemaah hamil di Asrama Haji, 19 pendamping jemaah, satu jemaah wafat di daerah, 41 jemaah tunda daerah, tiga jemaah tunda Mecca Route, 38 kursi kosong atau praman kosong, dua jemaah sakit di perjalanan, dua perpindahan nomor urut, serta 23 perpindahan kloter.
Untuk mengurangi kekosongan kursi penerbangan, PPIH melakukan optimalisasi pengisian melalui mekanisme mutasi masuk. Hingga saat ini tercatat 98 mutasi masuk yang terdiri atas 32 jemaah dari daftar belum berkloter dan 66 jemaah limpahan dari kloter lain. Melalui mekanisme tersebut, jumlah open seat atau kursi kosong berhasil ditekan menjadi 73 kursi.
“Optimalisasi pengisian kursi kosong terus dilakukan agar kapasitas penerbangan dapat dimanfaatkan secara maksimal dan proses pemberangkatan jemaah tetap berjalan efektif,” kata Anam.
Dari aspek ketepatan waktu penerbangan atau On Time Performance (OTP), sebanyak 105 kloter tercatat berangkat tepat waktu tanpa mengalami keterlambatan maupun percepatan jadwal. Namun di balik kelancaran operasional tersebut, kabar duka kembali datang dari Tanah Suci. Hingga 19 Mei 2026, jumlah jemaah haji Embarkasi Surabaya yang wafat tercatat mencapai 13 orang, terdiri atas 12 jemaah wafat di Arab Saudi dan satu jemaah wafat di embarkasi.
Jemaah terbaru yang dilaporkan wafat di Arab Saudi adalah Mat Sahid (79), jemaah Kloter 30 asal Kabupaten Lamongan. Dengan tambahan tersebut, total jemaah wafat di Tanah Suci menjadi 12 orang.
Sebelumnya, jemaah yang wafat di Arab Saudi yakni Kamariyah Dul Tayib asal Kabupaten Pasuruan, Abd Wachid asal Kabupaten Pasuruan, Fajar Puja Sasmita asal Kota Malang, Sibiatun Saji asal Kabupaten Lamongan, Mustika Rajim D asal Kabupaten Gresik, Suyono Reso asal Kabupaten Jombang, Dumaiyah Gopur asal Kabupaten Pasuruan, Asraf Sudam asal Kabupaten Probolinggo, Tarni Talikah Kastamun asal Kabupaten Sidoarjo, Samanu Linggan asal Kabupaten Malang, serta Ngatiyah Marijo asal Kabupaten Jember.
Sementara satu jemaah wafat di embarkasi adalah Tini Atmin (56), jemaah Kloter 43 asal Kabupaten Gresik, akibat sakit jantung saat menjalani perawatan di RSUD Haji Surabaya. “Kami turut menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya para jemaah haji. Semoga seluruh amal ibadah beliau diterima Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” tutur Anam.
Di sisi lain, jumlah calon haji yang mengalami penundaan keberangkatan mulai menurun. Hingga saat ini tercatat masih ada 10 jemaah yang tertunda keberangkatannya di Asrama Haji Embarkasi Surabaya. Mereka terdiri atas empat jemaah sakit, dua pendamping, dan empat kategori lain-lain yang masih menjalani observasi kesehatan maupun menunggu penjadwalan keberangkatan lanjutan.
PPIH memastikan seluruh jemaah yang tertunda tetap mendapatkan pendampingan, pelayanan kesehatan, dan prioritas pemberangkatan apabila kondisi kesehatan memungkinkan. Pada fase pertama pemberangkatan tahun ini, jemaah tertua Embarkasi Surabaya tercatat atas nama Tukiran Abd Razak dari Kloter 17 asal Kabupaten Malang yang berusia 98 tahun.
Sementara itu, pada 20 Mei 2026 mendatang, Embarkasi Surabaya dijadwalkan menerima kedatangan lima kloter dengan total 1.900 jemaah dan petugas yang berasal dari Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang, dan Kabupaten Pasuruan.
PPIH Embarkasi Surabaya menegaskan komitmennya untuk terus menjaga kualitas pelayanan, keselamatan, serta kenyamanan jemaah hingga seluruh rangkaian operasional pemberangkatan haji tahun 2026 selesai dilaksanakan.
Editor : Andi Setiawan