Jurnas.net – Ikatan Mahasiswa Bawean Surabaya (IMBAS) akan menggelar pelantikan pengurus baru di gedung Koperasi Pegawai Negeri (KPN), Kec. Sangkapura, Pulau Bawean, pada Minggu, 19 Juli 2026 mendatang. Kegiatan itu dirangkai dengan Simposium Pendidikan bertema "Masa Depan Pendidikan di Pulau Bawean: Antara Retorika Kebijakan dan Realitas di Lapangan."
Forum tersebut diharapkan menjadi ruang dialog strategis yang mempertemukan mahasiswa, pemerintah, legislatif, serta pemangku kepentingan pendidikan untuk bersama-sama merumuskan langkah konkret dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Pulau Bawean.
Kegiatan ini akan menghadirkan sejumlah narasumber dari instansi yang memiliki peran penting dalam pengambilan kebijakan pendidikan, di antaranya Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Gresik, Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, Kementerian Agama Kabupaten Gresik, serta anggota DPRD Gresik dari Daerah Pemilihan (Dapil) Bawean.
Ketua Ikatan Mahasiswa Bawean Surabaya (IMBAS), Abdul Halim Satria, mengatakan tema yang diangkat bukan sekadar slogan, tetapi merupakan refleksi atas kondisi pendidikan yang masih dihadapi masyarakat Pulau Bawean. Menurutnya, frasa "Masa Depan Pendidikan" mencerminkan harapan seluruh elemen masyarakat agar Bawean memiliki sistem pendidikan yang semakin maju, mampu melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Sementara frasa "Antara Retorika Kebijakan dan Realitas di Lapangan" menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan pendidikan, tidak cukup hanya diukur dari banyaknya program atau kebijakan yang disusun pemerintah, tetapi harus terlihat nyata dalam implementasi serta manfaat yang dirasakan langsung oleh siswa, guru, dan masyarakat.
"Kami ingin forum ini menjadi ruang evaluasi bersama. Banyak kebijakan pendidikan yang sudah dibuat, tetapi tentu perlu kita lihat sejauh mana pelaksanaannya benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat Bawean. Jangan sampai kebijakan hanya berhenti di atas kertas tanpa memberikan dampak nyata," kata Satria, Jumat, 26 Juni 2026.
Ia menegaskan bahwa IMBAS ingin mengambil peran sebagai jembatan komunikasi antara masyarakat, kalangan akademisi, mahasiswa, dan pemerintah agar berbagai persoalan pendidikan di Pulau Bawean dapat dibahas secara terbuka dan dicarikan solusi bersama.
Menurut Abdul Halim, tantangan pendidikan di wilayah kepulauan memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan daerah daratan. Karena itu, dibutuhkan perhatian yang lebih serius terhadap pemerataan kualitas pendidikan, peningkatan sarana dan prasarana, pemerataan tenaga pendidik, hingga akses pendidikan yang berkualitas bagi seluruh anak-anak Bawean.
"Kami berharap simposium ini tidak berhenti sebagai forum diskusi semata, tetapi mampu menghasilkan rekomendasi yang dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menyusun kebijakan pendidikan yang lebih tepat sasaran bagi masyarakat Pulau Bawean," katanya.
Abdul Halim juga mengajak seluruh masyarakat Bawean, khususnya para guru, kepala sekolah, akademisi, mahasiswa, tokoh masyarakat, serta pemerhati pendidikan untuk ikut berpartisipasi dan memberikan gagasan dalam forum tersebut. Menurutnya, kemajuan pendidikan tidak bisa diwujudkan hanya oleh pemerintah ataupun mahasiswa saja, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
"Kami mengundang seluruh masyarakat Bawean, terutama para pelaku pendidikan, untuk hadir dan ikut berdiskusi. Kami percaya, semakin banyak gagasan yang disampaikan, semakin besar peluang lahirnya solusi yang dapat mempercepat kemajuan pendidikan di Pulau Bawean," ungkapnya.
Melalui pelantikan pengurus baru yang dibarengi dengan simposium pendidikan tersebut, Satria berharap dapat memperkuat perannya sebagai organisasi mahasiswa yang tidak hanya menjadi wadah silaturahmi mahasiswa Bawean di Surabaya, tetapi juga menjadi mitra kritis dan konstruktif dalam mengawal pembangunan sumber daya manusia di Pulau Bawean.
Forum ini diharapkan menghasilkan rekomendasi bersama serta membangun komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk menghadirkan kebijakan pendidikan yang lebih responsif, berkeadilan, dan mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat di wilayah kepulauan, sehingga masa depan pendidikan Pulau Bawean dapat berkembang lebih baik dan berkelanjutan.
Editor : Rahmat Fajar