Konsep Ekowisata Banyuwangi Dianggap Mampu Cegah Perubahan Iklim

author Redaksi

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, saat bertemu Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani (baju hitam). (Dok: Humas Pemkab Banyuwangi).
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, saat bertemu Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani (baju hitam). (Dok: Humas Pemkab Banyuwangi).

Jurnas.net - Konsep ekowisata atau pariwisata alam yang diusung Banyuwangi dinilai Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendukung upaya pencegahan perubahan iklim. Hal itu disampaikan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, saat bertemu Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Banyuwangi.

“Selama ini Banyuwangi concern pada pengembangan ecotourism. Selain karena dianugerahi bentang alam yang memungkinkan pengembangan wisata alam, kami juga yakin konsep ekowisata ini sangat bermanfaat bagi daerah. Apa yang kami lakukan ini diapresiasi banyak pihak, termasuk salah satunya Kepala BMKG,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Senin, 1 Januari 2024.

Bupati Ipuk mengungkapkan dirinya telah bertemu Kepala BMKG saat melakukan kunjungan kerja di Banyuwangi pada 24 Desember 2023. Dalam kesempatan itu, Ipuk menyampaikan bagaimana pengembangan pariwisata yang dilakukan Banyuwangi.

“Kami menyadari potensi alam Banyuwangi adalah kelebihan yang kami miliki dan kami syukuri maka kami tidak ingin mengubahnya menjadi wisata yang metropolitan. Tapi merawatnya beserta dengan budaya yang ada di dalamnya,” ujar Ipuk.

Sementara itu, menurut Kepala BMKG Dwikorita Banyuwangi layak menjadi contoh daerah yang sukses mendukung lifestyle ramah lingkungan lewat pengembangan pariwisata alam.

“Konsep wisata Banyuwangi mematahkan paradigma wisata harus yang modern, padat kendaraan, dipenuhi mall seperti di kota-kota besar, yang ini justru menjadi penyumbang CO2. Di Banyuwangi, wisatanya justru gunung, pantai bahkan event sportourismnya juga sangat ramah lingkungan yakni kompetisi sepeda, lari yang tidak menghasilkan CO2,” katanya.

“Hasilnya adalah sustainability dan happiness. Saya sendiri merasakan masuk ke Banyuwangi rasanya berbeda, auranya lebih segar dan bahagia. Dan saat ini Banyuwangi telah menjadi tujuan destinasi nasional dengan bertahan pada konsep yang dipegangnya,” imbuhnya.

Dwikorita mengatakan perubahan iklim telah menjadi isu utama dunia internasional. Saat ini terjadi fenomena percepatan peningkatan suhu bumi, yang memicu cuaca ekstrim. Para ahli telah menyepakati hingga tahun 2100 suhu bumi tidak boleh melebihi 1,5 derajat celsius guna mencegah timbulnya cuaca ektrim. Tapi, Organisasi Meteorologi Dunia telah mengumumkan saat ini suhu dunia telah meningkat 1,4 derajat celsius, yang notabene masih 78 tahun lagi sebelum tahun 2100.

“Ini menyebabkan kondisi ekstrim, intensitas cuaca ekstrim terus meningkat. Cuaca yang berubah, banjir, longsor, ini adalah dampak peningkatan suhu bumi. Jika tidak dilakukan perubahan lifestyle lebih ramah lingkungan, para ahli mengasumsikan 10 tahun ke depan bumi bisa terancam krisis air, dan pada 2050 krisis pangan,” kata Dwikorita.

“Ini artinya, dari sekarang kita harus mulai mengurangi gaya hidup yang mengurangi kenaikan panas bumi, mengurangi produksi CO2 atau mulai menerapkan mindset pembangunan yang ramah lingkungan,” imbuhnya.

Untuk itulah, Dwikorita sangat mendukung ekowisata yang diusung Banyuwangi. Banyuwangi, menurutnya, bukan sekedar berwacana tapi sudah menunjukkan hasil positif dari kebijakannya. Pariwisata yang mengusung wisata alam ini telah berdampak pada kemajuan ekonomi hingga penurunan angka kemiskinan daerah.

“Saya kira Bupati Ipuk bisa menjadi inspirasi pemimpin daerah lainnya membawa lifestyle ramah lingkungan pada level kebijakan. Saya akan mengajak Bupati Ipuk berbicara di forum internasional yang mengangkat isu peran wanita dalam mengubah lifestyle menjadi ramah lingkungan,” pungkasnya.

Berita Terbaru

DPKP Surabaya Catat Kebakaran Meningkat Akibat Kemarau Ekstrem

DPKP Surabaya Catat Kebakaran Meningkat Akibat Kemarau Ekstrem

Rabu, 16 Sep 2026 16:43 WIB

Rabu, 16 Sep 2026 16:43 WIB

Jurnas.net - Cuaca panas berkepanjangan mulai meningkatkan ancaman kebakaran di Kota Surabaya. Rumput dan alang-alang yang mengering di berbagai lahan terbuka,…

SRC 2026 Diikuti 33 Cabor, Surabaya Panaskan Mesin Atlet Menuju Porprov Jatim 2027

SRC 2026 Diikuti 33 Cabor, Surabaya Panaskan Mesin Atlet Menuju Porprov Jatim 2027

Rabu, 16 Sep 2026 16:32 WIB

Rabu, 16 Sep 2026 16:32 WIB

Jurnas.net - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Surabaya mulai memanaskan mesin pembinaan atlet menjelang…

Gus Kikin dan Tantangan Kebangkitan Gelombang Kedua NU

Gus Kikin dan Tantangan Kebangkitan Gelombang Kedua NU

Rabu, 16 Sep 2026 08:32 WIB

Rabu, 16 Sep 2026 08:32 WIB

Oleh : Abdul Khalid Boyan Peneliti LPPM Universitas Arya Wangsa (UAW)    Terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz, yang akrab disapa Gus Kikin, sebagai Ketua Umum …

Pelayaran ke Bawean Lumpuh Akibat Cuaca Buruk, Jenazah Dipulangkan Pakai Perahu Nelayan

Pelayaran ke Bawean Lumpuh Akibat Cuaca Buruk, Jenazah Dipulangkan Pakai Perahu Nelayan

Selasa, 15 Sep 2026 20:16 WIB

Selasa, 15 Sep 2026 20:16 WIB

Jurnas.net - Gelombang tinggi kembali mengganggu akses transportasi laut menuju Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Sejak Jumat (11/9/2026), dua kapal…

Dengar Masukan Tenant, Direksi SIER Pastikan Kawasan Industri Tetap Aman dan Nyaman

Dengar Masukan Tenant, Direksi SIER Pastikan Kawasan Industri Tetap Aman dan Nyaman

Selasa, 15 Sep 2026 18:26 WIB

Selasa, 15 Sep 2026 18:26 WIB

Jurnas.net – Jajaran Direksi PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) turun langsung menemui sejumlah tenant melalui program BOD Visit Tenant. Selain m…

Ratusan Anak-anak di Jepara Sulap Serbuk Kayu jadi Lukisan

Ratusan Anak-anak di Jepara Sulap Serbuk Kayu jadi Lukisan

Selasa, 15 Sep 2026 17:56 WIB

Selasa, 15 Sep 2026 17:56 WIB

Jurnas.net - Sebanyak 150 anak dari seluruh kecamatan di Jepara mengikuti lomba kolase. Mereka menggunakan serbuk kayu sebagai bahan baku berkarya. Ketua…