65 Kepala Sekolah Baru Dilantik, Dispendik Jatim Siapkan SDM Unggul Menuju Indonesia Emas 2045

Reporter : Insani
Gubernur Jatim bersama Kepala Dinas Pendidikan Jatim dan guru foto bersama usai pelantikan. (Insani/Jurnas.net)

Jurnas.net - Dinas Pendidikan Jawa Timur memperkuat kepemimpinan di satuan pendidikan dengan melantik 65 kepala SMA, SMK, dan SLB baru hasil seleksi ketat yang melibatkan kementerian terkait dan Badan Kepegawaian Negara (BKN). Langkah ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan sekaligus menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menjelaskan bahwa pelantikan tersebut merupakan hasil proses panjang yang diawali dengan pengajuan 88 nama calon kepala sekolah. Namun setelah melalui tahapan verifikasi administrasi, evaluasi kompetensi, dan persetujuan dari pemerintah pusat, hanya 65 orang yang dinyatakan memenuhi seluruh persyaratan.

Baca juga: Lantik 65 Kepala Sekolah Baru, Khofifah Tantang Pertahankan Keunggulan Jatim di SNBP-SNBT

“Dari 88 usulan yang kami ajukan, sebanyak 65 orang mendapatkan persetujuan untuk dilantik. Sisanya belum dapat diproses karena terkendala regulasi, terutama terkait batas masa jabatan kepala sekolah yang telah mencapai dua periode,” kata Aries, di sela pelantikan guru di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Rabu, 3 Juni 2026.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 orang merupakan guru yang memperoleh promosi menjadi kepala sekolah setelah dinilai memiliki kompetensi kepemimpinan, manajerial, dan rekam jejak kinerja yang baik. Sementara sisanya merupakan hasil rotasi dan mutasi untuk kebutuhan penyegaran organisasi serta peningkatan efektivitas pengelolaan sekolah.

Menurut Aries, promosi kepala sekolah tidak semata didasarkan pada senioritas, tetapi juga kemampuan memimpin, membangun inovasi pendidikan, dan meningkatkan kualitas layanan pembelajaran. “Promosi diberikan kepada guru-guru yang memenuhi syarat dan memiliki kompetensi kepemimpinan. Sedangkan rotasi dan mutasi menjadi bagian dari penguatan organisasi sekaligus mekanisme evaluasi kinerja,” ujarnya.

Meski telah melantik puluhan kepala sekolah baru, Dinas Pendidikan Jawa Timur masih menghadapi tantangan berupa kekosongan jabatan kepala sekolah definitif di sejumlah satuan pendidikan. Aries mengungkapkan, saat ini masih terdapat sekitar 30 sekolah yang dipimpin oleh pelaksana tugas (Plt) akibat banyaknya kepala sekolah yang memasuki masa pensiun dalam beberapa bulan terakhir.

“Masih ada sekitar 30 posisi yang kosong dan sementara diisi oleh Plt. Usulan pengisian sudah kami kirimkan dan saat ini masih berproses di kementerian dan BKN,” ungkapnya.

Ia berharap proses administrasi tersebut dapat segera rampung mengingat sekolah-sekolah akan menghadapi agenda penting, yakni pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027. Karena itu, para kepala sekolah yang baru dilantik diminta segera bekerja dan tidak membutuhkan masa adaptasi yang terlalu panjang.

“Mereka harus langsung bergerak karena agenda yang dihadapi cukup padat, terutama pelaksanaan SPMB yang membutuhkan kepemimpinan, koordinasi, dan pengambilan keputusan yang cepat,” tegas Aries.

Baca juga: Guru ASN SMA-SMK Jatim Menjerit, THR dan TPG Tak Kunjung Cair, Pemprov Dinilai Abai pada Kesejahteraan

Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan SPMB akan menjadi salah satu indikator penting kualitas kepemimpinan kepala sekolah dalam memberikan layanan pendidikan yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan. 

Selain memperkuat kepemimpinan sekolah, Dinas Pendidikan Jawa Timur juga tengah menyiapkan strategi jangka panjang untuk menghadapi tantangan era digital dan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. Aries menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik semata, tetapi juga dari kemampuan sekolah membentuk karakter, meningkatkan literasi, serta memperkuat keterampilan komunikasi peserta didik.

Salah satu kebijakan yang saat ini terus diperkuat adalah pembatasan penggunaan gawai selama proses pembelajaran berlangsung di ruang kelas. Menurut Aries, kebijakan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap kemajuan teknologi, melainkan upaya mengembalikan fungsi sekolah sebagai ruang interaksi sosial, diskusi, dan pembelajaran yang aktif.

“Kami ingin siswa lebih fokus belajar, berdiskusi, dan berinteraksi dengan guru maupun teman-temannya. Literasi, komunikasi, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan sosial harus diperkuat tanpa meninggalkan pemanfaatan teknologi digital,” ujarnya.

Ia menilai penggunaan gawai yang tidak terkontrol berpotensi mengurangi kualitas interaksi sosial siswa dan menurunkan konsentrasi belajar. Karena itu, sekolah didorong untuk menciptakan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan penguatan karakter peserta didik.

Baca juga: TKA 2026, Dispendik Surabaya Fokus Adaptasi Soal Literasi dan Kesiapan Sistem

Tidak hanya itu, seluruh kepala sekolah juga diminta menyusun roadmap pendidikan yang jelas agar setiap siswa memiliki arah masa depan yang terukur sesuai potensi dan minatnya. Roadmap tersebut mencakup pendampingan siswa menuju perguruan tinggi negeri melalui jalur SNBP dan SNBT, sekolah kedinasan, pendidikan vokasi, hingga dunia kerja dan kewirausahaan.

“Kepala sekolah harus menjadi arsitek masa depan peserta didik. Tidak cukup hanya mencetak siswa berprestasi, tetapi juga membantu mereka menemukan tujuan hidup, mengembangkan potensinya, dan menyiapkan masa depan yang lebih baik,” tegas Aries.

Dengan pelantikan 65 kepala sekolah baru dan penguatan berbagai program strategis pendidikan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berharap kualitas pendidikan yang selama ini menempatkan provinsi tersebut sebagai salah satu yang terbaik secara nasional dapat terus meningkat.

Di saat yang sama, pemerataan mutu pendidikan hingga ke seluruh daerah di Jawa Timur juga diharapkan semakin kuat sehingga seluruh siswa memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Editor : Amal

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru