Jurnas.net - Polemik penarikan dana bantuan senilai Rp2 miliar yang sempat menjadi perhatian publik akhirnya berakhir damai. Founder Bani Insan Peduli (BIP), Ali Zainal Abidin, dan pendiri Griya Lansia Malang sekaligus Griya Yatim Sidoarjo, Arief Camra, sepakat mengakhiri perselisihan dan kembali fokus menjalankan misi kemanusiaan.
Kesepakatan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Hotel Elmi Surabaya, Minggu, 12 Juli 2026. Kedua belah pihak menegaskan bahwa komunikasi yang baik menjadi jalan untuk menyelesaikan persoalan yang sebelumnya sempat memicu perbincangan luas di media sosial.
Ali Zainal Abidin mengatakan dirinya tidak pernah memiliki persoalan pribadi dengan Arief Camra. Ia justru mengaku banyak belajar mengenai pengelolaan lembaga sosial dari sosok yang telah lama berkecimpung di bidang pelayanan kemanusiaan tersebut.
"Saya pribadi tidak ada masalah apa pun sama Pak Arief. Beliau orang hebat, saya butuh belajar dari beliau. Beliau guru saya," kata Ali.
Menanggapi pernyataan tersebut, Arief Camra menyampaikan apresiasi atas itikad baik yang ditunjukkan Ali. Meski merasa tidak pantas disebut sebagai guru, ia menilai perbedaan pandangan tidak seharusnya menghambat tujuan utama lembaga sosial, yakni membantu masyarakat yang membutuhkan.
Menurut Arief, seluruh pihak yang bergerak di bidang kemanusiaan memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kepercayaan publik melalui tata kelola organisasi yang baik. Ia menilai polemik yang sempat terjadi dapat menjadi pelajaran bagi seluruh pegiat sosial agar setiap bentuk kerja sama maupun pemberian bantuan disertai kesepakatan yang jelas sejak awal.
"Kalau mau memberi bantuan, dijelaskan klausulnya di depan. Nanti bantuannya seperti ini, komitmennya begini. Jadi, semuanya jelas sejak awal," ujar Arief.
Menurutnya, kejelasan mekanisme, komunikasi yang terbuka, serta akuntabilitas menjadi fondasi penting dalam pengelolaan lembaga sosial agar program kemanusiaan dapat berjalan secara berkelanjutan dan terhindar dari kesalahpahaman.
Ali dan Arief pun menyatakan komitmen untuk menutup polemik yang sempat terjadi dan kembali memusatkan perhatian pada aktivitas sosial yang selama ini dijalankan masing-masing lembaga.
Keduanya berharap peristiwa tersebut menjadi pembelajaran bagi komunitas filantropi dan lembaga sosial bahwa semangat berlomba dalam kebaikan perlu diiringi dengan tata kelola yang transparan, akuntabel, serta komunikasi yang baik agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga.
Editor : Risfil Athon