Jurnas.net - Sebuah kapal yang membawa rombongan safari politik Partai Golkar merapat di Pelabuhan Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, pada Sabtu, 4 Juli 2026. Bagi banyak orang, perjalanan itu mungkin sekadar kunjungan kerja. Namun bagi Wakil Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur yang juga Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Arif Fathoni, langkahnya di pulau kecil di Laut Jawa itu adalah perjalanan pulang menuju masa lalu.
Sudah 26 tahun ia meninggalkan Bawean. Terakhir kali Toni tinggal di pulau itu pada tahun 1998. Kini, ia kembali bukan sebagai pelajar SMP, melainkan sebagai seorang politisi yang datang mendengarkan aspirasi masyarakat bersama Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur sekaligus anggota Komisi V DPR RI, Ali Mufthi, anggota Komisi VI DPR RI Ahmad Labib, Ketua DPD Partai Golkar Gresik yang juga Wakil Ketua DPRD Gresik Wongso Negoro, Ketua Pratama DPD Partai Golkar Jatim Akhsanul Yakin, serta seluruh anggota DPRD Gresik dari Fraksi Partai Golkar.
Namun, di balik agenda politik tersebut, tersimpan kisah yang jauh lebih personal. Bawean, bagi Toni, sapaan akrabnya, bukan sekadar sebuah pulau. Di tempat itulah hidup mengajarkannya arti perjuangan.
Perjalanan hidupnya menuju Bawean bermula ketika kedua orang tuanya berpisah. Saat sang kakak tinggal bersama ibunya, Toni memutuskan memilih ikut bersama pamannya, agar beban sang ibu menjadi lebih ringan. Keputusan itu mengubah jalan hidupnya.
Pamannya bersedia membiayai pendidikan agar Toni tidak putus sekolah, sehingga tetap bisa melanjutkan pendidikannya. Selama 1996 hingga 1998, ia menempuh pendidikan di tingkat SLTP atau SMP di Pulau Bawean.
"Pulau Bawean adalah sekolah kehidupan bagi saya. Di sini saya belajar bukan hanya pelajaran di sekolah, tetapi juga belajar tentang hidup dan kehidupan," kata Toni.
Di sekolah itulah bakat berbicaranya mulai tumbuh. Ia masih mengingat betul bagaimana hampir setiap gelaran Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Porsema) di Pulau Bawean, dirinya selalu meraih juara pertama lomba pidato.
Pengalaman berdiri di depan banyak orang saat masih remaja, tanpa disadari menjadi bekal yang terus menemaninya hingga kini ketika harus berbicara di ruang-ruang politik maupun pemerintahan.
Pulang, tetapi Waktu Seolah Berhenti
Selama tiga hari mengikuti safari politik pada Sabtu-Senin, 4–6 Juli 2026, Toni menyempatkan diri menikmati kembali sudut-sudut Bawean yang dulu akrab dalam ingatannya.
Gunung-gunung masih berdiri hijau. Pepohonan tetap rindang. Pantai-pantai masih memancarkan keindahan yang sama seperti puluhan tahun lalu.
"Alhamdulillah saya melihat hutannya masih terjaga. Tidak ada penggundulan hutan. Bentang pantainya juga masih sangat indah seperti dulu," ujar pria kelahiran Lamongan itu.
Yang berubah hanyalah wajah permukiman warga yang kini semakin modern. Namun di balik perubahan fisik itu, Toni justru menemukan kenyataan yang membuatnya merenung. Ada persoalan yang seolah berhenti dimakan waktu.
Persoalan Lama yang Masih Menjadi Keluhan
Dalam berbagai dialog dengan warga Bawean, mulai tokoh masyarakat, kepala desa, dan pemerintah kecamatan, Toni mendengar keluhan yang mengingatkannya pada masa kecil. Salah satunya tentang pelayanan kesehatan dan transportasi laut.
Masih ada warga yang harus dirujuk ke rumah sakit di Gresik, karena keterbatasan fasilitas layanan kesehatan di Bawean. Ketika cuaca buruk datang dan kapal tidak dapat berlayar, keselamatan pasien pun dipertaruhkan.
"Problem itu dulu juga saya alami ketika kecil tinggal di Bawean. Warga yang sakit tidak bisa dirujuk karena kapal tidak berangkat akibat cuaca buruk," kenangnya.
Menurut Toni, kondisi tersebut seharusnya tidak lagi terjadi. Ia menilai keberadaan RSUD Umar Mas'ud Bawean yang kini berstatus paripurna, harus dibarengi dengan pemenuhan dokter spesialis, tenaga kesehatan, dan peralatan medis yang memadai.
Dengan begitu, masyarakat Bawean tidak perlu lagi bergantung pada rumah sakit di Gresik, untuk mendapatkan layanan kesehatan yang cepat. "Kalau rumah sakitnya sudah berstatus paripurna, harusnya fasilitas dan tim medis sudah lengkap, warga cukup berobat di Bawean. Kalau tidak, berarti persoalannya masih sama seperti 26 tahun lalu," kata mantan Ketua DPD Partai Golkar Surabaya itu.
Baca juga: Peringati HJKS ke-733, Armuji Ajak Warga Perkuat Nilai Pancasila dan UMKM Surabaya
Ombak Masih Menentukan Nasib Perjalanan
Cerita serupa juga ia rasakan ketika hendak kembali ke Gresik. Kapal yang akan ditumpangi tidak diizinkan berlayar, karena cuaca buruk berdasarkan peringatan BMKG. Situasi itu membuat Toni seakan kembali ke masa remajanya.
"Ini seperti mengulang pengalaman 26 tahun lalu. Dulu saya mengalaminya, sekarang ternyata masyarakat masih menghadapi persoalan yang sama," ujarnya.
Menurut Toni, pemerintah perlu memikirkan penyediaan kapal berkapasitas besar, yang mampu beroperasi dalam kondisi gelombang lebih tinggi. Sehingga mobilitas masyarakat maupun distribusi logistik tidak selalu terhenti ketika cuaca berubah.
Pimpinan DPRD Kota Surabaya itu berharap Bupati Gresik dan Gubernur Jawa Timur dapat menjadikan persoalan transportasi laut sebagai prioritas pembangunan Bawean.
"Kami berharap Bupati Gersik bersama Gubernur Jawa Timur paling tidak bisa berkoordinasi secara aktif, agar mobilitas penduduk dari dan ke Pulau Bawean, serta mobilitas distribusi logistik ke Bawean tidak terganggu," ucapnya.
Menjaga Bawean Tetap Menjadi Bawean
Bagi Toni, Bawean memiliki modal besar untuk berkembang melalui sektor pariwisata. Keindahan pantai, alam yang masih lestari, hingga budaya masyarakat menjadi kekuatan yang tidak dimiliki banyak daerah.
Namun ia berharap pembangunan wisata tidak menghilangkan identitas masyarakat Bawean yang dikenal religius. Menurutnya, justru nilai-nilai budaya dan religius masyarakat itulah yang menjadi daya tarik utama Pulau Bawean.
Baca juga: Poster Armuji–Arif Fathoni Beredar, Golkar Jatim Tekankan Kader Harus Total Mengabdi untuk Rakyat
"Kalau wisata Bawean berkembang, biarlah berkembang dengan karakter Bawean sendiri. Yang dibangun adalah ekowisata berbasis kearifan lokal, bukan meniru daerah lain," katanya.
Pulang Membawa Energi Baru
Bagi Toni, napak tilas ke Bawean bukan sekadar perjalanan mengenang masa lalu. Ia mengaku pulang dengan membawa semangat baru untuk terus mengabdi.
Pulau yang pernah menjadi tempatnya tumbuh dalam keterbatasan, kini kembali mengingatkannya tentang arti perjuangan dan kepedulian terhadap masyarakat.
"Saya merasa mendapatkan energi kembali. Semangat hidup yang dulu saya pelajari di Bawean menjadi pengingat untuk terus berbagi manfaat dan melayani masyarakat," ujarnya.
Toni berharap seluruh aspirasi masyarakat yang disampaikan selama safari politik di Bawean, dapat diperjuangkan melalui kebijakan dan penganggaran. Sehingga Bawean tidak lagi merasa menjadi wilayah yang tertinggal dan dianaktirikan.
Sebab, bagi Toni, Bawean bukan hanya sebuah pulau di utara Gresik. Bawean adalah halaman hidup yang pernah menempanya menjadi pribadi yang mampu bertahan dalam keterbatasan, belajar berdiri di depan banyak orang, dan memahami bahwa setiap perjalanan pulang selalu menyisakan kenangan.
"Kami berharap masalah klasik yang terjadi di Bawean 26 tahun lalu, dan sekarang masih tetap sama, bisa segera diatasi. Terutama masalah pelayanan kesehatan dan kapal. Menurut saya ini sangat penting dan harus dipikirkan pemerintah demi kemajuan Pulau Bawean kedepan," pungkas Toni.
Editor : Amal