Pemkot Surabaya Perluas Beasiswa Pemuda Tangguh, Jangkau 24.000 Mahasiswa

author Kurniawan

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemkot Surabaya dan sejumlah perguruan tinggi. (Humas Pemkot Surabaya)
Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemkot Surabaya dan sejumlah perguruan tinggi. (Humas Pemkot Surabaya)

Jurnas.net - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperluas cakupan penerima Beasiswa Pemuda Tangguh sebagai bagian dari kebijakan redistributif di sektor pendidikan. Jika sebelumnya program tersebut hanya menjangkau sekitar 3.000 mahasiswa, kini jumlah penerima meningkat signifikan menjadi 24.000 mahasiswa pra-sejahtera di Kota Pahlawan.

Perluasan program ini tidak hanya menyasar mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN), tetapi juga mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Komitmen pemerataan akses tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemkot Surabaya dan sejumlah perguruan tinggi di Lobby Balai Kota Surabaya, Kamis, 12 Februari 2026.

Program Beasiswa Pemuda Tangguh dirancang untuk membebaskan biaya pendidikan mahasiswa dari keluarga pra-sejahtera agar mereka dapat melanjutkan studi tanpa terbebani persoalan finansial. Bantuan yang diberikan meliputi pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) atau SPP secara penuh, serta dukungan uang saku bulanan untuk menunjang kebutuhan akademik dan aktivitas perkuliahan.

Salah satu penerima manfaat program tersebut adalah Nabila Aura Fariska, mahasiswi Program Studi Manajemen Pendirian Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Mahasiswi asal Kecamatan Tambaksari Surabaya itu mengaku program beasiswa ini memberikan dampak besar terhadap keberlanjutan studinya di perguruan tinggi. "Sangat senang karena membantu membayar UKT saya untuk berkuliah," kata Nabila, Rabu, 11 Februari 2026.

Nabila menceritakan kondisi ekonomi keluarganya selama ini menjadi tantangan utama dalam membiayai pendidikan. Ayahnya bekerja sebagai pengemudi ojek daring, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga, sehingga pendapatan keluarga terbatas untuk memenuhi kewajiban pembayaran kuliah setiap semester.

"Karena profesi ayah saya sebagai ojek online (ojol) dan ibu saya sebagai ibu rumah tangga biasa, cukup sulit untuk membayar setiap semesternya," katanya.

Menurut Nabila, Beasiswa Pemuda Tangguh tidak hanya meringankan beban biaya pendidikan, tetapi juga memberikan rasa aman secara finansial selama menjalani perkuliahan. Ia menilai bantuan yang diterima sangat membantu dalam menunjang kebutuhan akademik maupun keseharian sebagai mahasiswa.

"Besar sekali (manfaatnya). Karena kan dibayar UKT secara lunas, juga diberi uang saku untuk menunjang kegiatan kuliah sehari-hari juga setiap bulannya," tuturnya.

Bahkan, sebelum memperoleh beasiswa tersebut, Nabila sempat berada dalam kondisi psikologis yang cukup tertekan dan mempertimbangkan untuk tidak melanjutkan kuliah. Hal itu dipicu oleh kegagalannya memperoleh bantuan pendidikan lain serta keterbatasan biaya keluarga.

"Sempat kepikiran gak berkuliah karena memang waktu itu tidak diterima KIP (Kartu Indonesia Pintar), jadinya harus mencari beasiswa lain untuk berkuliah. Tapi untungnya ada Beasiswa Pemuda Tangguh yang membantu saya untuk bisa berkuliah," ungkapnya.

Setelah resmi menjadi penerima Beasiswa Pemuda Tangguh, Nabila mengaku merasa jauh lebih tenang karena tidak lagi dibayangi kekhawatiran terkait biaya pendidikan. "Senang karena tidak ada beban biaya yang ditanggung," tuturnya.

Nabila berharap program Beasiswa Pemuda Tangguh dapat terus dilanjutkan dan diperluas agar semakin banyak mahasiswa pra-sejahtera di Surabaya yang terbantu dan tetap termotivasi menyelesaikan pendidikan tinggi. "Terima kasih Bapak Eri Cahyadi telah menghadirkan program seperti Beasiswa Pemuda Tangguh. Karena program ini membantu saya dan mahasiswa lainnya untuk bisa terus berkuliah," kata Nabila.

Manfaat serupa juga dirasakan oleh Anisah Wahyu Triska, mahasiswi Program Studi Administrasi Publik Universitas Wijaya Putra Surabaya. Sebagai mahasiswa perguruan tinggi swasta, Anisah mengaku biaya pendidikan yang harus ditanggung keluarganya relatif besar, sehingga kehadiran beasiswa ini sangat berarti.

"Besar banget manfaatnya. Jadi memang saya dari universitas swasta jadi SPP-nya lumayan terasa. Jadi ketika dapat beasiswa ini lumayan terbantu, meringankan beban orang tua," kata Anisah.

Anisah berharap program Beasiswa Pemuda Tangguh terus diarahkan untuk menjangkau mahasiswa dari keluarga kurang mampu secara tepat sasaran, khususnya di lingkungan perguruan tinggi swasta. "Terima kasih untuk Bapak Wali Kota yang sudah menghadirkan program Beasiswa Pemuda Tangguh ini, apalagi di universitas swasta," tuturnya.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjelaskan kebijakan tersebut merupakan implementasi nilai Pancasila dan semangat gotong royong dalam pembangunan kota. Ia menekankan keberhasilan program ini tidak terlepas dari dukungan berbagai perguruan tinggi yang bersedia menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah.

"Ada sekitar 32 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, yang menandatangani kerja sama, dan jumlahnya akan terus bertambah secara bertahap," kata Wali Kota Eri Cahyadi.

Ia mengungkapkan peningkatan jumlah penerima beasiswa dari 3.000 menjadi 24.000 mahasiswa merupakan hasil evaluasi sistem serta penguatan koordinasi dengan pihak kampus. Menurutnya, perluasan jangkauan menjadi prioritas utama dibanding sekadar besaran angka penerima. Untuk merealisasikan program tersebut, pemkot mengalokasikan anggaran sekitar Rp150 miliar hingga Rp200 miliar pada tahun 2026.

"Tahun ini lebih besar, tapi yang terpenting bukan jumlahnya, melainkan jangkauannya yang jauh lebih luas. Kebijakan ini diprioritaskan bagi keluarga pra-sejahtera (Desil 1-5) dengan prinsip Satu Keluarga miskin, Satu Sarjana, untuk memutus rantai kemiskinan," terangnya.

Wali Kota Eri menilai kerja sama ini membuktikan perubahan tetap dapat dilakukan meskipun kebijakan UKT berada dalam kewenangan pemerintah pusat dan pihak kampus. Ia menyebut niat membantu masyarakat kecil menjadi landasan utama dalam menjalankan kebijakan tersebut. "Ini terbukti bahwa perubahan bisa dilakukan, jika niatnya untuk membantu rakyat kecil," imbuhnya.

Dukungan terhadap Program Beasiswa Pemuda Tangguh datang dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya. Rektor Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Prof. Nurhasan, menilai kebijakan tersebut sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui akses pendidikan yang lebih luas bagi masyarakat kurang mampu.

"Ini adalah program luar biasa untuk memutus rantai kemiskinan melalui SDM unggul. UNESA siap mendukung penuh, berapapun kuota yang ditugaskan oleh Pak Wali," ujar Prof Hasan.

Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Harjo Seputro, menilai program ini memberikan dampak nyata bagi mahasiswa yang mengalami keterbatasan ekonomi. Ia menilai bantuan pendidikan tersebut mampu mengurangi potensi mahasiswa yang terancam putus kuliah akibat kesulitan biaya. "Kami ucapkan terima kasih atas bantuan pendidikan, khususnya untuk mahasiswa Untag Surabaya yang secara ekonomi masih memerlukan bantuan," ujar Harjo.

Ia juga menegaskan dukungan terhadap program Satu Keluarga, Satu Sarjana sebagai upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat kurang mampu di Kota Surabaya. "Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Wali Kota Surabaya, dan Pemerintah Kota Surabaya atas bantuan pendidikan kepada anak-anak kami yang kurang mampu, yang sedang kuliah di Untag Surabaya," katanya.

Sementara itu, Rektor Universitas Wijaya Putra Surabaya, Budi Endarto, menilai kebijakan tersebut sebagai langkah revolusioner karena menghapus dikotomi antara PTN dan PTS serta menempatkan mahasiswa sebagai pusat kebijakan. 

Ia memandang program ini sebagai bentuk redistributif policy yang berorientasi pada warga Surabaya ber-KTP Surabaya dari keluarga kurang mampu. "Kalau kita melihat perspektifnya, Bapak Wali Kota melakukan redistributif policy, bukan hanya ke mahasiswa PTN, tapi juga mahasiswa PTS. Itu adalah suatu yang terobosan yang sangat fundamental dan substansial," ujar Budi.

Menurutnya, bantuan pendidikan merupakan investasi sosial jangka panjang. Hal ini tentunya membutuhkan sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi agar mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan secara optimal. "Ini sangat bermanfaat sekali. Oleh karena itu saya ucapkan terima kasih kepada Pak Wali Kota yang sudah berani melakukan reorientasi, redistribusi biaya Beasiswa Pemuda Tangguh ini," katanya.

Karena itu, Budi menyampaikan apresiasi atas kebijakan yang dinilai konstruktif bagi mahasiswa perguruan tinggi swasta. "Untuk Wali Kota Surabaya Bapak Eri Cahyadi, kami mengucapkan terima kasih atas kebijakan yang cukup konstruktif dan mengarah kepada mahasiswa perguruan tinggi swasta," pungkasnya. (ADV)

Berita Terbaru

Tradisi Kebo-keboan Alasmalang, Kearifan Lokal Banyuwangi yang Terus Dijaga Lintas Generasi

Tradisi Kebo-keboan Alasmalang, Kearifan Lokal Banyuwangi yang Terus Dijaga Lintas Generasi

Senin, 29 Jun 2026 09:04 WIB

Senin, 29 Jun 2026 09:04 WIB

Jurnas.net – Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, terus menjaga salah satu warisan budaya leluhur …

Khofifah Minta Pertamina Benahi Distribusi BBM Subsidi, Jangan Sampai Kelangkaan Hambat Ekonomi Jatim

Khofifah Minta Pertamina Benahi Distribusi BBM Subsidi, Jangan Sampai Kelangkaan Hambat Ekonomi Jatim

Senin, 29 Jun 2026 08:22 WIB

Senin, 29 Jun 2026 08:22 WIB

Jurnas.net – Kelangkaan BBM subsidi jenis Biosolar dan Pertalite yang dalam beberapa hari terakhir memicu antrean panjang di sejumlah SPBU Jawa Timur akhirnya m…

UCI Kagum dengan Sirkuit BMX Banyuwangi, Sebut Masuk Jajaran Trek Terbaik Dunia

UCI Kagum dengan Sirkuit BMX Banyuwangi, Sebut Masuk Jajaran Trek Terbaik Dunia

Senin, 29 Jun 2026 07:34 WIB

Senin, 29 Jun 2026 07:34 WIB

Jurnas.net – Banyuwangi kembali membuktikan kapasitasnya sebagai tuan rumah ajang olahraga internasional. Banyuwangi BMX Supercross 2026 yang berlangsung pada 2…

Rais Aam Ternyata Awam: Plagiat dan Salah Pasang Harkat Saat Pidato Penutupan Munas - Konbes NU 

Rais Aam Ternyata Awam: Plagiat dan Salah Pasang Harkat Saat Pidato Penutupan Munas - Konbes NU 

Minggu, 28 Jun 2026 16:03 WIB

Minggu, 28 Jun 2026 16:03 WIB

Catatan atas Pidato Kiai Miftah di Penutupan Munas-Konbes NU di Bangkalan Saya menyimak pidato berbahasa Arab Kiai Miftahul Akhyar dalam Munas-Konbes NU di…

Sungai Code di Yogyakarta Dinormalisasi untuk Kembalikan Fungsi Alami dan Perbaikan Lingkungan

Sungai Code di Yogyakarta Dinormalisasi untuk Kembalikan Fungsi Alami dan Perbaikan Lingkungan

Sabtu, 27 Jun 2026 20:45 WIB

Sabtu, 27 Jun 2026 20:45 WIB

Jurnas.net - Pemerintah Kota Yogyakarta memulai proses normalisasi Sungai Code dengan menurunkan alat berat di kawasan Jembatan Sarjito. Normalisasi tersebut me…

Kolaborasi Desainer dan Seniman di Balik Batik Livable Art Purana dan Puragraph 

Kolaborasi Desainer dan Seniman di Balik Batik Livable Art Purana dan Puragraph 

Sabtu, 27 Jun 2026 18:51 WIB

Sabtu, 27 Jun 2026 18:51 WIB

Jurnas.net – Sejumlah kain batik panjang dipajang di salah satu sudut bangunan Hörbiss di YATS Colony Yogyakarta. Deretan kain batik itu ditelurkan hasil kolabo…