TRITURA Menggema dari Madura, Petani Desak Pemerintah Ubah Kebijakan Cukai

author Kurniawan

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Pengusaha rokok sekaligus Owner Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG Grup), HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy alias Gus Lilur. (Dok: Jurnas.net)
Pengusaha rokok sekaligus Owner Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG Grup), HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy alias Gus Lilur. (Dok: Jurnas.net)

Jurnas.net – Persoalan rokok ilegal dan tata kelola cukai dinilai tidak akan pernah tuntas jika pemerintah hanya mengandalkan pendekatan penindakan. Petani tembakau Madura kini mendorong perubahan kebijakan yang lebih fundamental melalui tiga tuntutan strategis yang dirumuskan dalam TRITURA (Tiga Tuntutan Rakyat) Petani Tembakau Madura.

Gagasan ini disampaikan oleh HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy, pengusaha rokok sekaligus Owner Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG Grup), yang akrab disapa Gus Lilur, dalam keterangan tertulis, Kamis, 16 April 2026.

Menurutnya, kondisi industri hasil tembakau saat ini mencerminkan adanya persoalan struktural yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan penindakan hukum. “Kalau hanya penindakan, masalah ini tidak akan selesai. Harus ada solusi kebijakan yang membuka jalan bagi pelaku usaha rakyat dan petani tembakau,” ujar Gus Lilur.

Dalam tuntutan pertama, Gus Lilur menekankan pentingnya pendekatan transformatif untuk mengatasi maraknya rokok ilegal. Ia mengajak para pelaku usaha yang selama ini berada di jalur ilegal untuk berani beralih menjadi pelaku usaha legal.

Namun, menurutnya, langkah tersebut tidak bisa berjalan tanpa dukungan negara. Banyak pelaku usaha kecil terjebak dalam sistem ilegal karena terbentur biaya tinggi dan prosedur yang rumit untuk masuk ke sistem resmi.

“Ini bukan semata soal penindakan, tapi soal perubahan sistem. Pengusaha rokok ilegal harus diberi jalan untuk beralih, bukan hanya ditekan,” tegasnya.

Tuntutan kedua menyasar percepatan realisasi kebijakan cukai khusus rokok rakyat yang sebelumnya telah menjadi komitmen pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan. Gus Lilur menilai kebijakan tersebut menjadi kunci untuk menciptakan keadilan dalam industri tembakau, sekaligus membuka akses legal bagi pelaku usaha kecil.

“Kita sudah mendengar komitmen soal cukai rokok rakyat. Sekarang saatnya direalisasikan, jangan berlarut-larut,” katanya.

Ia bahkan mendesak agar kebijakan tersebut dapat diterbitkan paling lambat dalam satu bulan ke depan, mengingat tekanan ekonomi yang dihadapi petani dan pelaku usaha semakin berat. Menurutnya, tanpa skema cukai yang lebih adaptif dan berpihak, praktik rokok ilegal akan terus berulang karena pelaku usaha kecil tidak memiliki pilihan lain.

Sementara itu, tuntutan ketiga menyoroti pentingnya langkah strategis nasional melalui penerbitan Peraturan Pemerintah tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau Madura. Gus Lilur menilai KEK Tembakau akan menjadi fondasi dalam membangun ekosistem industri yang terintegrasi, mulai dari petani, produksi, hingga distribusi dan pasar.

“KEK Tembakau Madura adalah solusi jangka panjang. Ini akan menghubungkan petani, industri, dan pasar dalam satu ekosistem yang kuat,” jelasnya.

Dengan adanya KEK, Madura diharapkan mampu bertransformasi menjadi pusat industri tembakau yang tidak hanya berdaya saing nasional, tetapi juga mampu menembus pasar global.

TRITURA Petani Tembakau Madura, lanjut Gus Lilur, merupakan bentuk respon konkret terhadap persoalan mendasar yang selama ini membelit sektor tembakau. Ia menegaskan, pemerintah perlu segera mengambil langkah kebijakan yang tidak hanya bersifat represif, tetapi juga konstruktif dan berkeadilan bagi seluruh pelaku di sektor ini.

“Kalau kita ingin industri ini sehat, maka harus dimulai dari kebijakan yang adil. Petani harus sejahtera, pelaku usaha harus hidup, dan negara juga harus mendapatkan manfaatnya,” pungkasnya.

Berita Terbaru

AHWA Vs Voting Jadi Titik Krusial Muktamar NU, Tiga Tokoh Ingatkan Risiko Perebutan Kekuasaan PBNU

AHWA Vs Voting Jadi Titik Krusial Muktamar NU, Tiga Tokoh Ingatkan Risiko Perebutan Kekuasaan PBNU

Sabtu, 29 Agu 2026 20:39 WIB

Sabtu, 29 Agu 2026 20:39 WIB

Jurnas.net — Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 memasuki fase krusial. Para muktamirin kini dihadapkan pada pilihan mekanisme pemilihan Ketua Umum Pengurus B…

Merdeka Carnival Jadi Panggung Warga Bawean Suarakan Krisis Transportasi Laut yang Lumpuh

Merdeka Carnival Jadi Panggung Warga Bawean Suarakan Krisis Transportasi Laut yang Lumpuh

Sabtu, 29 Agu 2026 19:31 WIB

Sabtu, 29 Agu 2026 19:31 WIB

Jurnas.net — Semarak Merdeka Carnival yang digelar Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Kabupaten Gresik …

Emil Dardak Jadi Calon Tunggal Ketua Demokrat Jatim, DPP: Bukan Penunjukan Ketua Umum

Emil Dardak Jadi Calon Tunggal Ketua Demokrat Jatim, DPP: Bukan Penunjukan Ketua Umum

Sabtu, 29 Agu 2026 17:14 WIB

Sabtu, 29 Agu 2026 17:14 WIB

Jurnas.net — Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menjadi satu-satunya kandidat Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur dalam Musyawarah Daerah (…

PCNU Garut Tegaskan Tetap Dukung Said Aqil sebagai Rais Aam PBNU

PCNU Garut Tegaskan Tetap Dukung Said Aqil sebagai Rais Aam PBNU

Jumat, 28 Agu 2026 16:29 WIB

Jumat, 28 Agu 2026 16:29 WIB

Jurnas.net — Dukungan terhadap KH Said Aqil Siroj untuk kembali menduduki posisi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) muncul dari jajaran Syuriah P…

18.680 Lembar Uang Palsu Rupiah Dimusnahkan BI DIY

18.680 Lembar Uang Palsu Rupiah Dimusnahkan BI DIY

Jumat, 28 Agu 2026 15:34 WIB

Jumat, 28 Agu 2026 15:34 WIB

Jurnas.net - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (KPwBI DIY) memusnahkan belasan ribu lembar uang palsu rupiah. Pemusnahan itu dilakukan…

SIER Salurkan Bantuan Rp423 Juta untuk Korban Gempa NTT, Ada 9,5 Ton Beras hingga 1.100 Porsi Makanan

SIER Salurkan Bantuan Rp423 Juta untuk Korban Gempa NTT, Ada 9,5 Ton Beras hingga 1.100 Porsi Makanan

Jumat, 28 Agu 2026 13:03 WIB

Jumat, 28 Agu 2026 13:03 WIB

Jurnas.net — Kepedulian terhadap korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong keluarga besar holding kawasan industri bergerak bersama. PT D…