Band Kotak dan Seniman Banyuwangi Hidupkan Sejarah Blambangan Sekaligus Galang Dana untuk Sumatra

Reporter : Wulansari
Konser Kemanusiaan yang digelar di Gedung Seni dan Budaya (Gesibu) Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (Humas Pemkab Banyuwangi)

Jurnas.net - Peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254 tahun ini tidak sekadar menjadi perayaan seremonial. Melalui Konser Kemanusiaan yang digelar di Gedung Seni dan Budaya (Gesibu) Banyuwangi, Sabtu malam, 20 Desember 2025, sejarah, seni, dan kepedulian sosial dipertemukan dalam satu panggung kolosal.

Drama musikal bertajuk “Bayu Tak Pernah Padam” menjadi sajian utama. Pertunjukan ini mengangkat kisah heroik perjuangan rakyat Banyuwangi dalam mempertahankan Tanah Blambangan dari penjajahan, dengan tokoh sentral Mas Rempeg Jogopati dan pahlawan perempuan Sayu Wiwit. Kisah sejarah tersebut dikemas dalam balutan tari, teater, dan musik lintas generasi.

Baca juga: Penyeberangan Ketapang–Gilimanuk Ditutup Saat Nyepi 18–20 Maret 2026, Ini Jadwal Lengkapnya

Kolaborasi antara Kotak Band dan para seniman Banyuwangi menghadirkan pengalaman artistik yang berbeda. Musisi legendaris hingga generasi muda turut tampil, di antaranya Yon DD, Sumiati, Wandra, serta Maestro Gandrung Mbok Temuk.

Perpaduan musik modern dan tradisi lokal menjadi benang merah pertunjukan ini.
Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah penampilan vokalis Kotak, Tantri Syalindri Ichlasari, yang berkolaborasi dengan grup musik tradisional Dmar Art. Mengenakan omprog dan selendang merah khas Gandrung, Tantri membawakan lagu Satu Indonesia dengan sentuhan etnik yang kuat.

“Hari ini terasa magis. Kami bukan hanya tampil, tapi menjadi bagian dari cerita dan sejarah Banyuwangi. Apalagi bisa satu panggung dengan Mak Temuk, itu pengalaman yang sangat berharga,” ujar Tantri.

Tantri juga mengungkapkan bahwa Kotak terlibat langsung dalam proses kreatif drama musikal tersebut. “Sejak sebulan sebelum konser, kami ikut merancang pertunjukan kolosal ini khusus untuk Banyuwangi. Unsur Gandrung selalu kami sematkan sebagai pembuka setiap penampilan Kotak di mana pun,” katanya.

Baca juga: Jelang Lebaran, Harga Daging Sapi di Banyuwangi Tembus Rp150 Ribu per Kg

Keterlibatan Kotak dalam konser ini juga memiliki ikatan emosional tersendiri. Gitaris Kotak, Mario Marcella Handika Putra atau Cella, merupakan putra asli Banyuwangi. Baginya, tampil di kampung halaman dalam momentum Harjaba sekaligus konser kemanusiaan memiliki makna mendalam. Tak hanya menyuguhkan pertunjukan seni, konser ini juga menjadi wadah solidaritas.

Melalui program Banyuwangi Berbagi, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berhasil menghimpun dana sebesar Rp500 juta dari partisipasi Aparatur Sipil Negara (ASN). Dana tersebut akan disalurkan untuk warga miskin Banyuwangi serta membantu korban bencana, termasuk di wilayah Sumatera.

Dari penonton yang hadir, terkumpul donasi tambahan sebesar Rp8,5 juta yang juga diperuntukkan bagi korban bencana di Sumatera. Selain itu, Kotak turut mendonasikan sebagian honor penampilannya untuk membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Baca juga: Banyuwangi Bangun TPS3R Karetan, Mampu Olah 160 Ton Sampah per Hari untuk 100 Ribu Rumah Tangga

Sebagai bagian dari rangkaian Harjaba ke-254, berbagai aksi sosial terus digulirkan. Sebelumnya, Pemkab Banyuwangi juga menghimpun lebih dari 1.000 paket sembako dari pengganti karangan bunga ucapan hari jadi.

“Di tengah peringatan hari jadi, Banyuwangi tetap memikirkan saudara-saudara kita yang tertimpa bencana. Terima kasih kepada Pemkab dan seluruh masyarakat Banyuwangi atas konser kemanusiaan ini,” ujar Cella, yang telah 20 tahun bersama Kotak.

Editor : Risfil Athon

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru