Jurnas.net – Gelaran Halal Bihalal (HBH) Bawean Internasional 2026 di Yogyakarta dipastikan tak sekadar menjadi ajang silaturahmi diaspora dan panggung budaya. Tahun ini, acara tersebut akan menghadirkan penampilan istimewa dari qoriah legendaris asal Bawean, Siti Aisyah Azis, Juara 1 Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional 1985 sekaligus murid maestro tilawah, Muammar ZA.
Salah satu panitia HBH Bawean Internasional, Ar Akhmad Fatah Yasin, menegaskan bahwa penampilan Siti Aisyah bukan sekadar nostalgia. Kehadiran sosok senior itu, bakal menjadi magnet utama, sekaligus simbol kebangkitan tradisi tilawah Bawean di kancah nasional.
Baca juga: HBH Bawean Internasional Satukan Diaspora Dunia: Jazilul Fawaid Dorong Kontribusi Nyata untuk Daerah
“Beliau adalah salah satu qoriah terbaik yang pernah dimiliki Bawean. Kehadirannya bukan hanya untuk tampil, tetapi menjadi inspirasi bagi generasi muda,” kata Afys, sapaan akrabnya, Jumat, 10 April 2026.
Afys mengungkapkan, pihaknya secara khusus menghadirkan Siti Aisyah untuk membangkitkan kesadaran kolektif. Meski Bawean merupakan pulau kecil di utara Gresik, mampu melahirkan tokoh-tokoh besar di bidang tilawah Al-Qur’an.
“Meski beliau sudah senior, suaranya tetap merdu. Kami bangga, Bawean pernah memiliki qoriah yang mengantarkan Jawa Timur menjadi juara nasional tahun 1985,” tegasnya.
Menurutnya, momentum HBH Bawean Internasional 2026 harus dimanfaatkan sebagai titik balik kebangkitan prestasi generasi muda Bawean di ajang MTQ. “Ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tapi menghidupkan kembali semangat berprestasi,” kata pria yang juga Owner & Pricipal Architect itu.
Siti Aisyah Azis sendiri merupakan putri daerah asal Desa Teluk Dalam, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean. Sejak kecil, ia telah ditempa dalam lingkungan religius oleh kedua orang tuanya, Abdul Razak dan Saida. Ketekunan itu mengantarkannya menapaki prestasi sejak usia dini.
Perjalanan kariernya dimulai saat masih duduk di bangku sekolah dasar, ketika ia meraih juara pertama MTQ tingkat kecamatan, lalu berlanjut hingga tingkat Kabupaten Gresik. Bakatnya terus berkembang melalui bimbingan para ulama dan maestro tilawah, termasuk Muammar ZA, KH Basori Alwi, KH Daman Huri, KH Salahuddin Ghozali, hingga Ustadzah Maria Ulfa.
Pembinaan intensif dari lembaga keagamaan turut mengantarkannya menembus panggung nasional. Pada 1983, ia meraih juara 3 MTQ Nasional di Padang, Sumatera Barat. Puncaknya, pada 1985, ia sukses menyabet gelar juara 1 MTQ Nasional.
“Dulu punya keinginan sederhana, ingin jadi juara qori, minimal nasional. Alhamdulillah Allah kabulkan,” kenang Aisyah.
Prestasi tersebut mengukuhkan Bawean sebagai salah satu lumbung qoriah terbaik di Indonesia pada era 1980-an. Nama-nama seperti Nikmatuz Zahra, Faridah, Halimah, hingga Mariam turut mewarnai kejayaan tersebut.
Kini, Siti Aisyah lebih banyak mengabdikan diri sebagai pendidik. Ia aktif membina generasi muda di Kabupaten Malang, serta kerap dipercaya menjadi dewan hakim MTQ tingkat Jawa Timur. Meski telah mencapai puncak prestasi, ia tetap dikenal rendah hati. “Saya ini dari keluarga sederhana. Alhamdulillah masih diberi kesempatan berbagi ilmu,” tuturnya.
Bagi Aisyah, tampil di HBH Bawean Internasional 2026 membawa misi besar, menghidupkan kembali kejayaan qoriah Bawean. Ia berharap generasi muda mampu melanjutkan jejak prestasi yang pernah ditorehkan pendahulunya.
“Dari pulau kecil, dari keluarga sederhana, kalau tekun belajar pasti bisa sampai nasional. Bawean masih punya suara, tinggal dibangkitkan lagi,” pungkasnya.
Editor : Amal