Jurnas.net – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) terus memperkuat pengembangan kawasan pesisir berbasis lingkungan berkelanjutan. Salah satu langkah strategis yang kini didorong adalah penerapan sistem budidaya perikanan berbasis silvofishery, yakni konsep penggabungan tambak ikan dengan ekosistem mangrove dalam satu kawasan terpadu.
Konsep tersebut diyakini mampu menjaga keseimbangan lingkungan pesisir sekaligus meningkatkan produktivitas perikanan dan kesejahteraan masyarakat tambak di Surabaya.
Kepala BRIDA Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, mengatakan pengembangan silvofishery dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya. Dalam skema tersebut, DKPP fokus pada pembinaan masyarakat pesisir dan petambak, sedangkan BRIDA bertugas memperkuat riset serta pengembangan inovasi kawasan.
“Konsepnya adalah penggabungan antara mangrove dan tambak ikan dalam satu ekosistem. Jadi mangrove tidak dipisahkan, tetapi justru menjadi bagian penting dari kawasan budidaya,” kata Agus, Senin, 25 Mei 2026.
Menurut Agus, hasil riset yang dilakukan menunjukkan keberadaan mangrove di area tambak tidak menurunkan produktivitas hasil budidaya. Sebaliknya, ekosistem mangrove justru menciptakan kondisi lingkungan yang lebih stabil dan mendukung pertumbuhan biota perairan.
“Kalau tambak dicampur dengan mangrove, justru hasilnya bisa lebih baik. Ekosistemnya menjadi lebih sehat dan mendukung perkembangan ikan maupun biota lainnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, sistem silvofishery juga dinilai menjadi solusi jangka panjang dalam menjaga kawasan pesisir Surabaya dari ancaman abrasi dan kerusakan lingkungan akibat perubahan iklim. Meski memiliki banyak manfaat, Agus mengakui penerapan konsep tersebut masih menghadapi tantangan, terutama karena sebagian masyarakat pesisir masih terbiasa menggunakan pola tambak konvensional.
Karena itu, BRIDA Surabaya kini menyiapkan sejumlah kawasan percontohan atau pilot project agar para petambak dapat melihat langsung efektivitas sistem silvofishery terhadap peningkatan hasil panen maupun kualitas lingkungan. “Kami siapkan area percobaan supaya masyarakat bisa melihat langsung hasilnya. Biasanya kalau sudah terbukti berhasil, masyarakat akan lebih mudah menerima,” katanya.
Suasana mangrove di Surabaya. (Humas Pemkot Surabaya)
BRIDA berharap konsep silvofishery ke depan dapat diterapkan lebih luas di kawasan pesisir Surabaya, khususnya di wilayah yang memiliki potensi pengembangan tambak dan konservasi mangrove. Selain berdampak terhadap produktivitas perikanan, perluasan kawasan mangrove juga dinilai mampu meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan.
“Kalau tutupan mangrove semakin luas, tentu dampaknya bagus untuk lingkungan. Udara menjadi lebih sejuk, oksigen bertambah, dan kawasan pesisir lebih terlindungi,” ujarnya.
Tidak hanya fokus pada pengembangan tambak dan konservasi, BRIDA Surabaya juga tengah menyiapkan inovasi baru berupa pengembangan menu kuliner khas pesisir berbahan dasar hasil perikanan lokal. Program tersebut akan melibatkan sejumlah perguruan tinggi yang memiliki kompetensi di bidang kuliner dan pengolahan pangan.
“Kami sedang menyiapkan menu khas pesisir berbasis hasil perikanan Surabaya. Prosesnya melibatkan kampus-kampus agar hasilnya lebih inovatif dan memiliki nilai ekonomi,” terang Agus.
Di sisi lain, Agus menegaskan bahwa keberadaan Kebun Raya Mangrove Surabaya memiliki fungsi strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir Kota Surabaya. Menurutnya, kawasan mangrove di Surabaya, khususnya di wilayah Gunung Anyar dan Wonorejo, tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, tetapi juga menjadi pusat edukasi, penelitian, dan pengembangan ekosistem pesisir.
“Ekosistem mangrove itu tidak hanya soal tumbuhan, tetapi juga habitat berbagai biota seperti kepiting dan organisme pesisir lainnya. Semua itu ingin terus kita jaga dan kembangkan,” tuturnya.
Ia menambahkan, pengelolaan Kebun Raya Mangrove yang berada di bawah BRIDA menjadi bagian dari penguatan fungsi riset dan inovasi lingkungan di Surabaya. "Kebun raya itu bukan hanya tempat konservasi, tetapi juga pusat edukasi dan riset. Karena itu pengelolaannya berada di bawah BRIDA,” pungkasnya.
Editor : Rahmat Fajar