Perjalanan Tengkar KH Miftahul Akhyar

Reporter : Kurniawan
Warga NU sekaligus kiai kampung, HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur. (Dok: Jurnas.net)

Jurnas.net – Dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang terus menjadi sorotan publik memunculkan keprihatinan dari kalangan warga Nahdlatul Ulama. Salah satunya disampaikan Warga NU sekaligus kiai kampung, HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur.

Menurut Gus Lilur, konflik yang berkepanjangan di tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia itu telah menimbulkan kegelisahan di kalangan warga nahdliyin. Ia menilai pertentangan antarelite PBNU yang terus berlangsung berpotensi menggerus marwah organisasi yang selama ini dikenal sebagai perekat umat.

Baca juga: Gus Lilur: Ketua Umum PBNU Harus Dukung Keberlanjutan Prabowo-Gibran Demi Persatuan Bangsa

"Sebagai warga NU dan kiai kampung, saya melihat mayoritas warga NU sesungguhnya tidak menginginkan para pemimpinnya terus bertengkar. NU dibangun dengan semangat ukhuwah, bukan dengan konflik yang terus dipertontonkan kepada publik," kata Gus Lilur, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 27 Juni 2026.

Ia mengatakan, harapan warga NU sempat menguat setelah lahirnya Islah Lirboyo yang diyakini dapat meredakan ketegangan di internal PBNU. Namun hingga kini, menurutnya, dinamika tersebut belum benar-benar berakhir.

Menelusuri Akar Konflik

Dalam pandangannya, konflik yang terjadi di PBNU tidak bisa disederhanakan hanya sebagai perselisihan antara Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dengan Sekretaris Jenderal Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Gus Lilur mengaku mencoba melakukan tabayun dengan menelusuri perjalanan sejarah dinamika organisasi NU sejak tingkat cabang, wilayah hingga PBNU.

"Dari penelusuran yang saya lakukan, saya melihat ada pola yang terus berulang dalam setiap fase konflik. Karena itu saya mengajak warga NU melihat persoalan ini secara lebih utuh, bukan hanya dari satu peristiwa atau satu sudut pandang," katanya.

Menurutnya, rekam jejak perjalanan organisasi perlu menjadi bahan evaluasi menjelang Muktamar NU agar warga nahdliyin dapat menentukan figur kepemimpinan yang mampu menjaga persatuan organisasi.

Menyinggung Perjalanan KH Miftahul Akhyar

Baca juga: Jelang Muktamar NU 2026, NBI Dorong Duet Kiai Karismatik dan Intelektual Muda Pimpin PBNU

Dalam catatan yang disampaikannya, Gus Lilur menilai nama Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar kerap muncul dalam berbagai dinamika organisasi sejak masih menjabat Rais Syuriah PCNU Surabaya, kemudian Rais Syuriah PWNU Jawa Timur, hingga kini menjadi Rais Aam PBNU.

Gus Lilur pun menyoroti sejumlah fase hubungan kerja KH Miftahul Akhyar dengan sejumlah tokoh NU, mulai dari KH Asep Saifuddin Chalim di PCNU Surabaya, KH Mutawakkil Alallah di PWNU Jawa Timur, hingga dinamika bersama KH Ma'ruf Amin, KH Said Aqil Siradj, dan saat ini bersama Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Menurut Gus Lilur, kemunculan pola konflik yang berulang patut menjadi bahan refleksi bersama bagi warga NU.

"Saya tidak sedang menyalahkan satu orang. Konflik sebesar NU tentu dipengaruhi banyak faktor, mulai dari perbedaan visi, komunikasi organisasi, hingga dinamika politik internal. Tetapi pola yang berulang dari waktu ke waktu tentu layak menjadi bahan renungan bersama," ujarnya.

Gus Lilur menegaskan, NU merupakan organisasi besar yang memiliki sejarah panjang dalam menjaga persatuan umat. Karena itu, ia berharap kepemimpinan NU ke depan mampu menghadirkan suasana yang lebih teduh dan inklusif. Menurutnya, figur pemimpin NU ideal adalah sosok yang mampu menjadi perekat seluruh elemen jam'iyah, bukan justru memperlebar fragmentasi di internal organisasi.

"NU membutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan seluruh elemen, menjadi teladan dalam kesederhanaan, serta mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan setiap persoalan organisasi," katanya.

Baca juga: Gus Lilur: MBG Pasti Meroket Jika Tanpa Copet

Ia juga membandingkan kepemimpinan Rais Aam terdahulu seperti KH Ahmad Siddiq dan KH Sahal Mahfudz yang menurutnya dikenang karena kedalaman ilmu, kesederhanaan hidup, serta kemampuan menjaga harmoni di lingkungan NU. "Tokoh-tokoh seperti KH Ahmad Siddiq dan KH Sahal Mahfudz menjadi teladan karena mampu menjaga persatuan warga nahdliyin. Kepemimpinan seperti itulah yang menurut saya dibutuhkan NU saat ini," ujar Gus Lilur.

Harapan Jelang Muktamar NU

Menjelang Muktamar NU ke-35, Gus Lilur berharap forum tertinggi organisasi itu dapat melahirkan kepemimpinan yang mampu mengakhiri konflik berkepanjangan dan mengembalikan fokus NU pada pengabdian kepada umat, pendidikan, dakwah, serta pemberdayaan masyarakat.

"NU terlalu besar jika terus disibukkan oleh konflik elite. Sudah saatnya Muktamar menghadirkan kepemimpinan yang mampu merangkul semua pihak, memperkuat persatuan, dan membawa NU semakin bermanfaat bagi umat dan bangsa," pungkasnya.

Editor : Rahmat Fajar

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru