Gus Lilur: Ketua Umum PBNU Harus Dukung Keberlanjutan Prabowo-Gibran Demi Persatuan Bangsa

author Wulansari

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Tokoh muda NU HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar. (Dok: Jurnas.net)
Tokoh muda NU HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar. (Dok: Jurnas.net)

Jurnas.net – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, tokoh muda NU HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, menyerukan agar forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia itu tidak berubah menjadi arena pertarungan kepentingan politik dan perebutan kekuasaan.

Menurut kiai asal Situbondo, Jawa Timur tersebut, Muktamar ke-35 harus menjadi momentum pemurnian arah perjuangan NU sebagai organisasi keagamaan dan kebangsaan yang selama ini dikenal sebagai penjaga persatuan Indonesia.

Gus Lilur mengingatkan seluruh peserta muktamar agar belajar dari dinamika yang terjadi pasca Muktamar NU ke-34 di Lampung pada Desember 2021. Ia menilai berbagai gejolak internal yang muncul setelah muktamar tersebut menjadi pelajaran berharga bagi warga nahdliyin untuk lebih cermat dalam menentukan kepemimpinan organisasi.

“Muktamar Lampung harus menjadi pelajaran yang tidak boleh dilupakan. Ketika proses pemilihan lebih banyak dipengaruhi kepentingan politik dan kekuasaan, dampaknya bisa sangat serius bagi organisasi. NU mengalami berbagai gejolak internal yang menguras energi dan mengganggu fokus perjuangan umat,” kata Gus Lilur, Jumat, 19 Juni 2026.

Menurutnya, Muktamar ke-35 tidak hanya menentukan siapa yang akan memimpin PBNU lima tahun ke depan, tetapi juga menentukan arah strategis NU dalam menjaga stabilitas nasional di tengah tantangan global yang semakin kompleks. Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, konflik geopolitik internasional, hingga meningkatnya ancaman polarisasi sosial, NU dinilai memiliki tanggung jawab moral yang sangat besar sebagai organisasi yang menaungi puluhan juta warga Indonesia.

“NU bukan organisasi biasa. NU adalah salah satu pilar utama bangsa yang ikut melahirkan republik ini. Karena itu setiap keputusan penting yang diambil dalam muktamar harus selalu diukur dengan satu pertanyaan besar: apakah keputusan itu memperkuat atau justru melemahkan persatuan bangsa?,” tegasnya.

Gus Lilur kemudian mengaitkan semangat yang seharusnya hadir dalam Muktamar NU ke-35 dengan keteladanan para pendiri bangsa saat menyelesaikan perdebatan Piagam Jakarta pada awal kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, keputusan para tokoh Islam pada 18 Agustus 1945 untuk menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi menjaga keutuhan bangsa merupakan contoh tertinggi dari sikap kenegarawanan dan pengorbanan demi kepentingan yang lebih besar.

“Para pendiri bangsa saat itu memilih menjaga persatuan nasional daripada mempertahankan kepentingan golongan. Itu bukan kekalahan, melainkan kemenangan moral yang luar biasa. Semangat seperti itulah yang harus dibawa para peserta muktamar ketika menentukan pemimpin NU,” ujarnya.

Bagi Gus Lilur, pemimpin NU ke depan harus memiliki visi kebangsaan yang kuat, kapasitas keilmuan yang mumpuni, serta mampu menjaga harmoni antara kepentingan umat dan kepentingan negara. Dalam konteks tersebut, ia secara terbuka menyatakan bahwa kepemimpinan NU hasil Muktamar ke-35 perlu mendukung keberlanjutan agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hingga dua periode.

Ia beralasan, pemerintahan Prabowo-Gibran telah menjadi titik temu berbagai kekuatan politik nasional yang sebelumnya terbelah akibat kontestasi politik berkepanjangan. “Kita pernah mengalami polarisasi tajam di masyarakat. Istilah cebong dan kampret pernah membelah bangsa. Bahkan rivalitas antarkelompok dan institusi negara juga sering menjadi sorotan publik. Hari ini Prabowo dan Gibran menjadi simbol penyatuan berbagai kekuatan nasional. Demi menjaga persatuan itu, NU membutuhkan pemimpin yang memiliki pandangan kebangsaan yang sejalan,” katanya.

Atas pertimbangan tersebut, Gus Lilur menyatakan dukungannya kepada Prof Dr H Nasaruddin Umar untuk memimpin PBNU sebagai Ketua Umum dan Prof Dr KH Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam PBNU. Menurutnya, kedua tokoh tersebut memiliki kombinasi lengkap antara kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, rekam jejak kebangsaan, serta pengakuan internasional yang dibutuhkan NU untuk menghadapi tantangan zaman.

“Nasaruddin Umar adalah ulama, akademisi, dan tokoh dialog antaragama yang dikenal dunia internasional. Sementara KH Said Aqil Siradj memiliki pengalaman panjang memimpin NU dan jaringan keulamaan yang kuat. Keduanya adalah figur yang mampu mengangkat marwah NU di tingkat global,” ujar Gus Lilur.

Ia juga menyoroti fenomena munculnya figur-figur yang menurutnya hanya mengandalkan popularitas simbolik pesantren tanpa didukung kapasitas keilmuan yang memadai. Gus Lilur menyebut fenomena tersebut sebagai munculnya “gus-gus nanggung”, yakni tokoh yang menjadikan identitas kesantrian sebagai alat legitimasi politik dan kendaraan untuk mengejar kepentingan pribadi.

“NU harus dipimpin ulama yang benar-benar memiliki kedalaman ilmu, wawasan kebangsaan, dan integritas moral. Jangan sampai organisasi sebesar NU hanya dijadikan batu loncatan untuk karier politik atau kepentingan kelompok tertentu,” tegasnya.

Ia menegaskan bahwa Muktamar NU ke-35 merupakan momentum yang akan menentukan wajah organisasi dalam beberapa dekade ke depan. Karena itu, para kiai, ulama, dan peserta muktamar diminta mengedepankan pertimbangan keilmuan, akhlak, dan kepentingan umat di atas kalkulasi politik praktis.

“Ini bukan sekadar pergantian kepengurusan lima tahunan. Ini adalah ujian sejarah bagi NU. Apakah NU akan kembali sepenuhnya menjadi rumah besar para ulama dan penjaga persatuan bangsa, atau justru terus terseret dalam pusaran perebutan kekuasaan. Pilihan itu ada di tangan peserta muktamar,” pungkas Gus Lilur.

Berita Terbaru

Jika Surat Penyetaraan Tidak Sah, Masih Lengkapkah Syarat Pencalonan Gibran?

Jika Surat Penyetaraan Tidak Sah, Masih Lengkapkah Syarat Pencalonan Gibran?

Minggu, 01 Nov 2026 10:49 WIB

Minggu, 01 Nov 2026 10:49 WIB

Oleh: Wakit Nurohman Advokat dan Mahasiswa Magister Hukum Universitas Surabaya (Ubaya) Putusan Mahkamah Agung Nomor 742 K/TUN/2026 mengenai Surat Keterangan…

Golkar Jatim Dukung Pemulangan Jimat Klontong, Pusaka Leluhur Tengger yang Tersimpan di Belanda

Golkar Jatim Dukung Pemulangan Jimat Klontong, Pusaka Leluhur Tengger yang Tersimpan di Belanda

Sabtu, 31 Okt 2026 19:32 WIB

Sabtu, 31 Okt 2026 19:32 WIB

Jurnas.net – Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, H. Ali Mufthi, mendukung upaya pemulangan Jimat Klontong, pusaka bersejarah yang menjadi bagian dari identitas …

Ketika Angka Pertumbuhan Tidak Lagi Cukup

Ketika Angka Pertumbuhan Tidak Lagi Cukup

Sabtu, 31 Okt 2026 18:21 WIB

Sabtu, 31 Okt 2026 18:21 WIB

Oleh: Prof. Dr. Dian Anita Nuswantara, S.E., M.Si., Ak., CA, CIPSAS Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Perekonomian tidak hanya bergerak melalui…

SIER Salurkan Dua Tandon Air Bersih untuk Warga Terdampak Kebakaran Gunung Arjuno

SIER Salurkan Dua Tandon Air Bersih untuk Warga Terdampak Kebakaran Gunung Arjuno

Sabtu, 31 Okt 2026 13:14 WIB

Sabtu, 31 Okt 2026 13:14 WIB

Jurnas.net - PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) terus menunjukkan kepeduliannya terhadap kebutuhan dasar masyarakat melalui program Tanggung Jawab…

PMII Desak Kapolres Probolinggo Buka Dasar Hukum Melepas Dua Orang dalam Kasus Rokok Ilegal

PMII Desak Kapolres Probolinggo Buka Dasar Hukum Melepas Dua Orang dalam Kasus Rokok Ilegal

Sabtu, 31 Okt 2026 11:05 WIB

Sabtu, 31 Okt 2026 11:05 WIB

Jurnas.net – Penanganan dugaan peredaran rokok ilegal oleh Polres Probolinggo menjadi sorotan setelah dua orang yang dipersoalkan massa demonstran disebut d…

SIER Gerak Cepat Tangani Insiden Kebakaran di TPST Lestari PIER, Seluruh Pekerja Dipastikan Selamat

SIER Gerak Cepat Tangani Insiden Kebakaran di TPST Lestari PIER, Seluruh Pekerja Dipastikan Selamat

Jumat, 30 Okt 2026 19:42 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 19:42 WIB

Jurnas.net – PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) bergerak cepat menangani insiden kebakaran yang terjadi di area Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (…

Bangun Platform Ekspor Kopi, Wisudawan Universitas Ciputra Hubungkan 50 Petani ke Pasar Global

Bangun Platform Ekspor Kopi, Wisudawan Universitas Ciputra Hubungkan 50 Petani ke Pasar Global

Jumat, 30 Okt 2026 17:10 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 17:10 WIB

Jurnas.net – Memulai bisnis kopi dari pasar lokal, Aryasetya Kanaka Dumadi berhasil mengembangkan usahanya hingga menembus pasar internasional. Wisudawan p…

Data KTP dan KK Warga 4 Wilayah Diduga Dipakai untuk Penipuan dan Judol, Polisi Tangkap Pria Sidoarjo

Data KTP dan KK Warga 4 Wilayah Diduga Dipakai untuk Penipuan dan Judol, Polisi Tangkap Pria Sidoarjo

Jumat, 30 Okt 2026 10:27 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 10:27 WIB

Jurnas.net – Direktorat Siber Polda Jawa Timur mengungkap dugaan penyalahgunaan data kependudukan berupa kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK) y…

Alit Kelakan Terpilih sebagai Ketua Umum DPP GPM Periode 2026–2030

Alit Kelakan Terpilih sebagai Ketua Umum DPP GPM Periode 2026–2030

Kamis, 29 Okt 2026 20:35 WIB

Kamis, 29 Okt 2026 20:35 WIB

Jurnas.net - I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan atau Alit Kelakan terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Marhaenis (DPP GPM) periode…

Fakta Persidangan: Eks Kadis ESDM Jatim Nur Kholis Diduga Terima Rp 687,5 Juta Hasil Pungli Izin Tambang

Fakta Persidangan: Eks Kadis ESDM Jatim Nur Kholis Diduga Terima Rp 687,5 Juta Hasil Pungli Izin Tambang

Kamis, 29 Okt 2026 17:21 WIB

Kamis, 29 Okt 2026 17:21 WIB

Jurnas.net – Dugaan aliran dana pungutan liar (pungli) senilai Rp 687,5 juta kepada mantan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur, Nur K…

Eddy Soeparno Sebut Transmisi Kunci Transisi Energi, Dorong Investasi dan Kerja Sama Indonesia-Jepang

Eddy Soeparno Sebut Transmisi Kunci Transisi Energi, Dorong Investasi dan Kerja Sama Indonesia-Jepang

Rabu, 28 Okt 2026 21:55 WIB

Rabu, 28 Okt 2026 21:55 WIB

Jurnas.net - Penguatan jaringan transmisi listrik menjadi kunci keberhasilan transisi energi Indonesia. Pembangunan pembangkit energi terbarukan harus diiringi…

Hasto Kristiyanto: Marhaenisme adalah Ideologi Pembebasan

Hasto Kristiyanto: Marhaenisme adalah Ideologi Pembebasan

Rabu, 28 Okt 2026 20:56 WIB

Rabu, 28 Okt 2026 20:56 WIB

Jurnas.net - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan pentingnya menghidupkan kembali pemikiran Bung Karno dan menempatkan Marhaenisme…

Gerakan Pemuda Marhaenis Hidupkan Kembali Pemikiran Bung Karno

Gerakan Pemuda Marhaenis Hidupkan Kembali Pemikiran Bung Karno

Rabu, 28 Okt 2026 18:48 WIB

Rabu, 28 Okt 2026 18:48 WIB

Jurnas.net - Ketua Umum DPP Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM), Ir. Izedrik Emir Moeis, M.Sc., menekankan pentingnya mengenalkan kembali pemikiran Bung Karno…

Puguh Wiji Pamungkas: Penanganan Pengangguran Tak Cukup Andalkan Job Fair

Puguh Wiji Pamungkas: Penanganan Pengangguran Tak Cukup Andalkan Job Fair

Selasa, 27 Okt 2026 17:51 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 17:51 WIB

Jurnas.net – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, menilai penanganan pengangguran tidak cukup hanya mengandalkan program bursa kerja atau j…

Motif Suami Siri Bunuh Ibu dan Anak di Madiun, Karena Takut Kejahatannya Terbongkar

Motif Suami Siri Bunuh Ibu dan Anak di Madiun, Karena Takut Kejahatannya Terbongkar

Selasa, 27 Okt 2026 14:33 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 14:33 WIB

Jurnas.net - Kekhawatiran aksinya terbongkar diduga menjadi motif Dwi Bagus Martono (40) membunuh anak tirinya, AGM, yang baru berusia empat tahun di Kota…