Jurnas.net - Hubungan historis antara Giri (Gresik) dan Lombok kembali mengemuka dalam Seminar Nasional Naskah Nusantara yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Selasa, 9 Desember 2025. Namun, Ketua DPRD Gresik, Muhammad Syahrul Munir, menghadirkan perspektif yang berbeda, hubungan dua wilayah itu bukan sekadar catatan sejarah Islamisasi abad ke-16, melainkan model diplomasi kebudayaan lintas daerah yang relevan untuk Indonesia hari ini.
Seminar yang diprakarsai Kementerian Kebudayaan RI dan Manuskripedia tersebut mempertemukan akademisi, peneliti manuskrip, budayawan, hingga pemerintah daerah guna mengkaji ulang jejak kolaborasi peradaban Nusantara. Tema “Giri–Lombok: Kolaborasi Lintas Pilar Menuju Kedaulatan Sejarah dan Budaya Bangsa” membuka ruang bahwa sejarah bukan sekadar arsip, tetapi aset strategis untuk pembangunan kebudayaan modern.
Dalam paparannya, Syahrul menegaskan bahwa hubungan Gresik–Lombok memiliki nilai strategis untuk menjembatani dialog kebudayaan antardaerah. Ia menilai praktik dakwah dan pendekatan budaya Sunan Prapen cucu Sunan Giri, yang berperan besar dalam Islamisasi Lombok pada abad ke-16 dapat dibaca ulang sebagai contoh keberhasilan diplomasi budaya Nusantara.
“Ajaran Islam yang berkembang di Lombok berakar dari pusat spiritual Giri Kedaton. Ini bukan hanya hubungan historis, tetapi fakta bahwa perpindahan pengetahuan dan kebudayaan di Nusantara berjalan melalui dialog, adaptasi, dan penghormatan tradisi lokal,” kata Syahrul.
Sejumlah artefak budaya seperti Masjid Bayan Beleq dan makam raja-raja Selaparang memperkuat jejak perjalanan dakwah Sunan Prapen yang memadukan nilai Islam dengan budaya setempat. Pola dakwah yang damai namun strategis, mulai dari demonstrasi militer, syiar melalui rebana, hingga pendekatan politik kepada Prabu Rangkesari menjadi bukti bahwa peradaban Nusantara tumbuh melalui kolaborasi, bukan penaklukan.
Syahrul juga memaparkan bahwa Pemerintah Kabupaten Gresik terus mendorong pemajuan kebudayaan melalui regulasi dan pendidikan. Perda Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah serta muatan lokal Sejarah Gresik di sekolah-sekolah menjadi langkah konkret memperkuat identitas kultural generasi muda.
Namun ia mengakui masih ada sejumlah tantangan yang harus dipecahkan bersama. “Rencana induk pariwisata yang belum optimal, tumpang tindih kewenangan pelestarian, serta kelemahan organisasi pengelola wisata menjadi hambatan yang harus kita benahi,” katanya.
Politisi PKB itu menilai seminar naskah Nusantara seperti ini menjadi ruang penting untuk memperbarui data kesejarahan, terutama mengenai Sunan Prapen, sehingga dapat memperkaya materi pendidikan budaya di Gresik dan daerah lain.
Syahrul berharap forum akademik tersebut tidak berhenti sebagai diskusi sejarah, tetapi menjadi fondasi kerja sama kebudayaan yang lebih terstruktur antara Gresik dan Lombok. "Kajian lintas daerah akan memperkuat revitalisasi tradisi, memperkaya pengetahuan, dan meneguhkan identitas bangsa. Pelestarian sejarah bukan hanya tugas satu generasi, tetapi amanah lintas zaman,” pungkasnya.
Seminar ini juga menghadirkan Keynote Speaker Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dan Gubernur NTB Dr. Lalu Muhammad Iqbal. Pengantar diskusi disampaikan Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Dr. Restu Gunawan serta Founder Manuskripedia Wahyu Muryadi. Sejumlah budayawan dan akademisi turut menjadi pemantik dialog, termasuk budayawan Lombok T. G. Hasan Basri Marwah, pemerhati budaya Ir. Wahyudi, akademisi UIN Mataram Prof. H. Jumarim, dan budayawan Sumbawa H. Yadi Surya Diputra.
Editor : Andi Setiawan