Kasus Nenek Elina, Polda Jatim Selidiki Dugaan Pengusiran Paksa oleh Ormas

author Kurniawan

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Nenek Elina Widjajanti, 80, melihat rumahnya rata dengan tanah setelah dirobohkan oleh oknum ormas. (Istimewa)
Nenek Elina Widjajanti, 80, melihat rumahnya rata dengan tanah setelah dirobohkan oleh oknum ormas. (Istimewa)

Jurnas.net - Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Timur mulai mendalami secara serius peristiwa yang dialami Elina Widjajanti. Nenek berusia 80 tahun itu, diduga diusir secara paksa dan rumah yang telah ditempatinya selama puluhan tahun dirobohkan oleh oknum ormas.

Dalam perkembangan terbaru, penyidik Ditreskrimum Polda Jatim memeriksa langsung Nenek Elina pada Minggu, 28 Desember 2025, guna menggali keterangan detail terkait insiden yang sempat viral di media sosial tersebut. Pemeriksaan dilakukan dengan pendampingan kuasa hukum serta sejumlah saksi yang berada di lokasi kejadian.

Di hadapan penyidik, Elina mengaku sama sekali tidak mengenal sosok bernama Samuel, yang disebut-sebut sebagai pihak yang mengklaim kepemilikan rumah di Jalan Dukuh Kuwukan Nomor 27, Kelurahan Lontar, Kecamatan Sambikerep, Surabaya.

“Samuel itu siapa? Nggak kenal. Baru kenal waktu kejadian itu,” kata Elina, Senin, 29 Desember 2025.

Ia juga menyatakan kebingungannya terhadap identitas kelompok orang yang masuk ke rumah dan memaksanya keluar. Elina menegaskan bahwa ia tidak mengetahui secara pasti asal kelompok tersebut. “Nggak jelas,” ucapnya singkat.

Pemeriksaan penyidik, menurut Elina, banyak menyoroti kronologi saat pengusiran terjadi, termasuk momen ketika dirinya diangkat dan diseret ke luar rumah. Ia mengaku mendapat pertanyaan soal klaim kepemilikan rumah yang disampaikan oleh pihak lain, meski tanpa bukti hukum yang pernah diperlihatkan kepadanya. “Ditanya soal Samuel dan waktu saya diangkat-angkat, disuruh keluar,” katanya.

Elina menegaskan bahwa selama peristiwa itu berlangsung, tidak satu pun pihak yang mengaku sebagai pemilik rumah menunjukkan dokumen kepemilikan yang sah. Sebaliknya, dirinya justru telah memperlihatkan surat Letter C yang ia miliki. “Saya tanya mana suratnya, dia malah diam, mapnya cuma dikempit, lalu pergi,” ungkapnya.

Elina menyebut bahwa kelompok yang datang ke rumahnya mengenakan atribut dengan tulisan tertentu yang belakangan menjadi perhatian publik. “Tulisannya Madas Malika,” kata Elina, mengingat jelas tulisan pada atribut yang dikenakan para pelaku.

Kesaksian Elina juga menggambarkan tindakan yang dinilai tidak manusiawi terhadap seorang lansia. Ia menyebut diangkat secara paksa oleh empat orang, masing-masing memegang tangan dan kakinya, lalu diseret ke luar rumah.
“Saya diangkat empat orang, tangan dua, kaki dua. Saya melawan, tapi dibawa keluar, lalu diturunkan,” tuturnya.

Sementara itu, kuasa hukum Elina, Willem Mintarja, membenarkan bahwa pemeriksaan tidak hanya dilakukan terhadap kliennya, tetapi juga terhadap sejumlah saksi yang berada di rumah saat kejadian. “Yang diperiksa ada empat orang, Bu Elina, Pak Iwan, Bu Joni, dan Bu Musrimah, semuanya penghuni rumah,” jelas Willem.

Ia menambahkan bahwa fokus pemeriksaan adalah mengonfirmasi kronologi peristiwa yang terekam dalam video dan tersebar luas di media sosial. Dalam keterangannya, salah satu saksi bahkan melihat adanya luka pada tubuh Elina usai kejadian.

“Mulut Bu Elina sempat berdarah. Saksi melihat langsung, tapi tidak berani memotret karena situasi saat itu tidak memungkinkan,” kata Willem.

Berita Terbaru

Cagar Budaya Sudah Dihancurkan, Pemkab Gresik Dinilai Lamban Ambil Langkah Hukum

Cagar Budaya Sudah Dihancurkan, Pemkab Gresik Dinilai Lamban Ambil Langkah Hukum

Kamis, 29 Jan 2026 14:46 WIB

Kamis, 29 Jan 2026 14:46 WIB

Jurnas.net - Sikap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik kembali menuai kritik setelah pembongkaran bangunan berstatus cagar budaya di belakang Kantor Pos…

PLN Tanamkan Literasi Listrik dan Motivasi Masa Depan di SMAN 1 Probolinggo

PLN Tanamkan Literasi Listrik dan Motivasi Masa Depan di SMAN 1 Probolinggo

Kamis, 29 Jan 2026 13:36 WIB

Kamis, 29 Jan 2026 13:36 WIB

Jurnas.net - Program PLN Mengajar kembali hadir, kali ini menyapa siswa SMA Negeri 1 Probolinggo. Lebih dari sekadar agenda berbagi ilmu, kegiatan yang digelar…

Big Bad Wolf Indonesia Dibuka dari Surabaya, BBW 2026 Tandai Satu Dekade Gerakan Literasi Indonesia

Big Bad Wolf Indonesia Dibuka dari Surabaya, BBW 2026 Tandai Satu Dekade Gerakan Literasi Indonesia

Kamis, 29 Jan 2026 11:32 WIB

Kamis, 29 Jan 2026 11:32 WIB

Jurnas.net - Big Bad Wolf Books (BBW), bazar buku internasional terbesar di dunia, resmi membuka rangkaian BBW Indonesia 2026 di Surabaya, mulai 29 Januari…

Ahli: Kelalaian Pemkab Gresik atas Penghancuran Cagar Budaya Berpotensi Pidana

Ahli: Kelalaian Pemkab Gresik atas Penghancuran Cagar Budaya Berpotensi Pidana

Kamis, 29 Jan 2026 10:27 WIB

Kamis, 29 Jan 2026 10:27 WIB

Jurnas.net - Pembongkaran hingga penghancuran bangunan di belakang Kantor Pos Gresik Pelabuhan, Jalan Basuki Rahmat, terus menuai kecaman keras. Kali ini,…

BPBD Jatim Perkuat Ketangguhan Bencana dari Rumah, Libatkan 52 Organisasi Perempuan

BPBD Jatim Perkuat Ketangguhan Bencana dari Rumah, Libatkan 52 Organisasi Perempuan

Kamis, 29 Jan 2026 09:18 WIB

Kamis, 29 Jan 2026 09:18 WIB

Jurnas.net - Di tengah meningkatnya intensitas cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi di Jawa Timur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim mulai…

Bupati Ipuk Libatkan ASN Pantau Kemiskinan, Program Berbagi Dorong Penurunan Angka Miskin

Bupati Ipuk Libatkan ASN Pantau Kemiskinan, Program Berbagi Dorong Penurunan Angka Miskin

Kamis, 29 Jan 2026 08:29 WIB

Kamis, 29 Jan 2026 08:29 WIB

Jurnas.net - Gerakan ASN Banyuwangi Berbagi kembali digulirkan. Namun lebih dari sekadar penyaluran sembako, program bulanan ini menjelma menjadi instrumen…