Jurnas.net - PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM) memulai tahun 2026 tidak hanya dengan program sosial seremonial, melainkan dengan dorongan strategis menjadikan Desa Tanjung, Gresik, sebagai model desa siaga bencana di wilayah sesar aktif. Program ini menjadi bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN sekaligus respons atas meningkatnya risiko gempa dan kekeringan di kawasan tersebut.
Mengusung tema “Desa Siaga Bencana”, PLN menggandeng BPBD Kabupaten Gresik, BPBD Jatim, dan Pemerintah Desa Tanjung. Kegiatan perdana berupa Simulasi Tanggap Bencana Gempa Bumi digelar di pendopo Desa Tanjung, diikuti lebih dari 50 peserta yang terdiri dari pengurus RT/RW dan unsur kelembagaan desa.
Tidak berhenti di simulasi, PLN juga menyiapkan pipanisasi dan penyaluran air bersih untuk mengantisipasi risiko kekeringan yang kerap terjadi di musim kemarau.
Kepala BPBD Kabupaten Gresik, Sukardi, mengungkapkan alasan pemilihan Desa Tanjung sebagai lokasi prioritas. Menurutnya, wilayah ini berada di jalur empat sesar aktif: Gresik – Surabaya – RMKS – Muria (Tuban).
“Struktur tanah di Gresik Selatan tergolong lembek. Jika terjadi gempa di atas 5 SR, risikonya bukan hanya getaran, tetapi juga potensi tanah ambles,” kata Sukardi, Jumat, 9 Januari 2026.
Karenanya, edukasi evakuasi dan simulasi lapangan dinilai penting agar warga tidak panik dan memahami langkah penyelamatan diri saat gempa terjadi.
General Manager PLN UIT JBM, Ika Sudarmaja, menegaskan bahwa program TJSL bukan kegiatan simbolik, tetapi upaya memperkuat ketahanan masyarakat yang tinggal di sekitar aset transmisi listrik. “Program Desa Siaga Bencana kami rancang sejak akhir 2025. Tidak hanya sosialisasi, tetapi juga solusi nyata seperti pipanisasi air bersih,” ujarnya.
Menurut Ika, keberadaan infrastruktur transmisi listrik harus sejalan dengan keamanan warga di sekitarnya, sehingga kesiapsiagaan bencana menjadi bagian dari keberlanjutan operasional PLN.
Peserta terlihat antusias mengikuti paparan mengenai cara berlindung saat gempa
jalur evakuasi aman, penanganan korban luka, dan komunikasi darurat desa. Program ini juga membentuk jejaring respons cepat tingkat desa agar penanganan awal tidak hanya bergantung pada kedatangan petugas.
“Semoga upaya kami meningkatkan literasi bencana, mengurangi kepanikan, dan meminimalkan korban jika skenario terburuk terjadi,” pungkas Ika.
Editor : Rahmat Fajar