Jurnas.net - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau sekaligus meresmikan Program Penanganan Kawasan Permukiman Kumuh Terpadu dan Terintegrasi (PERMATA JATIM) di Kelurahan Bendomungal, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Rabu (21/1). Program ini tidak hanya mengubah wajah kawasan kumuh, tetapi juga mentransformasikannya menjadi ruang hidup yang layak, produktif, dan bernilai ekonomi-religi.
Peresmian PERMATA JATIM di Bendomungal menjadi penanda kuat kehadiran negara dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pendekatan yang tidak semata fisik, melainkan menyentuh aspek sosial, ekonomi, kesehatan lingkungan, dan potensi lokal.
“Hari ini kita meresmikan hasil pelaksanaan Program PERMATA JATIM sebagai wujud nyata kehadiran pemerintah dalam meningkatkan kualitas permukiman masyarakat,” ujar Khofifah.
Menurut Khofifah, penanganan kawasan kumuh tidak bisa dilakukan secara parsial atau sektoral. Dibutuhkan pendekatan komprehensif, terstruktur, dan terintegrasi yang melibatkan sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta partisipasi aktif masyarakat. “Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi. Program ini adalah hasil kerja bersama,” tegasnya.
Khofifah menjelaskan, PERMATA JATIM dicetuskan sebagai implementasi amanah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, yang menegaskan bahwa penanganan kawasan kumuh merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat dan daerah.
Sebagai tindak lanjut, Pemprov Jatim telah menetapkan Peraturan Gubernur Nomor 25 Tahun 2024 tentang Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh, yang menjadi landasan hukum penanganan kawasan kumuh secara berkelanjutan.
“Pergub ini memastikan penanganan kawasan kumuh dilakukan lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan, sekaligus mencerminkan komitmen kami menciptakan lingkungan hunian yang layak, sehat, dan manusiawi,” kata Khofifah.
Secara data, luas kawasan kumuh di Jawa Timur mencapai 8.117,23 hektare, dengan Kabupaten Pasuruan menyumbang 440,44 hektare. Adapun kawasan kumuh di Kelurahan Bendomungal seluas 11,82 hektare dan masuk kategori kumuh ringan.
Untuk penanganan terpadu di Bendomungal, Pemprov Jatim mengalokasikan APBD senilai Rp 9,09 miliar. Intervensi yang dilakukan meliputi pembangunan jalan paving dan drainase, normalisasi sungai, penataan kawasan makam Habib Abdullah bin Ali Al Haddad, penyediaan lokasi TPS3R, SPAM, serta septictank komunal.
“Penataan kawasan ini tidak hanya soal infrastruktur, tetapi bagaimana menciptakan lingkungan hunian yang aman, sehat, dan berkelanjutan,” jelas Khofifah.
Lebih jauh, penanganan kawasan kumuh di Bendomungal diarahkan untuk mendukung potensi wisata religi yang telah mengakar di masyarakat. Lingkungan yang tertata dan bersih diharapkan meningkatkan kenyamanan peziarah, menjaga kekhidmatan kawasan religi, sekaligus menggerakkan ekonomi warga sekitar.
Selain itu, program ini juga membuka ruang tumbuh bagi UMKM dan ekonomi lokal. Kawasan yang aman dan tertata menjadi modal penting bagi aktivitas usaha, interaksi sosial, dan perputaran ekonomi berkelanjutan. “Dengan lingkungan yang layak huni dan tertata, kawasan ini tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga destinasi wisata religi yang memberi manfaat sosial, budaya, dan ekonomi secara berkelanjutan, termasuk bagi generasi mendatang,” tutur Khofifah.
Khofifah juga mengajak masyarakat Bendomungal untuk menjaga dan merawat kawasan tersebut. Ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan tidak berhenti pada selesainya pekerjaan fisik, melainkan ditentukan oleh kepedulian masyarakat. “Permukiman yang sudah bersih dan sehat harus dijaga dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Mari jadikan kawasan ini contoh ruang hidup yang membanggakan dan menginspirasi daerah lain di Jawa Timur,” katanya.
Sementara itu, Wakil Bupati Pasuruan HM. Shobih Asrori menilai penanganan kawasan kumuh merupakan pekerjaan kompleks karena mencakup persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Oleh karena itu, Bendomungal dipilih sebagai lokus program terpadu berbasis tema religi dan wisata keluarga. “Melalui kolaborasi yang kuat, kawasan ini berubah menjadi lingkungan yang bersih, tertata, dan nyaman. Dampaknya bukan hanya fisik, tetapi juga sosial dan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Khofifah dan Pemprov Jatim atas dukungan penuh dalam merealisasikan PERMATA JATIM di Bendomungal. “Mari kita rawat bersama agar kawasan ini terus berkembang menjadi ruang hidup sosial, ekonomi, dan religi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.
Editor : Andi Setiawan