Viral Bawa Balita Saat Nge-Ojol, Wali Kota Surabaya Ajak Keluarga Anna Bangkit Lewat Padat Karya

author Kurniawan

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mendatangi rumah Anna, ojol yang sempat viral. (Humas Pemkot Surabaya)
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mendatangi rumah Anna, ojol yang sempat viral. (Humas Pemkot Surabaya)

Jurnas.net - Kisah Anna Indrawati, pengemudi ojek online yang sempat viral karena mengantar penumpang sambil membawa anak balitanya, menjadi pintu masuk bagi Pemerintah Kota Surabaya untuk menerapkan pendekatan berbeda dalam penanganan keluarga rentan. Bukan sekadar bantuan sesaat, Pemkot menawarkan pekerjaan, pendampingan, dan target kemandirian.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mendatangi langsung rumah Anna di Jalan Indrapura Pasar, Kelurahan Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantikan, Rabu (28/1/2026). Kunjungan itu dilakukan untuk bersilaturahmi sekaligus menawarkan jalan keluar yang lebih berkelanjutan melalui program Padat Karya Pemkot Surabaya.

Anna dan suaminya diketahui memilih menjadi pengemudi ojek online setelah sang suami terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK). Penghasilan harian mereka hanya cukup untuk kebutuhan dasar, sementara Anna harus membagi waktu bekerja dengan mengasuh anak balitanya yang kerap dibawa saat menarik penumpang.

Melihat kondisi tersebut, Wali Kota Eri menawarkan solusi berbasis peran keluarga. Suami Anna diajak bergabung dalam program Padat Karya Paving, sementara Anna diberikan pekerjaan menjahit yang bisa dilakukan dari rumah. "Saya tanyakan, mau nggak mengubah hidup? Kalau mau, ayo suaminya masuk Padat Karya, dan ibu bisa bekerja dari rumah sambil menjaga anak,” ujar Eri.

Menurutnya, pendekatan ini bukan melarang warga bekerja sebagai ojol, tetapi memberikan alternatif yang lebih aman dan stabil, terutama bagi keluarga dengan anak kecil dan kondisi kesehatan rentan.

Eri menegaskan, Pemkot Surabaya tidak ingin warganya terus bergantung pada bantuan sosial. Program Padat Karya dirancang sebagai jembatan perubahan, bukan tujuan akhir. “Saya beri waktu empat bulan. Dalam waktu itu, mereka harus bisa meningkatkan taraf hidupnya. Setelah itu, mereka bisa menjadi inspirasi bagi warga lain,” tegasnya.

Tak berhenti pada pemberian pekerjaan, Pemkot juga menyiapkan pendampingan intensif. Ketua RT setempat diminta aktif memantau perkembangan keluarga Anna, bersama kader Kader Surabaya Hebat (KSH), sebagai garda terdepan deteksi sosial di tingkat kampung. “RT dan RW itu yang paling tahu kondisi warganya. Kalau ada yang putus sekolah, sakit, atau kesulitan ekonomi, mereka yang pertama tahu,” kata Eri.

Dari sisi kesehatan, Pemkot memastikan anak balita Anna mendapat perawatan medis berkelanjutan. Pengobatan telah dilakukan di RSUD Dr. Mohamad Soewandhie dan akan dilanjutkan melalui puskesmas setempat, dengan seluruh pembiayaan difasilitasi melalui BPJS Kesehatan.

Sementara itu, Kader Surabaya Hebat RT 04 RW 11, Sulistyowati, menyebut kondisi keluarga Anna memang cukup memprihatinkan sejak suaminya kehilangan pekerjaan. Pendampingan telah dilakukan sejak lama, mulai dari pengurusan bantuan pendidikan hingga Program Keluarga Harapan (PKH) melalui pendataan DTSEN.

“Kami terus dampingi. Sekarang alhamdulillah ada solusi pekerjaan dan perhatian langsung dari Pak Wali Kota,” ujarnya.

Berita Terbaru

KTP dan Ijazah Jadi Jaminan Kerja, Pemkot Surabaya Ingatkan Berpotensi Langgar Aturan

KTP dan Ijazah Jadi Jaminan Kerja, Pemkot Surabaya Ingatkan Berpotensi Langgar Aturan

Senin, 14 Sep 2026 14:23 WIB

Senin, 14 Sep 2026 14:23 WIB

Jurnas.net – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya meminta masyarakat lebih waspada saat mencari pekerjaan melalui perusahaan penempatan pekerja rumah tangga (…

Pemkot Surabaya Ubah Cara Verifikasi Data Miskin, Warga Diajak Cek Penerima Bansos

Pemkot Surabaya Ubah Cara Verifikasi Data Miskin, Warga Diajak Cek Penerima Bansos

Senin, 14 Sep 2026 13:48 WIB

Senin, 14 Sep 2026 13:48 WIB

Jurnas.net – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mulai mengubah pola verifikasi data kemiskinan melalui Musyawarah Kelurahan (Muskel). Forum yang selama ini i…

Demi Bisnis, Susi Air Ogah Sediakan Tiket Emergency untuk Layanan Darurat di Bawean

Demi Bisnis, Susi Air Ogah Sediakan Tiket Emergency untuk Layanan Darurat di Bawean

Senin, 14 Sep 2026 12:39 WIB

Senin, 14 Sep 2026 12:39 WIB

Jurnas.net - Ketika warga Bawean membutuhkan akses transportasi dalam kondisi darurat, kepastian untuk segera keluar dari pulau justru tidak tersedia. Skema…

Cari Kerja Jadi ART, Warga Surabaya 'Disekap' Tak Boleh Pulang dan KTP Ditahan

Cari Kerja Jadi ART, Warga Surabaya 'Disekap' Tak Boleh Pulang dan KTP Ditahan

Senin, 14 Sep 2026 10:27 WIB

Senin, 14 Sep 2026 10:27 WIB

Jurnas.net - Niat mencari pekerjaan sebagai asisten rumah tangga (ART) justru membuat seorang warga Surabaya panik. Ika Pujiarsih (25) mengaku tidak…

Gus Lilur: Ber-NU Tak Harus Berada di Struktur PBNU

Gus Lilur: Ber-NU Tak Harus Berada di Struktur PBNU

Senin, 14 Sep 2026 07:36 WIB

Senin, 14 Sep 2026 07:36 WIB

Jurnas.net - Setelah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, usai digelar, HRM Khalilur R Ab. S…

Filosofi Daun Kelor di Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah

Filosofi Daun Kelor di Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah

Minggu, 13 Sep 2026 07:15 WIB

Minggu, 13 Sep 2026 07:15 WIB

Jurnas.net – Menampilkan corak postmodern dengan simbol daun kelor, Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah tidak sekadar menjadi identitas visual.  Di ba…