Nyaris Jual Ginjal: Kisah Pejuang Ekonomi Surabaya yang Bangkit dan Keluar dari Kemiskinan

author Dadang

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
M. Prasanti Rahmawatun, salah satu pejuang ekonomi di Surabaya. (Humas Pemkot Surabaya)
M. Prasanti Rahmawatun, salah satu pejuang ekonomi di Surabaya. (Humas Pemkot Surabaya)

Jurnas.net - Suasana Balai RW 11, Jalan Indrapura, Kelurahan Tanjung Perak, Rabu (4/2/2026), mendadak berubah haru sekaligus penuh semangat. Dalam kegiatan Kelas Inspirasi yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, dua warga berbagi kisah perjuangan hidup mereka tentang jatuh, bertahan, lalu bangkit dari jurang kemiskinan berkat kerja keras dan program pemberdayaan kota.

Salah satu kisah paling menggetarkan datang dari M. Prasanti Rahmawatun (58), warga Tanah Merah. Ia mengawali ceritanya dari titik paling gelap dalam hidup: kehilangan anak perempuan tercinta, disusul lilitan utang yang kian menjerat.

“Saat itu saya sudah putus asa. Saya bilang ke guru ngaji, kalau ada yang mau beli ginjal, saya jual saja untuk bayar utang. Pikiran benar-benar buntu,” kata perempuan yang akrab disapa Santi itu, dengan suara bergetar, Kamis, 5 Februari 2026.

Di tengah keputusasaan, secercah harapan datang saat ia diajak bergabung dengan UMKM Koperasi Sumber Mulia Barokah, salah satu koperasi binaan Pemkot Surabaya. Dengan kemampuan terbatas—hanya bisa menjahit lurus—Santi memulai langkah kecilnya sebagai tukang obras dengan upah pertama Rp90 ribu per hari.

Namun ia tak berhenti belajar. Berbekal ketekunan dan berbagai pelatihan menjahit yang diberikan, kemampuan Santi terus meningkat. Kini, ia mampu membawa pulang penghasilan hingga ratusan ribu rupiah per hari. “Alhamdulillah, rumah saya sudah kembali. Saya bisa beli mesin jahit modern sendiri, bahkan bisa beli sepeda lipat untuk transportasi,” ungkapnya dengan mata berbinar.

Ia percaya, kerja keras yang dilakukan secara konsisten tidak akan mengkhianati hasil. Jika dulu ia harus mengayuh sepeda berkilo-kilometer demi mengambil kain di koperasi, kini kondisi ekonominya jauh lebih stabil. “Sekarang saya sudah bisa menabung. Untuk warga Surabaya yang mungkin berada di kondisi seperti saya dulu, jangan putus asa. Tetap semangat, berdoa, dan mau bergerak. Pasti ada jalan,” pesannya.

Kisah inspiratif lainnya datang dari Ma’ruf, warga Tenggumung. Sebagai kepala keluarga, ia sebelumnya bekerja serabutan sebagai tukang potong kain dengan penghasilan yang tak menentu. Perubahan besar terjadi setelah ia bergabung dalam ekosistem Koperasi Sumber Mulia Barokah.

Jika dulu ia harus berkeliling mencari orderan dengan upah pas-pasan, kini Ma’ruf menjadi bagian penting dalam rantai produksi seragam. “Dulu di konveksi biasa, cari Rp1,5 juta itu bisa berminggu-minggu. Sekarang di koperasi, saya bisa potong 1.000 baju sehari. Kalau dihitung, sehari bisa dapat sekitar Rp2 juta,” ujarnya.

Dampak ekonomi dari perubahan itu terasa nyata. Ma’ruf kini mampu menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren, membeli mesin cuci untuk membantu pekerjaan rumah tangga istrinya, hingga menyokong ekonomi saudara-saudaranya di kampung halaman. "Tanggung jawab laki-laki itu berat. Kerja apa saja, yang penting giat. Jangan malu untuk memulai dari bawah,” katanya tegas.

Sementara itu, Camat Pabean Cantian, Muhammad Januar Rizal, yang hadir dalam Kelas Inspirasi tersebut menegaskan bahwa kisah Santi dan Ma’ruf adalah bukti konkret keberhasilan program Pemkot Surabaya.

“Kami ingin menunjukkan bahwa program pemberdayaan dan lowongan kerja ini bukan sekadar wacana. Ini nyata, sudah dijalankan, dan terbukti berdampak dalam menekan pengangguran serta kemiskinan di Surabaya,” tegasnya.

Kisah-kisah ini menjadi pengingat bahwa kemiskinan bukanlah akhir dari segalanya. Dengan memanfaatkan program pemberdayaan Pemkot Surabaya, mulai dari UMKM, koperasi, hingga padat karya, serta dibarengi etos kerja dan kemauan untuk bangkit, jalan menuju kesejahteraan selalu terbuka.

Berita Terbaru

Gus Lilur Soroti Dugaan Transaksi Suara Muktamar NU, Minta KPK Telusuri Aliran Dana

Gus Lilur Soroti Dugaan Transaksi Suara Muktamar NU, Minta KPK Telusuri Aliran Dana

Minggu, 11 Okt 2026 15:34 WIB

Minggu, 11 Okt 2026 15:34 WIB

Jurnas.net - Tokoh masyarakat sekaligus kiai kampung Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, melontarkan dugaan adanya praktik…

Rais Aam PBNU Buruk, Ngamuk ala Cakades Terpuruk

Rais Aam PBNU Buruk, Ngamuk ala Cakades Terpuruk

Minggu, 11 Okt 2026 12:11 WIB

Minggu, 11 Okt 2026 12:11 WIB

Jurnas.net - Kita sering melihat dalam kontestasi Pilkades, banyak calon kepala desa (cakades) membangun jalan dan membantu memasang lampu penerangan di…

Tekanan dan Misi Mendulang Poin Perdana PSS Sleman di Kandang  

Tekanan dan Misi Mendulang Poin Perdana PSS Sleman di Kandang  

Minggu, 11 Okt 2026 09:18 WIB

Minggu, 11 Okt 2026 09:18 WIB

Jurnas.net - PSS Sleman membawa misi meraih poin perdana saat menjamu PSM Makassar pada pekan keempat Super League di Stadion Maguwoharjo Kabupaten Sleman,…

Shin Tae-yong Mulai Ucapkan Peluang Juara Persija

Shin Tae-yong Mulai Ucapkan Peluang Juara Persija

Minggu, 11 Okt 2026 05:54 WIB

Minggu, 11 Okt 2026 05:54 WIB

Jurnas.net - Pelatih Persija Jakarta, Shin Tae-yong mulai melontarkan kans juara timnya usai menang atas PSIM Yogyakarta di Stadion Sultan Agung Kabupaten…

Tembus Rp 23,6 Triliun, Investasi Surabaya Jadi Motor Penggerak Ekonomi dan Lapangan Kerja

Tembus Rp 23,6 Triliun, Investasi Surabaya Jadi Motor Penggerak Ekonomi dan Lapangan Kerja

Jumat, 09 Okt 2026 18:37 WIB

Jumat, 09 Okt 2026 18:37 WIB

Jurnas.net – Realisasi investasi di Kota Surabaya, Jawa Timur, mencapai Rp 23,608 triliun hingga semester I 2026. Capaian tersebut setara dengan sekitar 53 p…

Namanya Dikaitkan dengan Dugaan Pengondisian Muktamar NU, Dua Kiai Kalbar Tegaskan Tak Hadir

Namanya Dikaitkan dengan Dugaan Pengondisian Muktamar NU, Dua Kiai Kalbar Tegaskan Tak Hadir

Jumat, 09 Okt 2026 14:03 WIB

Jumat, 09 Okt 2026 14:03 WIB

Jurnas.net – Dua pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di Kalimantan Barat memberikan klarifikasi setelah nama mereka dikaitkan dengan kegiatan di Jakarta yang disebut …