Jurnas.net — Kinerja solid yang dibukukan pada triwulan I 2026 menjadi momentum bagi PT Surabaya Industrial Estate Rungkut untuk mempercepat transformasi menuju kawasan industri modern dan berkelanjutan. Perusahaan mencatat realisasi laba mencapai 131 persen dari target, sekaligus menegaskan arah penguatan bisnis berbasis efisiensi dan inovasi.
Capaian tersebut mengemuka dalam forum monitoring dan evaluasi (monev) yang dipimpin Direktur Utama PT Danareksa (Persero), Yadi Jaya Ruchandi, saat kunjungan kerja ke kawasan industri SIER di Surabaya, 4–5 Mei 2026.
Dalam forum tersebut, manajemen SIER juga melaporkan realisasi Perjanjian Penggunaan Tanah Industri (PPTI) yang mencapai Rp70 miliar hingga akhir triwulan I. Angka ini mencerminkan masih tingginya minat investor terhadap kawasan industri di Jawa Timur.
Yadi mengapresiasi performa tersebut dan menilai capaian awal tahun ini menjadi fondasi penting bagi akselerasi pengembangan kawasan industri yang lebih kompetitif. “Capaian ini menunjukkan program berjalan sesuai arah strategis. Ini menjadi basis kuat untuk mendorong SIER sebagai kawasan industri modern, terintegrasi, dan ramah lingkungan,” kata Yudi, Rabu, 6 Mei 2026.
Tak hanya menyoroti kinerja keuangan, kunjungan ini juga menekankan pentingnya percepatan modernisasi fasilitas kawasan. Yadi meninjau langsung Bangunan Pabrik Siap Pakai (BPSP) dan instalasi pengolahan air limbah (wastewater treatment plant/WWTP) yang menjadi tulang punggung layanan industri SIER.
Ia mendorong pembaruan teknologi pada BPSP agar lebih adaptif terhadap kebutuhan industri masa kini, termasuk efisiensi energi dan fleksibilitas produksi bagi tenant.
Sementara di fasilitas WWTP, Yadi bahkan mencoba langsung air hasil daur ulang yang telah melalui proses pengolahan. Ia menilai kualitas air tersebut sangat baik dan setara dengan air minum pada umumnya. "Tidak berbau, jernih, dan layak. Ini menunjukkan sistem pengolahan yang sudah berjalan sangat baik,” katanya.
Direktur Utama PT Danareksa (Persero), Yadi Jaya Ruchandi, pimpin monitoring dan evaluasi (monev) saat kunjungan kerja ke kawasan industri SIER di Surabaya. (Humas PT SIER)
Air daur ulang SIER sendiri telah mengantongi sertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal sejak 29 November 2025. Sertifikasi ini menjadi nilai tambah strategis, khususnya bagi industri yang mensyaratkan standar kehalalan dalam rantai produksinya.
Lebih jauh, Yadi melihat masih terdapat ruang optimalisasi dalam pemanfaatan air daur ulang. Ia mendorong manajemen untuk mengembangkan sistem pengolahan lanjutan guna mendukung target zero water discharge secara bertahap sebuah konsep pengelolaan air tanpa limbah buangan.
Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas Direktur Utama SIER, Lussi Erniawati, menyatakan bahwa capaian kinerja dan masukan dari pemegang saham akan menjadi pijakan penting dalam mempercepat transformasi perusahaan.
“Kinerja triwulan I ini menjadi fondasi untuk mempercepat pengembangan kawasan, termasuk modernisasi fasilitas dan optimalisasi pemanfaatan air daur ulang,” ujarnya.
Menurut Lussi, SIER tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada pembangunan kawasan industri yang berkelanjutan dan berdaya saing global. “Kami ingin memastikan SIER berkembang sebagai kawasan industri yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga ramah lingkungan dan relevan dengan tuntutan industri masa depan,” tandasnya.
Editor : Amal