Pansus LKPJ 2025 Sentil Pemprov Jatim: SILPA Rp3,3 Triliun Mengendap Saat Kemiskinan Masih Tinggi

author Insani

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Suasana Sidang Paripurna DPRD Jawa Timur. (Insani/Jurnas.net)
Suasana Sidang Paripurna DPRD Jawa Timur. (Insani/Jurnas.net)

Jurnas.net – DPRD Jawa Timur melontarkan kritik tajam terhadap pola pembangunan Pemerintah Provinsi Jatim dalam pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Akhir Tahun 2025. Di balik capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,33 persen yang melampaui rata-rata nasional 5,11 persen, legislatif menilai masih terjadi jurang ketimpangan yang lebar, kemiskinan kronis di sejumlah daerah, hingga lemahnya eksekusi anggaran daerah.

Sorotan keras itu disampaikan Panitia Khusus (Pansus) LKPJ DPRD Jatim dalam Rapat Paripurna, Senin (11/5/2026). Ketua sekaligus Juru Bicara Pansus, Khusnul Arif, menegaskan bahwa angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak boleh dijadikan alat pembenaran bahwa pembangunan telah berjalan adil dan merata.

Menurut legislator Fraksi NasDem itu, realitas di lapangan justru menunjukkan ketimpangan antarwilayah yang sangat mencolok. Ia mencontohkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pacitan yang mencapai 7,01 persen, sementara Kota Kediri hanya tumbuh 1,68 persen.

“Disparitas antarwilayah masih sangat signifikan. Pertumbuhan ekonomi tinggi di tingkat provinsi belum otomatis dinikmati secara merata oleh seluruh daerah,” kata Khusnul, saat membacakan rekomendasi Pansus, Senin, 11 Mei 2026.

Pansus menilai ketimpangan pembangunan itu paling terasa di kawasan Madura dan Tapal Kuda yang hingga kini masih menjadi kantong kemiskinan. Meski angka kemiskinan provinsi turun menjadi 9,30 persen, sejumlah daerah tetap mencatat angka yang memprihatinkan.

Kabupaten Sampang tercatat memiliki tingkat kemiskinan tertinggi mencapai 20,61 persen, disusul Bangkalan 18,25 persen dan Sumenep 17,02 persen. Angka tersebut dinilai menjadi alarm keras bahwa pertumbuhan ekonomi Jatim belum menyentuh masyarakat bawah secara merata.

Karena itu, DPRD meminta Pemprov Jatim menghentikan pendekatan pembangunan yang bersifat umum dan mulai menerapkan strategi intervensi berbasis wilayah. “Strategi pengentasan kemiskinan harus bersifat spasial dan fokus pada kantong-kantong kemiskinan, bukan sekadar menjalankan program nasional secara merata,” ujar Khusnul.

Tak hanya soal kemiskinan, Pansus juga mengkritisi kualitas pertumbuhan ekonomi Jatim yang dinilai rapuh dari sisi ketenagakerjaan. Meski Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 3,71 persen, sekitar 62 persen pekerja di Jatim masih berada di sektor informal.

Kondisi tersebut dianggap menunjukkan bahwa mayoritas pekerja masih hidup tanpa kepastian pendapatan dan minim perlindungan sosial. DPRD pun meminta Pemprov lebih serius mendorong transformasi lapangan kerja formal dan memperkuat jaminan sosial pekerja informal. “Dominasi sektor informal menunjukkan struktur ekonomi kita masih rentan. Ini membutuhkan kebijakan perlindungan dan transformasi yang lebih konkret,” katanya.

Di sisi lain, DPRD juga memberi rapor merah terhadap tata kelola anggaran Pemprov Jatim. Pansus menyoroti membengkaknya Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) hingga Rp3,383 triliun atau sekitar 9,78 persen.

Besarnya dana mengendap tersebut dinilai menjadi bukti lemahnya perencanaan dan buruknya eksekusi program strategis daerah. Kritik semakin tajam karena serapan Belanja Tidak Terduga (BTT) hanya mencapai 39,97 persen, padahal masyarakat masih menghadapi banyak kebutuhan mendesak.

“Dana triliunan mengendap menunjukkan program tidak berjalan optimal. Ini menjadi ironi di tengah persoalan kemiskinan dan kebutuhan pelayanan publik yang masih tinggi,” tegasnya.

Untuk memperkuat fiskal daerah, Pansus juga mendesak langkah berani dalam pembenahan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). DPRD meminta Pemprov segera menuntaskan sertifikasi dan optimalisasi 411 bidang tanah idle milik daerah yang selama ini belum produktif.

Selain itu, anak perusahaan BUMD yang terus merugi direkomendasikan untuk segera didivestasi agar tidak terus menjadi beban APBD. Di akhir laporannya, Khusnul menegaskan bahwa seluruh rekomendasi tersebut bukan sekadar kritik politik, melainkan bentuk tanggung jawab konstitusional DPRD untuk memastikan pembangunan di Jawa Timur berjalan lebih akuntabel, efektif, dan berkeadilan.

“Rekomendasi ini bukan kritik destruktif, tetapi bentuk tanggung jawab DPRD agar setiap program pemerintah direncanakan dengan cermat, dilaksanakan dengan integritas, dan dievaluasi secara jujur,” pungkasnya.

Berita Terbaru

UU Reforma Agraria Disahkan, Anas Urbaningrum: Tidak Harus Jadi Komunis untuk Membela Keadilan Tanah

UU Reforma Agraria Disahkan, Anas Urbaningrum: Tidak Harus Jadi Komunis untuk Membela Keadilan Tanah

Rabu, 23 Sep 2026 20:43 WIB

Rabu, 23 Sep 2026 20:43 WIB

Surabaya — Pengesahan Undang-Undang Pengaturan Reforma Agraria oleh DPR RI pada Selasa, 22 September 2026, dinilai dapat menjadi momentum untuk membenahi k…

CCTV Ungkap Dugaan Pemukulan Louis, Saksi Polisi Sebut Terdakwa Memukul Korban Sambil Berlari

CCTV Ungkap Dugaan Pemukulan Louis, Saksi Polisi Sebut Terdakwa Memukul Korban Sambil Berlari

Rabu, 23 Sep 2026 18:27 WIB

Rabu, 23 Sep 2026 18:27 WIB

Jurnas.net - Rekaman kamera pengawas atau CCTV menjadi sorotan dalam sidang lanjutan perkara dugaan penganiayaan terhadap Louis Prasetya di kawasan Pergudangan …

Pemkot Surabaya Perpanjang Seleksi 10 Posisi Direksi di 5 BUMD

Pemkot Surabaya Perpanjang Seleksi 10 Posisi Direksi di 5 BUMD

Rabu, 23 Sep 2026 17:17 WIB

Rabu, 23 Sep 2026 17:17 WIB

Jurnas.net – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperpanjang masa pendaftaran seleksi calon anggota direksi pada lima Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). P…

Pembukaan Muswil VI KAHMI Jatim Digelar di Trawas, Ini Alasan Tak Jadi di Grahadi

Pembukaan Muswil VI KAHMI Jatim Digelar di Trawas, Ini Alasan Tak Jadi di Grahadi

Rabu, 23 Sep 2026 16:04 WIB

Rabu, 23 Sep 2026 16:04 WIB

Jurnas.net — Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Jawa Timur memutuskan pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) VI KAHMI Jatim d…

Liliane Foundation Dukung Banyuwangi Jadi Daerah Inklusif, 155 Anak Disabilitas Dapat Pendampingan

Liliane Foundation Dukung Banyuwangi Jadi Daerah Inklusif, 155 Anak Disabilitas Dapat Pendampingan

Rabu, 23 Sep 2026 13:24 WIB

Rabu, 23 Sep 2026 13:24 WIB

Jurnas.net – Upaya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memperluas pembangunan yang inklusif mendapat dukungan dari Liliane Foundation (LF), lembaga nonpemerintah a…

Temu Karya Taman Budaya ke XXV, Menjaga Konsistensi dan Jiwa Peduli Inklusi

Temu Karya Taman Budaya ke XXV, Menjaga Konsistensi dan Jiwa Peduli Inklusi

Selasa, 22 Sep 2026 16:12 WIB

Selasa, 22 Sep 2026 16:12 WIB

Jurnas.net - Pameran dan pementasan kebudayaan dari berbagai daerah di Nusantara bakal terselenggara di Taman Budaya Yogyakarta pada 28 September hingga 1…