Ritual Seblang Bakungan Banyuwangi Sedot Wisatawan saat Libur Iduladha, Warisan Budaya Berusia 387 Tahun

Reporter : Wulansari
Ritual Seblang Bakungan Banyuwangi yang merupaka. warisan budaya berusia 387 tahun. (Humas Pemkab Banyuwangi)

Jurnas.net – Di tengah arus modernisasi dan perkembangan pariwisata yang semakin pesat, masyarakat Suku Osing di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, tetap teguh menjaga salah satu warisan budaya paling tua dan sakral yang mereka miliki, yakni Ritual Seblang Bakungan.

Tradisi yang diyakini telah berlangsung sejak tahun 1639 itu kembali digelar pada bulan Dzulhijah atau bulan Haji, tepat sepekan setelah Hari Raya Idul Adha. Tak hanya menjadi ritual adat yang sarat makna spiritual, Seblang Bakungan juga menjelma menjadi magnet wisata budaya yang menyedot perhatian ribuan pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara yang memanfaatkan libur panjang Idul Adha untuk berkunjung ke Banyuwangi.

Baca juga: Promosikan UMKM, KAI Services Sajikan Kuliner Legendaris Khas Banyuwangi di Kereta Api

Seblang Bakungan merupakan tarian sakral yang hanya dapat dibawakan oleh perempuan paruh baya yang dipilih melalui tradisi turun-temurun. Berbeda dengan pertunjukan seni pada umumnya, penari Seblang tampil dalam kondisi trance atau tidak sadar, yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai bentuk penyatuan dengan roh leluhur.

Tahun ini, ritual tersebut dibawakan oleh Isni (54), yang untuk ketiga kalinya dipercaya menjadi penari Seblang. Dengan mata terpejam dan gerakan yang mengikuti alunan gending tradisional seperti Kodok Ngorek dan Seblang Lukinto, Isni menari di hadapan ribuan pasang mata yang menyaksikan prosesi penuh khidmat tersebut.

Rangkaian Seblang Bakungan diawali dengan kegiatan spiritual yang melibatkan seluruh warga. Menjelang malam, masyarakat terlebih dahulu melaksanakan salat Magrib dan salat hajat di masjid setempat untuk memanjatkan doa keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan bagi desa.

Setelah itu, warga menggelar prosesi ider bumi, yakni tradisi mengelilingi kampung dengan membawa oncor atau obor. Cahaya obor yang menerangi jalan-jalan desa menciptakan suasana syahdu sekaligus sakral.

Di sepanjang rute, masyarakat duduk bersama menikmati tumpeng dan hidangan khas Osing, pecel pithik, di atas tikar yang digelar di pinggir jalan. Tradisi makan bersama tersebut menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur masyarakat atas berbagai nikmat yang diterima sepanjang tahun.

Puncak acara terjadi ketika penari Seblang mulai memasuki kondisi trance dan menampilkan tarian sakral yang dipercaya sebagai media komunikasi spiritual antara masyarakat dengan leluhur mereka.

Wisatawan Mancanegara Terpukau

Baca juga: Tekan Sampah Plastik, Pemkab Banyuwangi Ajak Panitia Kurban Gunakan Besek dan Daun Pisang

Keunikan ritual Seblang Bakungan berhasil menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah hingga luar negeri. Salah satunya adalah Gergo Zalatnai, wisatawan asal Hungaria, yang mengaku terkesan dengan pengalaman menyaksikan ritual tersebut secara langsung.

“Ini sangat unik. Penarinya seorang perempuan paruh baya yang menari dalam kondisi tidak sadar. Saya belum pernah melihat tradisi seperti ini di tempat lain. Sangat menarik dan berbeda,” ujarnya.

Kesan serupa disampaikan Riski, wisatawan asal Yogyakarta yang sengaja datang ke Banyuwangi untuk menyaksikan Seblang Bakungan. Menurutnya, selain menghadirkan nuansa spiritual yang kuat, ritual tersebut juga menunjukkan tingginya semangat gotong royong masyarakat dalam menjaga warisan budaya.

“Atmosfernya terasa sangat magis. Saya juga kagum karena seluruh warga terlibat dan terus menjaga tradisi ini setiap tahun,” katanya.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengapresiasi keguyuban masyarakat Bakungan dalam melestarikan tradisi leluhur yang telah bertahan selama hampir empat abad tersebut. Menurut Ipuk, Seblang bukan hanya bagian dari identitas budaya masyarakat Osing, tetapi juga menjadi aset budaya yang memperkuat daya tarik pariwisata Banyuwangi.

Baca juga: Banyuwangi Raih Dua Penghargaan Nasional, Dinilai Berhasil Majukan Pendidikan dan Prestasi Pelajar

“Tradisi ini bukan sekadar menjaga warisan leluhur, tetapi juga memastikan budaya lokal tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman. Seblang menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, gotong royong, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada dunia,” ujar Ipuk.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, lanjutnya, akan terus mendukung berbagai upaya pelestarian tradisi dan budaya lokal sebagai bagian dari strategi pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal. Di Banyuwangi, tradisi Seblang hanya dapat ditemukan di dua wilayah yang menjadi pusat budaya Suku Osing, yakni Kelurahan Bakungan dan Desa Olehsari, Kecamatan Glagah.

Meski memiliki akar tradisi yang sama, keduanya memiliki karakteristik berbeda. Seblang Bakungan digelar setiap bulan Dzulhijah dan diperankan oleh perempuan paruh baya, sedangkan Seblang Olehsari diselenggarakan setelah Hari Raya Idul Fitri dengan penari yang masih berusia muda atau belia.

Perbedaan tersebut justru memperkaya khazanah budaya Banyuwangi dan menjadikan Seblang sebagai salah satu ritual adat paling unik di Indonesia yang hingga kini tetap lestari, diwariskan dari generasi ke generasi, serta terus memikat wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Editor : Andi Setiawan

Politik & Pemerintahan
Berita Terpopuler
Berita Terbaru