Jurnas.net – Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dan derasnya arus informasi di platform digital mengubah lanskap industri media secara fundamental. Di tengah perubahan tersebut, perusahaan pers dinilai tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga harus mampu mempertahankan aset terpentingnya, yakni kepercayaan publik.
Pesan itu disampaikan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, Lutfil Hakim, saat memberikan sambutan dalam ajang Radar Surabaya Awards 2026 di Surabaya, Kamis, 30 Juli 2026.
Baca juga: Dialog PWI - DPRD Gresik Soroti Paradoks Industri: PDRB Tinggi Tapi PAD Masih Rendah
Menurut Lutfil, media massa kini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding beberapa dekade lalu. Selain beradaptasi dengan transformasi digital, media juga harus bersaing dengan platform digital, media sosial, kreator konten, hingga teknologi AI yang mengubah pola produksi, distribusi, dan konsumsi informasi.
"Kalau ada media yang bisa bertahan sampai 25 tahun seperti ini, saya kira ini sangat luar biasa. Ini membuktikan bahwa Radar Surabaya mampu menghadapi perubahan-perubahan yang dahsyat," ujar Lutfil.
Ia mengatakan, perjalanan lebih dari dua dekade sebuah perusahaan pers menunjukkan kemampuan beradaptasi menghadapi berbagai dinamika, mulai dari perubahan politik nasional, krisis ekonomi, pergeseran dari media cetak ke platform digital, hingga pandemi Covid-19. Namun, menurutnya, tantangan terbesar saat ini justru datang dari perubahan perilaku masyarakat dalam memperoleh informasi.
Publik kini semakin banyak mengakses berita melalui platform digital yang dikendalikan algoritma, sehingga media arus utama harus bersaing memperebutkan perhatian pembaca sekaligus pendapatan iklan. Di sisi lain, kehadiran AI turut mengubah cara masyarakat menemukan dan mengonsumsi informasi. Karena itu, perusahaan pers dituntut mampu memanfaatkan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar jurnalistik.
"Media sekarang langsung berhadapan dengan AI, langsung berhadapan dengan algoritma. Yang paling penting adalah bagaimana mampu melakukan adaptasi terhadap perubahan dan mampu menjaga kepercayaan publik," katanya.
Baca juga: Jelang HPN 2026, Ketua MPR Dorong Pers Jaga Integritas di Era Konten Digital
Lutfil menilai, derasnya perkembangan teknologi juga melahirkan kompetisi baru dari kreator konten, influencer, hingga podcaster yang mampu menjangkau audiens dalam jumlah besar meski tidak bekerja dengan standar jurnalistik sebagaimana media profesional.
Karena itu, ia menegaskan bahwa keunggulan media massa bukan terletak pada kecepatan semata, melainkan pada kualitas informasi yang disajikan melalui proses verifikasi, akurasi, independensi, serta kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik.
Menurutnya, di tengah banjir informasi yang beredar di ruang digital, masyarakat justru semakin membutuhkan media yang mampu menjadi rujukan informasi yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan. "Kepercayaan publik adalah modal utama media. Teknologi akan terus berubah, tetapi nilai-nilai jurnalistik seperti akurasi, verifikasi, independensi, dan etika tidak boleh ditinggalkan," tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Lutfil juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh penerima Radar Surabaya Awards 2026. Ia berharap penghargaan tersebut tidak berhenti sebagai bentuk pengakuan atas prestasi, tetapi menjadi motivasi untuk terus menghadirkan inovasi dan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Baca juga: Eri Cahyadi Nyatakan Perang terhadap Premanisme di Surabaya: Lapor Ditindak 2×24 Jam dan Gratis
"Yang terpenting bukan selebrasi menerima trofi, tetapi bagaimana penghargaan itu menjadi motivasi untuk terus berkarya, berdedikasi, berinovasi, dan semuanya berujung pada kemanfaatan bagi kehidupan masyarakat," ujarnya.
Lutfil menambahkan, masa depan industri pers akan sangat ditentukan oleh kemampuan media mengombinasikan inovasi teknologi dengan integritas jurnalistik. AI dapat menjadi alat yang membantu kerja redaksi, tetapi tidak dapat menggantikan fungsi utama jurnalisme dalam menghadirkan informasi yang telah diverifikasi, berimbang, dan berpihak pada kepentingan publik.
"Di era AI, yang membedakan media profesional dengan sumber informasi lainnya adalah kepercayaan. Itulah yang harus terus dijaga," pungkasnya.
Editor : Amal