Adab-Tradisi dan Kemajuan

author Redaksi

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Airlangga Pribadi, Dosen FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dan Direktur Eksekutif Centre of Statecraft and Citizenship Studies (CSCS) Airlangga. (Dok: Jurnas.net)
Airlangga Pribadi, Dosen FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dan Direktur Eksekutif Centre of Statecraft and Citizenship Studies (CSCS) Airlangga. (Dok: Jurnas.net)

Tradisi tidak dengan sendirinya anti-kemajuan. Bahkan tradisi itu sendiri bisa menjadi bintang penuntun atau rakit yang membawa setiap komunitas untuk menuju kemajuan. Maknanya secara dialektik bahwa tradisi tidak bisa juga sedemikian rupa dijadikan tameng bagi suatu kaum untuk menyangkal kritik terhadap suatu komunitas, seperti komunitas agama.

Namun kritik terhadap suatu komunitas bisa menjadi jalan penting untuk membangun refleksi suatu komunitas mencapai jalan kemajuan melalui renungan dan tindakan aktif berhubungan dengan tradisi.

Bahkan respon sarkastik maupun respon dangkal yang tidak pantas dipandang sebagai suatu kritik sendiri (karena muncul dari pantulan commonsense) juga menjadi dorongan momentum penting untuk memulai refleksi dalam hubungan antara komunitas dan tradisi.

Demikian pula dalam misalnya tradisi yang terbangun dalam laku adab santri mencium tangan gurunya. Saya sendiri termasuk orang yang tidak canggung atau segan mencium tangan guru yang pantas untuk diteladani. Menurut saya pikiran dan sikap yang pantas terhadap respon commonsense tentang berbagai kritik ataupun serangan dan olok/olokan terhadap tradisi adalah meninjau bagaimana relasi suatu komunitas dalam keseluruhan tatanan sosial yang terbangun.

Sehingga jangan sampai suatu tradisi atau adab menghilangkan renungan kritis terhadap ada yang perlu dikoreksi dalam hubungan antara komunitas dengan realitas sosial yang lebih luas.

Sebagai contoh sejarah, KH Abdurrahman Wahid dikenang sebagai tokoh progresif tradisional. Sebelum tampilnya beliau sebagai pendorong progress dalam NU. NU dianggap sebagai organisasi kolot dan konservatif yang menolak kemajuan.

Gus Dur menjawabnya dengan tidak bersikap apologetik terhadap reaksi-reaksi tersebut. Namun dia melakukan refleksi kritis untuk melakukan koreksi kelembagaan dan mendorong demokrasi melalui pijakan tradisi. Semua itu dijalankan melalui platform yang indah bernuansa tradisi yang kental, kembali ke Khittah 1926.

[caption id="attachment_8887" align="alignnone" width="719"] Airlangga Pribadi, Dosen FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dan Direktur Eksekutif Centre of Statecraft and Citizenship Studies (CSCS) Airlangga. (Dok: Jurnas.net)[/caption]

Dalam komunitas Katolik, dikenal nama Pope Fransis beliau memimpin gereja katholik ketika saat itu banyak kritik terkait dengan merosotnya moralitas gereja. Dia melakukan perubahan progress melalui tradisi katholik dengan mengoreksi dan melawan setiap bentuk pembusukan didalamnya melalui tradisi katholik yang ia yakini.

Dalam konteks sejarah yang lebih dulu kita bisa melihat dalam dunia Katholik ada ordo yang bernama Societas Jesuit atau SJ didirikan oleh Ignatius De Loyola tahun 1534. Saat Gereja Katholik digugat karena dianggap bagian dari kekuasaan feodal, koruptif dan mengalami pembekuan.

Ignatius De Loyola merespons dengan membangun ordo SJ ini yang bercirikan terlibat dalam pergumulan rasionalitas, mendefinisikan keadilan, dan di beberapa tempat seperti Amerika Latin banyak komunitas mereka terlibat dalam perjuangan keadilan. Semua itu dijalankan dengan tetap berpegang pada tradisi.

Akhirnya saya teringat terhadap suatu kisah sufi Nasrudin Hoja: Suatu hari Nasrudin mencari seutas benang yang hilang dari busana kesayangannya ditumpukan jerami. Lalu ada kawannya datang dan menegur: Nasrudin kamu lagi cari apa? Cari benang yang hilang dari busanaku yang tertinggal di teras rumah.

Kawannya menjawab: kenapa kamu nyarinya disini? Bukankah busanamu ada diluar sana. Nasrudin menjawab: enak nyarinya disini bro, soalnya disini lebih terang. kawannya: kamu ini kayak wong gendeng, nyari kok ditempat seenaknya kamu, padahal hilangnya di tempat lain. Nasrudin: Nah itulah manusia bro.

Bukan Khotbah Jumat

Oleh: Airlangga Pribadi, Dosen FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dan Direktur Eksekutif Centre of Statecraft and Citizenship Studies (CSCS) Airlangga.

Berita Terbaru

Pemkot Surabaya Gandeng Kejati Jatim untuk Tarik Aset yang Dikuasai Pihak Ketiga

Pemkot Surabaya Gandeng Kejati Jatim untuk Tarik Aset yang Dikuasai Pihak Ketiga

Jumat, 06 Mar 2026 06:24 WIB

Jumat, 06 Mar 2026 06:24 WIB

Jurnas.net - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat langkah penyelamatan aset daerah dengan menggandeng Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Kerja sama strategis…

Surat Gus Lilur ke Presiden Prabowo Subianto Berbuah Kebijakan, Pemerintah Terbitkan Permen KP 5/2026 soal Ekspor Lobste

Surat Gus Lilur ke Presiden Prabowo Subianto Berbuah Kebijakan, Pemerintah Terbitkan Permen KP 5/2026 soal Ekspor Lobste

Jumat, 06 Mar 2026 05:28 WIB

Jumat, 06 Mar 2026 05:28 WIB

Jurnas.net - Sebuah surat elektronik yang dikirim pengusaha nasional asal Situbondo, Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, kepada Presiden Prabowo…

Beasiswa Banyuwangi Progresif Dibuka April 2026, Prioritas Kedokteran dan Jurusan Kesehatan

Beasiswa Banyuwangi Progresif Dibuka April 2026, Prioritas Kedokteran dan Jurusan Kesehatan

Jumat, 06 Mar 2026 04:17 WIB

Jumat, 06 Mar 2026 04:17 WIB

Jurnas.net - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus memperkuat kualitas layanan publik, terutama di sektor kesehatan. Salah satu langkah strategis yang ditempuh…

Gubernur Khofifah Pastikan Stok Bahan Pokok Aman Jelang Idul Fitri

Gubernur Khofifah Pastikan Stok Bahan Pokok Aman Jelang Idul Fitri

Kamis, 05 Mar 2026 20:44 WIB

Kamis, 05 Mar 2026 20:44 WIB

Jurnas.net - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memastikan ketersediaan bahan pokok di Jawa Timur dalam kondisi aman menjelang Idul Fitri. Kepastian…

PDIP Jatim Sesalkan Konflik Timur Tengah, Serukan Perdamaian Dunia

PDIP Jatim Sesalkan Konflik Timur Tengah, Serukan Perdamaian Dunia

Kamis, 05 Mar 2026 19:33 WIB

Kamis, 05 Mar 2026 19:33 WIB

Jurnas.net - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Jawa Timur menyampaikan keprihatinan mendalam atas memanasnya konflik di Timur…

PDIP Jatim Gelar Nuzulul Quran, Salurkan 360 Ribu Paket Sembako Selama Ramadan

PDIP Jatim Gelar Nuzulul Quran, Salurkan 360 Ribu Paket Sembako Selama Ramadan

Kamis, 05 Mar 2026 18:04 WIB

Kamis, 05 Mar 2026 18:04 WIB

Jurnas.net - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Jawa Timur menggelar peringatan Nuzulul Quran di Kantor DPD PDIP Jawa Timur, Surabaya, Kamis, 5 Maret…