Jurnas.net - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopumdag) menggandeng Universitas Kristen (UK) Petra dan Singapore University of Technology and Design (SUTD) untuk memperkuat sistem manajemen Koperasi Sumber Mulia Barokah (SMB) melalui digitalisasi.
Program kolaborasi internasional ini menghadirkan 60 mahasiswa dari Indonesia dan Singapura yang terjun langsung membedah tantangan operasional koperasi di Tambak Wedi Surabaya.
Kepala Dinkopumdag Kota Surabaya, Mia Santi Dewi, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen pemkot dalam menaikkan kelas UMKM melalui teknologi. Koperasi SMB, yang bergerak di sektor jahit sebagai padat karya unggulan, dinilai sudah berkembang pesat tetapi masih dibatasi sistem manual.
“Perkembangannya bagus, pesanan sudah masuk dari luar pemerintah. Tetapi sistem operasionalnya perlu sentuhan teknologi. Aplikasi stokis dan pemasaran akan membantu alur barang dari bahan baku hingga produksi tak lagi manual,” kata Mia, Sabtu, 10 Januari 2026.
Mia menegaskan, jika prototipe digitalisasi ini berhasil, modelnya akan direplikasi ke UMKM lain di Surabaya untuk meminimalkan risiko kesalahan pencatatan dan barang tercecer.
Di sisi akademik, Wakil Dekan 2 School of Business and Management UK Petra, Vido Iskandar, menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kunjungan, melainkan hackathon intensif dua hari. Mahasiswa ditantang menciptakan solusi berbasis machine learning dan data visualization.
“Output-nya adalah prototipe web-based. Pengambilan keputusan koperasi ke depan harus berbasis data,” kata Vido.
Ia menyebut ada tiga fokus utama digitalisasi
perbaikan sistem pencatatan internal
perluasan pasar digital persiapan pembukaan toko fisik (stokis) tahun 2026.
Ketua Koperasi SMB, Ucik Fatimatuzzahro, menyambut positif program tersebut. Dalam empat tahun, koperasinya yang memiliki 111 anggota penjahit telah tumbuh dari memproduksi seragam sekolah hingga berbagai jenis pakaian, termasuk busana muslim. Ucik menilai digitalisasi akan membantu manajemen SDM dan biaya secara presisi.
“Kami butuh sistem seperti ‘rekam medis’ untuk pekerja. Dengan database digital, performa penjahit dan biaya tenaga kerja tercatat jelas. HPP bisa dihitung lebih efisien, sehingga siap merambah pasar luar Jawa,” tuturnya.
Salah satu mahasiswa UK Petra, Sebastian Yohan Setiadji, mengatakan tim mahasiswa akan merancang sistem yang mencakup manajemen stok dan basis harga dari supplier. “Tantangannya memahami kebutuhan secara mendalam. Kami butuh data detail agar sistem benar-benar akurat,” ujarnya.
Ia berharap setelah prototipe situs web selesai, akan ada pelatihan lanjutan agar anggota koperasi benar-benar mengadopsi sistem baru. “Tanpa sosialisasi memadai, ada risiko mereka kembali ke pencatatan manual,” pungkasnya.
Editor : Risfil Athon