Budayawan Kecam Pemkab Gresik: Jantung Sejarah Bandar Grissee Dihancurkan, Cagar Budaya Eks VOC Dirobohkan

author M. Faizul

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Bangunan cagar budaya Eks Asrama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Kabupaten Gresik setelah dirobohkan. (Faizul/Jurnas.net)
Bangunan cagar budaya Eks Asrama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Kabupaten Gresik setelah dirobohkan. (Faizul/Jurnas.net)

Jurnas.net - Penghancuran sebagian bangunan gedung milik PT Pos Indonesia di kawasan Kota Tua Bandar Grissee kembali membuka luka lama pelestarian cagar budaya di Gresik. Bangunan eks asrama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya itu kini nyaris lenyap—diratakan hingga tembus ke Jalan Nyai Ageng Pinatih.

Pantauan di lokasi menunjukkan, jejak sejarah ratusan tahun tersebut kini hanya menyisakan dua sumur tua. Puing-puing bangunan berserakan di sekitar gedung utama Kantor Pos Gresik, menjadi saksi bisu hilangnya salah satu artefak penting perjalanan kota pelabuhan tertua di Jawa Timur itu.

Kondisi ini menuai kritik tajam dari kalangan budayawan. Ahmad Ali Murtadho, budayawan Gresik sekaligus pengurus Dewan Kebudayaan Gresik (DKG), menilai tindakan tersebut sebagai bukti kegagalan Pemkab Gresik menjaga konsistensi kebijakan pelestarian.

“Kantor Pos Gresik bukan bangunan biasa. Ini bukti eksistensi Gresik sejak awal kolonial abad ke-17, jejak sejarah sistem komunikasi, ekonomi, dan tata kota yang bertahan lebih dari empat abad,” kata Ahmad Ali, Minggu, 25 Januari 2026.

Ia menyebut penghancuran bangunan dan sumur cagar budaya tersebut memperlihatkan ketidaksinkronan serius antara kajian zonasi yang disusun pemerintah dengan praktik pembangunan di lapangan.

“Ini menunjukkan ketidakselarasan antara dokumen perencanaan dan tindakan nyata. Kajian Zonasi dan Manajemen Cagar Budaya seharusnya menjadi pedoman utama, tapi justru diabaikan demi pembangunan fisik semata,” kritiknya.

Menurutnya, apa yang terjadi di Bandar Grissee memperkuat dugaan bahwa kajian cagar budaya selama ini hanya menjadi formalitas administratif tanpa tindak lanjut konkret. “Pemerintah seperti tidak pernah belajar dari kajian yang mereka buat sendiri. Semua berhenti di atas kertas,” ujarnya.

Ahmad Ali mengingatkan, jika pola semacam ini terus dibiarkan, Bandar Grissee berpotensi kehilangan predikatnya sebagai kawasan heritage otentik dan berubah menjadi ruang publik tanpa identitas sejarah.

“Tanpa kepatuhan pada aturan pelestarian, Bandar Grissee hanya akan menjadi wisata tanpa narasi. Pengunjung datang, tapi kehilangan koneksi dengan masa lalu Gresik,” bebernya.

Ia menegaskan bahwa peristiwa ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi Pemkab Gresik untuk segera mengevaluasi arah kebijakan pembangunan kawasan kota tua. “Padahal masih ada ratusan bangunan tua lain yang terbengkalai. Kalau satu per satu dihancurkan, lambat laun wajah kesejarahan Gresik akan hilang,” katanya.

Ahmad Ali menegaskan, pelestarian bukan berarti membiarkan bangunan tua rusak dan tak terawat, tetapi memberi fungsi baru tanpa mengorbankan nilai historisnya. “Jangan sampai Bandar Grissee yang diproyeksikan sebagai kebanggaan warga Gresik justru menjadi monumen kegagalan pemerintah menjaga warisan leluhur,” tandasnya.

Ia menekankan, agar kawasan heritage Gresik tidak semakin “oleng”, setidaknya ada tiga pilar yang wajib dijalankan Pemkab Gresik secara paralel: kepatuhan penuh pada UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, pendekatan arsitektural yang simpatik dan tidak destruktif, serta pelibatan aktif sejarawan dan komunitas budaya dalam setiap perubahan fisik kawasan.

Untuk diketahui, sejarah mencatat bangunan Kantor Pos Gresik bukan hanya fasilitas layanan publik. Gedung ini pernah difungsikan sebagai asrama anggota VOC sejak awal 1600-an. VOC sendiri didirikan pada 1602 sebagai kongsi dagang raksasa Belanda untuk menguasai perdagangan rempah Nusantara.

Sejak 1603, VOC mulai membangun loji dan gudang di wilayah Gresik, terutama di sekitar pelabuhan hingga Jalan Basuki Rahmat di kawasan yang kini dikenal sebagai Bandar Grissee. Pada era Herman Willem Daendels, kawasan ini berkembang menjadi basis industri senjata yang melahirkan nama Kampung Bedilan.

Pasca VOC bubar pada 1799, bangunan tersebut dialihfungsikan menjadi kantor pemerintahan kolonial hingga Kantor Pos dan Telegraf Hindia Belanda (Post-en Telegraafkantoorte Grissse), dan terus berfungsi sebagai kantor pos hingga masa Indonesia merdeka.

Kini, bangunan bersejarah itu justru terancam hilang bukan karena usia, melainkan karena keputusan pembangunan yang mengabaikan nilai sejarah.

Berita Terbaru

Puguh Wiji Pamungkas: Penanganan Pengangguran Tak Cukup Andalkan Job Fair

Puguh Wiji Pamungkas: Penanganan Pengangguran Tak Cukup Andalkan Job Fair

Selasa, 27 Okt 2026 17:51 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 17:51 WIB

Jurnas.net – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, menilai penanganan pengangguran tidak cukup hanya mengandalkan program bursa kerja atau j…

Motif Suami Siri Bunuh Ibu dan Anak di Madiun, Karena Takut Kejahatannya Terbongkar

Motif Suami Siri Bunuh Ibu dan Anak di Madiun, Karena Takut Kejahatannya Terbongkar

Selasa, 27 Okt 2026 14:33 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 14:33 WIB

Jurnas.net - Kekhawatiran aksinya terbongkar diduga menjadi motif Dwi Bagus Martono (40) membunuh anak tirinya, AGM, yang baru berusia empat tahun di Kota…

Gresik Bidik Peringkat Tiga POPDA Jatim 2026, Bonus Emas Naik Jadi Rp 10 Juta

Gresik Bidik Peringkat Tiga POPDA Jatim 2026, Bonus Emas Naik Jadi Rp 10 Juta

Selasa, 27 Okt 2026 13:09 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 13:09 WIB

Jurnas.net — Kabupaten Gresik membidik posisi tiga besar dalam Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XV dan Pekan Paralimpik Pelajar Daerah (PEPARPEDA) III J…

Ibu dan Anak Dibunuh di Dua Lokasi, Suami Siri di Madiun Terancam Hukuman Mati

Ibu dan Anak Dibunuh di Dua Lokasi, Suami Siri di Madiun Terancam Hukuman Mati

Selasa, 27 Okt 2026 12:38 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 12:38 WIB

Jurnas.net - Penyidik Polda Jawa Timur menjerat Dwi Bagus Martono (DBM), pria berusia 40 tahun asal Kota Madiun, dengan pasal pembunuhan berencana atas dugaan…

Gus Lilur Jajaki Bisnis Batu Bara dan Lobster di Vietnam, Tetap Desak KPK Usut Dugaan Jual Beli Suara Muktamar NU

Gus Lilur Jajaki Bisnis Batu Bara dan Lobster di Vietnam, Tetap Desak KPK Usut Dugaan Jual Beli Suara Muktamar NU

Selasa, 27 Okt 2026 11:27 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 11:27 WIB

Jurnas.net - Pengusaha Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, menjajaki peluang bisnis batu bara dan budi daya benih bening…

Ibu dan Anak Dibunuh di Hotel Madiun, Polisi Dalami Dugaan Jasad Dihancurkan dengan Mesin Giling

Ibu dan Anak Dibunuh di Hotel Madiun, Polisi Dalami Dugaan Jasad Dihancurkan dengan Mesin Giling

Senin, 26 Okt 2026 10:01 WIB

Senin, 26 Okt 2026 10:01 WIB

Jurnas.net - Polisi mengungkap kasus dugaan pembunuhan terhadap seorang perempuan berinisial DH (30) dan anaknya yang masih berusia empat tahun, AG, di Kota…