Surabaya Benahi Hunian Kota, Pembatasan Kos dan Penguatan Rusun Jadi Strategi Utama

author Kurniawan

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Ilustrasi rusunawa Romokalisari Surabaya. (Humas Pemkot Surabaya)
Ilustrasi rusunawa Romokalisari Surabaya. (Humas Pemkot Surabaya)

Jurnas.net – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat langkah menuju visi sebagai kota berkelas dunia melalui penataan menyeluruh, mulai dari infrastruktur, sistem pelayanan publik, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia. Salah satu fokus strategis yang kini mendapat perhatian serius adalah penyediaan hunian layak, bersih, dan sehat bagi seluruh warga.

Komitmen tersebut diperkuat melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2026 tentang Hunian Layak, yang menegaskan bahwa setiap warga memiliki hak atas tempat tinggal yang aman, sehat, dan manusiawi. Regulasi ini sekaligus menempatkan pemerintah daerah bukan hanya sebagai pembuat aturan, tetapi juga sebagai aktor aktif dalam menjamin kualitas ruang hidup masyarakat.

Pemerhati Kebijakan Sosial, Budaya, Pendidikan, Kesehatan, dan Perlindungan Anak Jawa Timur, Isa Ansori, menilai kehadiran perda tersebut menjadi pijakan penting dalam mengarahkan tata kelola permukiman di Surabaya agar lebih terukur dan berkelanjutan.

“Rumusan ini menegaskan bahwa negara, dalam hal ini pemerintah kota, tidak boleh sekadar menjadi regulator pasif. Mereka harus hadir secara nyata dalam memastikan kualitas hunian dan lingkungan warga tetap terjaga,” kata Isa, Selasa, 5 Mei 2026.

Dalam implementasinya, Pemkot Surabaya tengah mengkaji sejumlah kebijakan strategis, termasuk pembatasan rumah kos serta penguatan pembangunan hunian vertikal seperti rumah susun sederhana sewa (rusunawa) dan rumah susun sederhana milik (rusunami).

Pembatasan rumah kos dirancang dengan sejumlah ketentuan, seperti jumlah kamar maksimal, batas ketinggian bangunan hingga tiga lantai, larangan berdiri di kawasan perumahan tertentu, serta kewajiban menyediakan ruang tamu dan lahan parkir.

Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga kualitas lingkungan sekaligus menghindari pertumbuhan hunian yang tidak terkendali. "Pembatasan kos bukan sekadar larangan administratif, tetapi upaya menjaga keselamatan bangunan, kesehatan lingkungan, dan kesesuaian tata ruang. Ini penting agar kualitas hidup warga tidak menurun akibat kepadatan yang tak terkendali,” jelas Isa.

Namun di sisi lain, Isa mengingatkan bahwa rumah kos memiliki peran vital dalam ekosistem sosial dan ekonomi perkotaan. Selain menjadi pilihan hunian yang terjangkau dan fleksibel, kos juga menopang kehidupan banyak warga, baik sebagai tempat tinggal bagi mahasiswa, pekerja informal, maupun buruh urban.

Bahkan, di banyak kampung kota, usaha kos menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat. Karena itu, kebijakan pembatasan yang terlalu ketat berpotensi menimbulkan dampak sosial-ekonomi yang signifikan, terutama bagi pemilik kos skala kecil.

“Jika tidak dirancang hati-hati, kebijakan ini bisa meminggirkan kelompok rentan, baik penghuni maupun pemilik kos yang menggantungkan hidupnya dari sektor tersebut,” tegasnya.

Di sisi lain, solusi hunian vertikal seperti rusunawa dan rusunami memang menawarkan standar yang lebih baik dari segi konstruksi, sanitasi, dan pengelolaan. Namun, model ini dinilai belum sepenuhnya mampu menggantikan fungsi sosial rumah kos.

Rusunawa masih terbatas dari sisi kuota dan kerap menghadapi kendala administratif, sementara rusunami cenderung menyasar masyarakat dengan kemampuan finansial lebih stabil, bukan kelompok berpenghasilan harian.

Selain itu, hunian vertikal juga membawa konsekuensi sosial, seperti perubahan pola interaksi masyarakat hingga potensi munculnya keterasingan sosial yang berbeda dengan kehidupan komunal di kampung.

“Hunian yang layak secara fisik belum tentu layak secara sosial. Kota bukan hanya ruang fisik, tetapi juga ruang hidup dengan relasi sosial yang harus dijaga,” paparnya.

Karena itu, Isa menekankan pentingnya pendekatan yang lebih adaptif dan inklusif dalam kebijakan hunian di Surabaya. Ia menawarkan empat poin strategis yang perlu menjadi perhatian Pemkot.

Pertama, rumah kos perlu diakui sebagai bagian sah dari sistem hunian kota, dengan penataan berbasis standar minimum seperti sanitasi, ventilasi, dan keselamatan bangunan. Kedua, pembangunan rusun harus benar-benar berpihak pada kebutuhan riil warga, termasuk pemilihan lokasi yang dekat dengan pusat aktivitas ekonomi.

Ketiga, diperlukan skema transisi yang adil bagi masyarakat, termasuk pendampingan bagi warga terdampak serta pelibatan pemilik kos kecil dalam proses penataan. Keempat, kebijakan hunian harus dibangun melalui dialog terbuka dengan masyarakat agar tetap relevan dengan kondisi di lapangan.

“Ukuran keberhasilan kota tidak hanya pada kerapian tata ruang, tetapi pada kemampuannya menjaga martabat manusia. Surabaya punya peluang besar menjadi contoh kota yang tidak hanya tertata, tetapi juga manusiawi,” pungkasnya.

Berita Terbaru

Jika Surat Penyetaraan Tidak Sah, Masih Lengkapkah Syarat Pencalonan Gibran?

Jika Surat Penyetaraan Tidak Sah, Masih Lengkapkah Syarat Pencalonan Gibran?

Minggu, 01 Nov 2026 10:49 WIB

Minggu, 01 Nov 2026 10:49 WIB

Oleh: Wakit Nurohman Advokat dan Mahasiswa Magister Hukum Universitas Surabaya (Ubaya) Putusan Mahkamah Agung Nomor 742 K/TUN/2026 mengenai Surat Keterangan…

Golkar Jatim Dukung Pemulangan Jimat Klontong, Pusaka Leluhur Tengger yang Tersimpan di Belanda

Golkar Jatim Dukung Pemulangan Jimat Klontong, Pusaka Leluhur Tengger yang Tersimpan di Belanda

Sabtu, 31 Okt 2026 19:32 WIB

Sabtu, 31 Okt 2026 19:32 WIB

Jurnas.net – Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, H. Ali Mufthi, mendukung upaya pemulangan Jimat Klontong, pusaka bersejarah yang menjadi bagian dari identitas …

Ketika Angka Pertumbuhan Tidak Lagi Cukup

Ketika Angka Pertumbuhan Tidak Lagi Cukup

Sabtu, 31 Okt 2026 18:21 WIB

Sabtu, 31 Okt 2026 18:21 WIB

Oleh: Prof. Dr. Dian Anita Nuswantara, S.E., M.Si., Ak., CA, CIPSAS Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Perekonomian tidak hanya bergerak melalui…

SIER Salurkan Dua Tandon Air Bersih untuk Warga Terdampak Kebakaran Gunung Arjuno

SIER Salurkan Dua Tandon Air Bersih untuk Warga Terdampak Kebakaran Gunung Arjuno

Sabtu, 31 Okt 2026 13:14 WIB

Sabtu, 31 Okt 2026 13:14 WIB

Jurnas.net - PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) terus menunjukkan kepeduliannya terhadap kebutuhan dasar masyarakat melalui program Tanggung Jawab…

PMII Desak Kapolres Probolinggo Buka Dasar Hukum Melepas Dua Orang dalam Kasus Rokok Ilegal

PMII Desak Kapolres Probolinggo Buka Dasar Hukum Melepas Dua Orang dalam Kasus Rokok Ilegal

Sabtu, 31 Okt 2026 11:05 WIB

Sabtu, 31 Okt 2026 11:05 WIB

Jurnas.net – Penanganan dugaan peredaran rokok ilegal oleh Polres Probolinggo menjadi sorotan setelah dua orang yang dipersoalkan massa demonstran disebut d…

SIER Gerak Cepat Tangani Insiden Kebakaran di TPST Lestari PIER, Seluruh Pekerja Dipastikan Selamat

SIER Gerak Cepat Tangani Insiden Kebakaran di TPST Lestari PIER, Seluruh Pekerja Dipastikan Selamat

Jumat, 30 Okt 2026 19:42 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 19:42 WIB

Jurnas.net – PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) bergerak cepat menangani insiden kebakaran yang terjadi di area Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (…

Bangun Platform Ekspor Kopi, Wisudawan Universitas Ciputra Hubungkan 50 Petani ke Pasar Global

Bangun Platform Ekspor Kopi, Wisudawan Universitas Ciputra Hubungkan 50 Petani ke Pasar Global

Jumat, 30 Okt 2026 17:10 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 17:10 WIB

Jurnas.net – Memulai bisnis kopi dari pasar lokal, Aryasetya Kanaka Dumadi berhasil mengembangkan usahanya hingga menembus pasar internasional. Wisudawan p…

Data KTP dan KK Warga 4 Wilayah Diduga Dipakai untuk Penipuan dan Judol, Polisi Tangkap Pria Sidoarjo

Data KTP dan KK Warga 4 Wilayah Diduga Dipakai untuk Penipuan dan Judol, Polisi Tangkap Pria Sidoarjo

Jumat, 30 Okt 2026 10:27 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 10:27 WIB

Jurnas.net – Direktorat Siber Polda Jawa Timur mengungkap dugaan penyalahgunaan data kependudukan berupa kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK) y…

Alit Kelakan Terpilih sebagai Ketua Umum DPP GPM Periode 2026–2030

Alit Kelakan Terpilih sebagai Ketua Umum DPP GPM Periode 2026–2030

Kamis, 29 Okt 2026 20:35 WIB

Kamis, 29 Okt 2026 20:35 WIB

Jurnas.net - I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan atau Alit Kelakan terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Marhaenis (DPP GPM) periode…

Fakta Persidangan: Eks Kadis ESDM Jatim Nur Kholis Diduga Terima Rp 687,5 Juta Hasil Pungli Izin Tambang

Fakta Persidangan: Eks Kadis ESDM Jatim Nur Kholis Diduga Terima Rp 687,5 Juta Hasil Pungli Izin Tambang

Kamis, 29 Okt 2026 17:21 WIB

Kamis, 29 Okt 2026 17:21 WIB

Jurnas.net – Dugaan aliran dana pungutan liar (pungli) senilai Rp 687,5 juta kepada mantan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur, Nur K…

Eddy Soeparno Sebut Transmisi Kunci Transisi Energi, Dorong Investasi dan Kerja Sama Indonesia-Jepang

Eddy Soeparno Sebut Transmisi Kunci Transisi Energi, Dorong Investasi dan Kerja Sama Indonesia-Jepang

Rabu, 28 Okt 2026 21:55 WIB

Rabu, 28 Okt 2026 21:55 WIB

Jurnas.net - Penguatan jaringan transmisi listrik menjadi kunci keberhasilan transisi energi Indonesia. Pembangunan pembangkit energi terbarukan harus diiringi…

Hasto Kristiyanto: Marhaenisme adalah Ideologi Pembebasan

Hasto Kristiyanto: Marhaenisme adalah Ideologi Pembebasan

Rabu, 28 Okt 2026 20:56 WIB

Rabu, 28 Okt 2026 20:56 WIB

Jurnas.net - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan pentingnya menghidupkan kembali pemikiran Bung Karno dan menempatkan Marhaenisme…

Gerakan Pemuda Marhaenis Hidupkan Kembali Pemikiran Bung Karno

Gerakan Pemuda Marhaenis Hidupkan Kembali Pemikiran Bung Karno

Rabu, 28 Okt 2026 18:48 WIB

Rabu, 28 Okt 2026 18:48 WIB

Jurnas.net - Ketua Umum DPP Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM), Ir. Izedrik Emir Moeis, M.Sc., menekankan pentingnya mengenalkan kembali pemikiran Bung Karno…

Puguh Wiji Pamungkas: Penanganan Pengangguran Tak Cukup Andalkan Job Fair

Puguh Wiji Pamungkas: Penanganan Pengangguran Tak Cukup Andalkan Job Fair

Selasa, 27 Okt 2026 17:51 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 17:51 WIB

Jurnas.net – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, menilai penanganan pengangguran tidak cukup hanya mengandalkan program bursa kerja atau j…

Motif Suami Siri Bunuh Ibu dan Anak di Madiun, Karena Takut Kejahatannya Terbongkar

Motif Suami Siri Bunuh Ibu dan Anak di Madiun, Karena Takut Kejahatannya Terbongkar

Selasa, 27 Okt 2026 14:33 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 14:33 WIB

Jurnas.net - Kekhawatiran aksinya terbongkar diduga menjadi motif Dwi Bagus Martono (40) membunuh anak tirinya, AGM, yang baru berusia empat tahun di Kota…