Jurnas.net - Regenerasi petani menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan sektor pertembakauan di Jawa Timur. Di tengah menurunnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian, pemerintah provinsi mulai menyiapkan langkah strategis agar komoditas unggulan tersebut tetap memiliki penerus yang mampu bersaing di era modern.
Melalui program Youth Agrifuture Agropreneur Tembakau 2026 atau JAWARA Tembakau (Jiwa Wira Usaha Tembakau Agropreneur Muda Berkualitas), Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur berupaya mencetak petani muda yang tidak hanya mahir membudidayakan tembakau, tetapi juga memiliki kemampuan berwirausaha, menguasai teknologi, serta mampu membaca peluang pasar.
Program tersebut dijalankan oleh Bidang Produksi Tanaman Semusim Dinas Perkebunan Jatim, sebagai bagian dari strategi menjaga keberlanjutan industri pertembakauan sekaligus melestarikan varietas tembakau lokal yang menjadi kekayaan pertanian Jawa Timur.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno, mengatakan masa depan sektor pertembakauan tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman petani senior. Dibutuhkan generasi baru yang mampu mengombinasikan keterampilan budidaya dengan inovasi, teknologi, dan manajemen usaha.
"Keberlanjutan pertembakauan Jawa Timur bergantung pada hadirnya generasi yang tidak hanya terampil di lahan, tetapi juga mampu mengelola usaha, memanfaatkan teknologi, dan membaca peluang pengembangan komoditas," kara Heru, Senin, 3 Agustus 2026.
Menurut dia, JAWARA Tembakau dirancang agar peserta tidak sekadar menjadi penerima bantuan pemerintah. Mereka justru didorong menjadi pelaku utama yang mengelola usaha tani secara mandiri sejak awal hingga akhir musim tanam. Salah satu metode utama dalam program ini adalah pembangunan demonstration farm (demfarm) sebagai laboratorium lapangan bagi para peserta.
Setiap peserta diwajibkan menyediakan lahan seluas satu hektare yang kemudian dikelola sebagai demfarm. Di lokasi tersebut mereka mempraktikkan seluruh tahapan budidaya, mulai dari penyiapan lahan, penggunaan benih unggul, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, hingga proses panen.
Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga belajar mengambil keputusan berdasarkan kondisi nyata di lapangan. "Petani muda tidak ditempatkan sebagai penerima bantuan pasif, melainkan sebagai pelaku yang belajar mengambil keputusan sepanjang musim tanam," kata Heru.
Pada 2026, JAWARA Tembakau dilaksanakan melalui 15 demfarm dengan total luas 15 hektare yang tersebar di 14 kabupaten sentra pengembangan tembakau di Jawa Timur. Berbagai varietas unggulan dikembangkan dalam program tersebut, antara lain tembakau Jawa, Madura, Kasturi, Besuki Na-Oogst, Paiton, White Burley, hingga Virginia.
Selain praktik budidaya, peserta juga dibekali berbagai pelatihan untuk meningkatkan kapasitas sebagai pelaku usaha pertanian modern. Dinas Perkebunan Jatim menggandeng Universitas Brawijaya dalam memberikan pelatihan teknologi dan inovasi budidaya tembakau, termasuk peningkatan kualitas hasil panen serta efisiensi produksi.
Peserta juga mengikuti pelatihan mekanisasi pertanian agar mampu memanfaatkan peralatan modern untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja manual.
Sementara itu, pelatihan teknis budidaya diberikan bersama Balai Riset dan Pengujian Mutu Tanaman Aneka Serat (BRMP-TAS), sehingga peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pengelolaan tanaman tembakau. "Pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan tidak berhenti sebagai teori. Peserta diharapkan dapat menerapkannya secara langsung di demfarm dan melihat hasil serta tantangannya di lapangan," ujar Heru.
Tak hanya menyiapkan regenerasi petani, JAWARA Tembakau juga mengemban misi menjaga keberlangsungan berbagai varietas tembakau lokal yang telah dilepas sebagai varietas unggul nasional. Menurut Heru, setiap varietas memiliki karakteristik yang khas dan berkaitan erat dengan daerah pengembangannya. Karena itu, pelestarian tidak cukup dilakukan melalui dokumentasi, tetapi harus terus dibudidayakan oleh generasi penerus.
Melalui demfarm, peserta dapat mengenali karakter setiap varietas sekaligus memahami teknik budidaya yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjaga kekayaan plasma nutfah tembakau Jawa Timur sekaligus memperkuat identitas daerah sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia.
Lebih jauh, JAWARA Tembakau diarahkan untuk mengubah pola pikir generasi muda dari sekadar petani menjadi agropreneur yang mampu mengelola usaha secara profesional. Peserta didorong memahami perencanaan produksi, efisiensi biaya, pencatatan usaha tani, peningkatan mutu hasil, hingga strategi pemasaran agar budidaya tembakau memiliki nilai tambah yang lebih besar.
"Kami ingin generasi muda tidak hanya memiliki kemampuan menanam tembakau, tetapi juga mampu melihat pertanaman sebagai sebuah usaha yang memiliki peluang untuk dikembangkan," kata Heru.
Ia menambahkan, kedekatan generasi muda dengan teknologi digital menjadi modal penting untuk memperluas jejaring pemasaran, mendokumentasikan proses budidaya, hingga mempercepat adopsi inovasi di sektor pertanian.
Karena itu, keberhasilan JAWARA Tembakau tidak hanya diukur dari hasil panen di demfarm, melainkan juga dari meningkatnya keterampilan peserta, kemampuan mengadopsi teknologi, serta kesiapan mereka membangun usaha tani secara mandiri.
"Keberhasilan program tidak hanya dilihat dari hasil pertanaman, tetapi juga dari bagaimana peserta mampu meningkatkan keterampilan, mengadopsi teknologi, dan memiliki kesiapan untuk mengembangkan usaha tani secara mandiri," tandas Heru.
Editor : Andi Setiawan