Orang Tua Bergaji Rp20 Juta Terima Beasiswa, Wali Kota Eri Perintahkan Evaluasi Tota

author Kurniawan

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Warga Surabaya antusias daftar beasiswa. (Humas Pemkot Surabaya)
Warga Surabaya antusias daftar beasiswa. (Humas Pemkot Surabaya)

Jurnas.net - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengambil langkah tegas untuk meluruskan arah Program Beasiswa Pemuda Tangguh 2026. Evaluasi menyeluruh dilakukan setelah ditemukan fakta bahwa sebagian penerima bantuan justru berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi tinggi, bahkan berpenghasilan hingga Rp20 juta per bulan.

Program Beasiswa Pemuda Tangguh sejatinya dirancang sebagai instrumen keberpihakan negara bagi mahasiswa dari keluarga miskin dan pra-miskin ber-KTP Surabaya, khususnya yang masuk dalam Desil 1 hingga 5. Dalam skema program, mahasiswa menerima bantuan biaya pendidikan maksimal Rp2,5 juta per semester serta uang saku Rp300 ribu per bulan selama 10 bulan.

Namun, hasil evaluasi internal Pemkot menunjukkan adanya distorsi serius dalam pelaksanaan. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disbudporapar Kota Surabaya, Heri Purwadi, mengungkapkan sekitar 70 persen penerima bantuan tidak berasal dari kelompok sasaran utama.

“Pak Wali menegaskan, bantuan pendidikan tidak boleh kapitalistik. Negara harus hadir untuk yang benar-benar membutuhkan,” kata Heri, Jumat, 23 Januari 2026.

Temuan tersebut mencuat setelah Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menerima laporan langsung dari masyarakat dan melakukan pengecekan lapangan. Hasilnya, banyak penerima beasiswa berasal dari jalur mandiri, jalur yang umumnya mensyaratkan pembayaran uang gedung dan kerap diakses oleh keluarga mampu.

“Yang mengagetkan, data penghasilan orang tua yang dilaporkan ada di kisaran Rp15 juta hingga Rp20 juta per bulan. Ini jelas tidak sejalan dengan semangat beasiswa untuk keluarga miskin dan pra-miskin,” jelas Heri.

Menurutnya, jalur mandiri dengan kewajiban uang gedung menjadi indikator kuat kemampuan ekonomi keluarga. Kondisi ini dinilai mencederai rasa keadilan sosial, karena bantuan yang seharusnya menjadi jaring pengaman justru dinikmati kelompok yang mampu membiayai pendidikan secara mandiri.

Sikap tegas pun diambil. Wali Kota Eri Cahyadi memerintahkan evaluasi total penerima beasiswa tahun 2026, termasuk penghentian bantuan bagi mahasiswa dari keluarga mampu agar anggaran dapat dialihkan kepada warga yang benar-benar membutuhkan. "Pak Wali tidak ingin bantuan hanya dinikmati segelintir orang yang sebenarnya sanggup. Dana publik harus memberi manfaat sebesar-besarnya bagi warga miskin dan pra-miskin,” tegas Heri.

Langkah korektif ini, lanjut Heri, selaras dengan amanat UUD 1945 Pasal 34, yang menegaskan kewajiban negara memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Karena itu, Pemkot memastikan program bantuan pendidikan tetap berlanjut, namun dengan penyaringan yang lebih ketat dan berkeadilan.

Pemkot Surabaya juga memastikan mahasiswa dari keluarga miskin dan pra-miskin tetap mendapatkan perlindungan penuh, termasuk pembebasan uang gedung serta pembayaran UKT, yang dikoordinasikan langsung dengan masing-masing perguruan tinggi.

“Untuk keluarga miskin dan pra-miskin, bantuan tetap jalan. Uang gedung dan UKT akan diselesaikan oleh Pemkot bersama kampus. Negara tidak boleh absen,” ujar Heri.

Evaluasi ini diharapkan menjadi momentum pembenahan sistem bantuan pendidikan agar lebih transparan, akuntabel, dan benar-benar berpihak pada kelompok rentan. “Negara hadir bukan untuk yang kuat, tapi untuk yang membutuhkan,” pungkasnya.

Berita Terbaru

Puguh Wiji Pamungkas: Penanganan Pengangguran Tak Cukup Andalkan Job Fair

Puguh Wiji Pamungkas: Penanganan Pengangguran Tak Cukup Andalkan Job Fair

Selasa, 27 Okt 2026 17:51 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 17:51 WIB

Jurnas.net – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, menilai penanganan pengangguran tidak cukup hanya mengandalkan program bursa kerja atau j…

Motif Suami Siri Bunuh Ibu dan Anak di Madiun, Karena Takut Kejahatannya Terbongkar

Motif Suami Siri Bunuh Ibu dan Anak di Madiun, Karena Takut Kejahatannya Terbongkar

Selasa, 27 Okt 2026 14:33 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 14:33 WIB

Jurnas.net - Kekhawatiran aksinya terbongkar diduga menjadi motif Dwi Bagus Martono (40) membunuh anak tirinya, AGM, yang baru berusia empat tahun di Kota…

Gresik Bidik Peringkat Tiga POPDA Jatim 2026, Bonus Emas Naik Jadi Rp 10 Juta

Gresik Bidik Peringkat Tiga POPDA Jatim 2026, Bonus Emas Naik Jadi Rp 10 Juta

Selasa, 27 Okt 2026 13:09 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 13:09 WIB

Jurnas.net — Kabupaten Gresik membidik posisi tiga besar dalam Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XV dan Pekan Paralimpik Pelajar Daerah (PEPARPEDA) III J…

Ibu dan Anak Dibunuh di Dua Lokasi, Suami Siri di Madiun Terancam Hukuman Mati

Ibu dan Anak Dibunuh di Dua Lokasi, Suami Siri di Madiun Terancam Hukuman Mati

Selasa, 27 Okt 2026 12:38 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 12:38 WIB

Jurnas.net - Penyidik Polda Jawa Timur menjerat Dwi Bagus Martono (DBM), pria berusia 40 tahun asal Kota Madiun, dengan pasal pembunuhan berencana atas dugaan…

Gus Lilur Jajaki Bisnis Batu Bara dan Lobster di Vietnam, Tetap Desak KPK Usut Dugaan Jual Beli Suara Muktamar NU

Gus Lilur Jajaki Bisnis Batu Bara dan Lobster di Vietnam, Tetap Desak KPK Usut Dugaan Jual Beli Suara Muktamar NU

Selasa, 27 Okt 2026 11:27 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 11:27 WIB

Jurnas.net - Pengusaha Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, menjajaki peluang bisnis batu bara dan budi daya benih bening…

Ibu dan Anak Dibunuh di Hotel Madiun, Polisi Dalami Dugaan Jasad Dihancurkan dengan Mesin Giling

Ibu dan Anak Dibunuh di Hotel Madiun, Polisi Dalami Dugaan Jasad Dihancurkan dengan Mesin Giling

Senin, 26 Okt 2026 10:01 WIB

Senin, 26 Okt 2026 10:01 WIB

Jurnas.net - Polisi mengungkap kasus dugaan pembunuhan terhadap seorang perempuan berinisial DH (30) dan anaknya yang masih berusia empat tahun, AG, di Kota…