Jurnas.net - Malam takbiran di Desa Kepuh Teluk, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, tak sekadar menjadi perayaan menyambut Idulfitri 1447 H. Di tengah gema takbir yang berkumandang, warga justru menghadirkan pesan yang lebih luas: dari kampung kecil, mereka “berdialog” dengan isu dunia.
Fenomena itu tampak dalam arak-arakan takbiran yang digelar pada Jumat malam, 20 Maret 2026. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah replika “nuklir Iran” berbentuk rudal raksasa bertuliskan “GEMPA” yang diarak keliling desa.
Karya tersebut tidak sekadar menjadi hiasan visual. Bagi sebagian pemuda, replika itu merupakan simbol ekspresi terhadap dinamika konflik global yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Di tengah suasana religius malam takbiran, kehadiran simbol global ini memberi warna berbeda, memadukan tradisi lokal, kreativitas seni, dan respons terhadap isu internasional.
Arak-arakan semakin semarak dengan hadirnya berbagai replika lain, mulai dari pesawat tempur, kereta kencana, hingga beragam karakter imajinatif. Setiap karya tampil mencolok dengan balutan lampu warna-warni, diiringi sound system yang mengumandangkan takbir sepanjang rute parade.
Sejak usai salat Isya, warga telah memadati jalan utama desa. Anak-anak hingga orang tua larut dalam kemeriahan, menantikan kemunculan karya terbaik dari tiap dusun yang setiap tahun selalu menghadirkan tema berbeda.
Di balik kemegahan itu, tersimpan kerja kolektif para pemuda desa. Proses pembuatan dimulai sejak pertengahan Ramadan dengan memanfaatkan bahan sederhana seperti bambu, kertas, dan cat. Melalui sentuhan kreativitas, bahan-bahan tersebut disulap menjadi replika berukuran besar yang memikat perhatian.
Tradisi ini telah mengakar kuat di Desa Kepuh, Kecamatan Tambak. Setiap perdukuhan berlomba menampilkan karya terbaiknya, mulai dari bentuk hewan, tokoh mitologi, hingga miniatur kendaraan dan bangunan. Seluruh karya kemudian diarak menggunakan gerobak atau mobil bak terbuka.
Rute arak-arakan terbagi dari dua arah, yakni dari selatan (Dusun Tajung, Desa Legundi) dan dari utara (Dusun Pasir Panjang, Kepuh Teluk), sebelum akhirnya kembali ke titik awal masing-masing dusun.
Menariknya, seluruh pembiayaan dilakukan secara swadaya. Warga memberikan iuran sukarela, sementara para pemuda menjadi motor utama dalam proses produksi hingga pelaksanaan acara.
Bagi masyarakat setempat, arak-arakan takbiran bukan sekadar hiburan tahunan. Tradisi ini menjadi ruang temu, pengikat solidaritas, sekaligus magnet bagi para perantau yang pulang kampung untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.
Panitia malam takbiran Desa Kepuh Teluk, Reza Fahlevi, menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki nilai sosial yang kuat. “Ini bukan sekadar pawai, tetapi ruang kreativitas pemuda dan cara kami menjaga kebersamaan. Dengan kegiatan seperti ini, energi anak-anak muda tersalurkan ke hal positif,” pungkas Reza.
Editor : Risfil Athon