Jurnas.net - Pemerintah Kota Surabaya menegaskan komitmen besar membangun birokrasi yang profesional, transparan, dan bebas intervensi melalui pelaksanaan Uji Kompetensi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama yang digelar Senin, 1 Desember 2025.
Seleksi kali ini diikuti oleh enam ASN terbaik di lingkungan Pemkot Surabaya, masing-masing bersaing untuk dua posisi strategis, yaitu Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), dan Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (DPRKPP).
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Sekda Kota Surabaya Lilik Arijanto, dan Kepala BKPSDM Surabaya Ira Tursilawati turut hadir langsung memantau proses seleksi.
Di hadapan para peserta, Wali Kota Eri menegaskan bahwa Surabaya berada pada jalur birokrasi modern, di mana kompetensi adalah satu-satunya acuan.
“Hasil tes dan paparan saudara hari ini adalah penentu. Bukan karena suka, tidak suka, atau kedekatan. Siapa yang mampu, silakan duduki jabatan itu,” tegas Eri.
Ia juga menekankan bahwa setiap inovasi dan proposal kerja yang disampaikan harus memiliki output dan outcome yang jelas dan terukur, dengan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.
Bahkan, Eri tidak segan menurunkan pejabat yang tidak mampu mempertanggungjawabkan kinerjanya. "Jabatan bukan hadiah. Jabatan adalah amanah yang harus dibuktikan dengan hasil," ujarnya.
Eri menegaskan bahwa Surabaya membutuhkan kepala dinas yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berani mengambil keputusan dan keluar dari zona nyaman. "Kepala dinas itu harus wani. Berani ambil keputusan, berani mengeksekusi program, dan berani mengubah kondisi masyarakat jadi lebih baik,” pesannya.
Selain itu, Eri memastikan seleksi JPT lain yang masih kosong akan kembali dibuka pada Januari 2026. “Januari kami buka lagi. Transparan seperti ini," katanya.
Untuk memastikan objektivitas, Pemkot Surabaya menghadirkan panelis ahli lintas kampus dan instansi provinsi, antara lain Prof. Dr. Nuri Herachwati, Guru Besar FEB Universitas Airlangga, Prof. Dr. Fendy Suhariadi, Guru Besar Fakultas Psikologi UNAIR, Prof. Adjie Pamungkas, Guru Besar PWK ITS, dan Kepala BKD Pemprov Jawa Timur Indah Wahyuni.
Panelis menilai seleksi ini merupakan salah satu yang paling profesional dan komprehensif, terutama karena seluruh peserta telah masuk “Box 9” Manajemen Talenta—kategori tertinggi bagi pemimpin potensial. "Dengan pelibatan akademisi dan Pemprov Jatim, seleksi ini bisa benar-benar akurat dan tidak bias,” kata Prof Nuri.
Ia juga menegaskan bahwa Surabaya kini bukan lagi kota level nasional, tetapi telah masuk kategori kota kelas dunia, sehingga kepala dinas harus mampu membawa percepatan pembangunan. "Surabaya itu sudah kota dunia. Calon pemimpinnya harus berlevel global," katanya.
Kepala BKD Jatim, Indah Wahyuni, menilai seluruh peserta memiliki kompetensi dan wawasan yang setara. Namun yang menjadi pembeda adalah kedalaman inovasi dan kesesuaian dengan tupoksi masing-masing dinas.
“Inovasi yang mereka bawa sangat menunjang tugas mereka nantinya. Itu yang penting, agar begitu menjabat bisa langsung tune in dengan target Wali Kota,” ujarnya.
Editor : Prabu Narashan