Second Language Acquisition di Era Scroll dan Swipe: Ketika Bahasa Dipelajari dari Layar

author jurnas.net

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Ade Suhendra, Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Inggris, UIN Bukittinggi. Dokumentasi Pribadi
Ade Suhendra, Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Inggris, UIN Bukittinggi. Dokumentasi Pribadi

Di tengah derasnya arus digital, cara manusia belajar bahasa mengalami pergeseran yang tidak lagi bisa diabaikan. Jika dahulu ruang kelas menjadi pusat utama pembelajaran bahasa Inggris, kini layar ponsel mengambil alih sebagian besar peran tersebut. Generasi muda tidak lagi sepenuhnya bergantung pada guru dan buku teks. Mereka belajar dari video pendek, potongan film, konten TikTok, hingga percakapan di kolom komentar. Fenomena ini menandai lahirnya sebuah realitas baru: Second Language Acquisition (SLA) di era scroll dan swipe.

Namun, perubahan ini justru menghadirkan pertanyaan mendasar: jika akses terhadap bahasa Inggris semakin luas dan mudah, mengapa kemampuan bahasa Inggris masyarakat Indonesia masih relatif rendah?

Data terbaru dari EF English Proficiency Index 2025 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-80 dari 123 negara dengan kategori low proficiency, dengan skor rata-rata 471—di bawah rata-rata global 488. Bahkan, kemampuan berbicara (speaking) tercatat lebih rendah dibanding keterampilan lain. Fakta ini menunjukkan adanya kesenjangan antara paparan bahasa yang melimpah dan kemampuan penggunaan bahasa yang sesungguhnya.

Realitas ini juga dapat kita temukan di Sumatera Barat. Di banyak sekolah, termasuk di kota-kota seperti Bukittinggi atau Payakumbuh, siswa sudah terbiasa mendengar bahasa Inggris dari gawai mereka. Mereka mengikuti tren global, menonton konten kreator luar negeri, bahkan menirukan gaya bicara dan ekspresi populer. Namun, ketika diminta berbicara di depan kelas atau berdiskusi sederhana, banyak yang masih ragu, bahkan cenderung diam. Fenomena ini menunjukkan bahwa paparan tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan produksi bahasa.

Di sinilah teori dalam SLA menjadi relevan untuk membaca fenomena ini. Salah satu teori paling berpengaruh adalah Input Hypothesis yang dikemukakan oleh Stephen Krashen. Ia berpendapat bahwa bahasa diperoleh ketika pembelajar terpapar pada comprehensible input—yakni input yang sedikit lebih tinggi dari tingkat kemampuan mereka (i+1). Dalam konteks hari ini, media sosial sebenarnya menyediakan input yang sangat kaya dan autentik. Bahasa yang digunakan bukan bahasa buku teks, melainkan bahasa hidup yang digunakan penutur asli dalam konteks nyata.

Remaja di Sumbar hari ini mungkin tidak mampu menjelaskan aturan present perfect tense, tetapi mampu memahami ekspresi seperti “I’ve been there” dalam konteks video perjalanan. Bahkan, tidak sedikit pelajar yang hafal dialog film atau lirik lagu berbahasa Inggris karena sering muncul di beranda mereka. Di kawasan seperti Padang, misalnya, fenomena nongkrong sambil membuka TikTok atau Instagram sudah menjadi pemandangan umum. Bahasa Inggris hadir secara alami dalam keseharian mereka—tanpa disadari, proses acquisition sedang berlangsung.

Namun, teori Krashen juga menegaskan satu hal penting: tidak semua input otomatis menjadi pemerolehan. Input harus dipahami (comprehensible), relevan, dan cukup menantang. Di sinilah kelemahan utama dari pembelajaran berbasis media sosial. Banyak konten yang dikonsumsi bersifat cepat, terfragmentasi, dan dangkal. Bahasa hadir dalam potongan-potongan pendek tanpa konteks yang utuh. Akibatnya, yang terjadi bukan pemerolehan yang mendalam, melainkan sekadar pengenalan permukaan.

Fenomena ini dapat kita lihat dalam keseharian. Di beberapa sekolah di Sumatera Barat, guru kerap menemukan siswa yang mampu memahami video berbahasa Inggris, tetapi kesulitan ketika diminta membuat kalimat sendiri. Mereka terbiasa menjadi “penonton bahasa”, bukan “pengguna bahasa”. Inilah yang dapat disebut sebagai passive acquisition—pemahaman meningkat, tetapi produksi bahasa tetap lemah.

Di sisi lain, sistem pendidikan formal kita belum sepenuhnya beradaptasi dengan perubahan ini. Pembelajaran bahasa Inggris di sekolah masih cenderung berorientasi pada struktur dan ujian. Bahasa diajarkan sebagai seperangkat aturan yang harus dihafal, bukan sebagai alat komunikasi yang harus digunakan. Padahal, dalam perspektif SLA modern, interaksi dan penggunaan bahasa justru menjadi kunci utama dalam pemerolehan.

‎Ketimpangan ini semakin jelas jika kita melihat kondisi daerah. Di sebagian wilayah Sumatera Barat, akses terhadap lingkungan berbahasa Inggris masih terbatas. Interaksi dengan penutur asing jarang terjadi, dan penggunaan bahasa Inggris di luar kelas hampir tidak ada. Akibatnya, meskipun siswa memiliki paparan digital, mereka tidak memiliki ruang untuk mempraktikkan bahasa tersebut secara nyata.

‎Padahal, peluang sebenarnya terbuka lebar. Sumatera Barat adalah daerah tujuan wisata, terutama di kawasan Lembah Harau dan Jam Gadang, yang kerap dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Jika dimanfaatkan dengan baik, lingkungan ini bisa menjadi ruang praktik bahasa Inggris yang autentik bagi pelajar. Namun, potensi ini belum sepenuhnya diintegrasikan dalam pembelajaran.

‎Oleh karena itu, tantangan kita hari ini bukan memilih antara kelas atau media sosial, tetapi bagaimana mengintegrasikan keduanya. Pendidikan bahasa Inggris perlu beradaptasi dengan realitas digital tanpa kehilangan kedalaman akademiknya. Guru bisa memanfaatkan konten media sosial sebagai bahan ajar, mendorong siswa untuk menganalisis bahasa yang mereka temui, dan menggunakannya dalam konteks yang lebih luas.

‎Lebih jauh lagi, pendekatan ini menuntut perubahan paradigma. Kita perlu mengakui bahwa belajar bahasa tidak lagi terbatas pada ruang kelas. Pemerolehan terjadi di mana saja seperti di layar ponsel, di kolom komentar, bahkan dalam meme. Tugas pendidikan adalah menjembatani pengalaman tersebut agar menjadi pembelajaran yang bermakna.

‎Pada akhirnya, era scroll dan swipe bukan ancaman, melainkan peluang. Ia membuka akses yang lebih luas, lebih autentik, dan lebih menarik terhadap bahasa kedua. Namun, tanpa pendampingan yang tepat, peluang ini bisa berubah menjadi ilusi kompetensi.

‎Bahasa tidak cukup hanya “terlihat dipahami” tapi harus benar-benar dikuasai. Dan untuk itu, kita perlu lebih dari sekadar scroll dan swipe.

 

Oleh: Ade Suhendra, Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Inggris, UIN Bukittinggi.

 

Berita Terbaru

Kinerja Pemprov Jatim Dikritik DPRD, Khofifah Emosional dan Naik Nada Saat Jawab LKPJ 2025

Kinerja Pemprov Jatim Dikritik DPRD, Khofifah Emosional dan Naik Nada Saat Jawab LKPJ 2025

Rabu, 13 Mei 2026 16:48 WIB

Rabu, 13 Mei 2026 16:48 WIB

Jurnas.net – Rapat paripurna pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Jawa Timur Tahun Anggaran 2025 di DPRD Jawa Timur berlangsung p…

Siswa Surabaya Tumbang Usai Santap MBG, Evaluasi dan Pengawasan SPPG Dipertanyakan

Siswa Surabaya Tumbang Usai Santap MBG, Evaluasi dan Pengawasan SPPG Dipertanyakan

Rabu, 13 Mei 2026 15:03 WIB

Rabu, 13 Mei 2026 15:03 WIB

Jurnas.net - Dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di kawasan Tembok Dukuh, Surabaya, kembali menjadi tamparan keras bagi pelaksanaan Program…

DPRD Kritik Rapor Kinerja Khofifah: Literasi Rendah, BUMD Loyo dan Ketimpangan Tinggi

DPRD Kritik Rapor Kinerja Khofifah: Literasi Rendah, BUMD Loyo dan Ketimpangan Tinggi

Rabu, 13 Mei 2026 14:23 WIB

Rabu, 13 Mei 2026 14:23 WIB

Jurnas.net – Kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Timur di bawah kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa kembali mendapat sorotan tajam dari DPRD Jawa Timur dalam p…

Kemenkum RI Resmi Tetapkan 12 Lagu Tradisional Banyuwangi sebagai Kekayaan Intelektual Komunal

Kemenkum RI Resmi Tetapkan 12 Lagu Tradisional Banyuwangi sebagai Kekayaan Intelektual Komunal

Rabu, 13 Mei 2026 13:17 WIB

Rabu, 13 Mei 2026 13:17 WIB

Jurnas.net – Warisan budaya Banyuwangi kini mendapat perlindungan hukum resmi dari negara. Sebanyak 12 lagu dan musik tradisi asli Kabupaten Banyuwangi resmi t…

Jelang Idul Adha 2026, Pemkot Surabaya Wajibkan Hewan Kurban Bersertifikat Sehat Cegah PMK dan Antraks

Jelang Idul Adha 2026, Pemkot Surabaya Wajibkan Hewan Kurban Bersertifikat Sehat Cegah PMK dan Antraks

Rabu, 13 Mei 2026 12:27 WIB

Rabu, 13 Mei 2026 12:27 WIB

Jurnas.net – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperketat pengawasan pelaksanaan kurban menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi. Langkah ini d…

Program Banyuwangi Hijau Kian Meluas, 73 Desa Kompak Ubah Sampah Bernilai Ekonomi

Program Banyuwangi Hijau Kian Meluas, 73 Desa Kompak Ubah Sampah Bernilai Ekonomi

Rabu, 13 Mei 2026 11:19 WIB

Rabu, 13 Mei 2026 11:19 WIB

Jurnas.net – Program pengelolaan sampah berbasis sirkular bertajuk Banyuwangi Hijau terus menunjukkan perkembangan signifikan. Tidak hanya mengurangi volume s…