Kisah Anak Tukang Bangunan Jadi Mahasiswa Berprestasi di UGM

author A. Mustaqim

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Alfath Qornain Isnan Yuliadi. (Dok. Humas UGM)
Alfath Qornain Isnan Yuliadi. (Dok. Humas UGM)

Jurnas.net - Debu proyek masih akrab di ingatannya. Tangan yang pernah terluka karena merakit besi tulangan, kini justru meraih prestasi. Alfath Qornain Isnan Yuliadi, mahasiswa prodi D4 Teknologi Rekayasa Pelaksanaan Bangunan Sipil, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2022 asal Klaten ini menapaki jalan yang tidak biasa. Dari bangku SMK, menjadi satu-satunya siswa di sekolahnya yang lolos ke UGM, hingga kini menorehkan belasan prestasi nasional dan internasional.

Di tengah dominasi lulusan SMA dalam seleksi perguruan tinggi, kisah Alfath menjadi pengecualian yang menggugah. Ia bukan hanya satu-satunya yang lolos masuk UGM dari SMKnya, tetapi juga menjadi yang pertama di keluarga yang menginjakkan kaki di bangku kuliah. 

"Kalau di angkatan saya, jujur cuma saya. Satu-satunya dari SMK saya yang lolos," ujar Alfath pekan lalu. 

Keputusan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tidak hadir tanpa rintangan. Alfath bahkan harus menghadapi keraguan dari orang tuanya sendiri. Sejak awal, ia memang diarahkan masuk SMK agar bisa segera bekerja setelah lulus. 

"Awalnya memang tarik ulur. Karena dari awal saya dimasukkan ke SMK supaya setelah lulus bisa langsung bantu kerja," ujarnya.

Di balik itu, ada pertimbangan ekonomi yang rumit. Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, Alfath sadar bahwa keputusannya akan berdampak pada kondisi keluarga. Namun tekadnya sudah bulat dan tidak goyah. Sempat alami tersendat, orang tua Alfath akhirnya mendukung. 

"Saya bilang ke ayah, kalau saya mentok di SMK saja, kemungkinan berkembangnya lebih sulit. Saya ingin berkembang lebih jauh, saya ingin kuliah," katanya.

Perjuangan Alfath tidak berhenti pada izin. Ia membiayai sendiri langkah awalnya menuju kampus impian. Sejak kelas dua SMK, ia sudah turun langsung ke proyek bersama ayahnya. Dari menggali fondasi hingga mengangkat material, ia jalani semua. Upahnya tidak besar, sekitar Rp50 ribu per hari, namun cukup untuk ia kumpulkan sebagai bekal mendaftar UTBK. 

"Saya nggak enak minta ke bapak. Jadi saya kerja, sebagian ditabung buat UTBK, sebagian buat kebutuhan sekolah," katanya.

Di sela kerja penuh waktu dari pagi hingga sore, Alfath tetap menyisihkan waktu belajar di malam hari. Bahkan menjelang ujian, ia mengatur waktu dengan empat hari bekerja, tiga hari penuh di akhir pekan untuk belajar. Perjuangannya sempat diuji ketika ia mengalami kecelakaan kerja, jatuh dari lantai dua proyek bangunan. Namun, alih-alih menyerah, pengalaman itu justru menguatkan tekadnya. 

"Saya sempat overthinking, takut nggak bisa lanjut. Tapi alhamdulillah diberi kesempatan sampai di titik ini," ucapnya.

Hari pengumuman hasil seleksi UTBK menjadi titik balik dalam hidupnya. Alfath membuka hasil seleksi seorang diri di kamar. Ketika dinyatakan lolos ke UGM, emosinya pecah. Ia memeluk ibunya, lalu bergegas mencari sosok lain yang paling ia ingat, ialah kakeknya. 

"Saya ingat banget, saya lari nyamperin kakek saya, langsung saya peluk dan bilang, 'Saya jadi kuliah’," tuturnya. 

Momen itu bukan sekadar kebahagiaan pribadi. Bagi keluarganya, itu adalah sejarah baru. Sang kakek sangat bangga, karena Alfath adalah satu-satunya cucu yang bisa menempuh pendidikan di bangku kuliah. Harapannya, Alfath mampu menjadi pembuka bagi keluarganya yang lain, untuk menempuh pendidikan tinggi.

Memasuki kehidupan bangku kuliah di UGM telah membawa perubahan besar dalam dirinya. Jika dulu ia mengaku introvert dan hanya fokus akademik, kini ia aktif berorganisasi, hingga dipercaya untuk memimpin BSO di Sekolah Vokasi dan mengikuti berbagai kompetisi. 

 Hingga kini, Alfath telah memenangkan sekitar 15 perlombaan di tingkat nasional dan internasional. Ia bahkan sempat melangkah hingga menjadi finalis pada sebuah kompetisi di Nanyang Technological University Singapura. Prestasinya mengantarkannya meraih penghargaan menjadi Insan Berprestasi UGM pada 2025 lalu.

"Orang tua saya senang banget. Mereka nggak menyangka anaknya bisa sampai dapat penghargaan dari UGM," ujarnya.

Dari siswa SMK yang sempat diragukan, kini Alfath menjadi mahasiswa berprestasi yang tidak hanya mengangkat dirinya sendiri. Ia juga membuka jalan bagi generasi setelahnya. 

"Tugas kita bukan menerka masa depan, tapi memaksimalkan apa yang bisa kita lakukan sekarang, supaya nanti kita tidak menyesal," katanya.

 

Berita Terbaru

Lima Pejabat BNPB Jadi Tersangka Korupsi, LPKAN Desak KPK Telusuri Aliran Anggaran 2023-2025

Lima Pejabat BNPB Jadi Tersangka Korupsi, LPKAN Desak KPK Telusuri Aliran Anggaran 2023-2025

Kamis, 15 Okt 2026 16:32 WIB

Kamis, 15 Okt 2026 16:32 WIB

Jurnas.net – Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara Indonesia (DPP LPKAN Indonesia) mengecam dugaan korupsi yang menyeret lima pejabat B…

Ini Penyebab Polusi Udara Surabaya Sempat Tidak Sehat, PM2.5 Jadi Parameter Kritis

Ini Penyebab Polusi Udara Surabaya Sempat Tidak Sehat, PM2.5 Jadi Parameter Kritis

Kamis, 15 Okt 2026 14:02 WIB

Kamis, 15 Okt 2026 14:02 WIB

Jurnas.net – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya mencatat konsentrasi partikel halus PM2.5 menjadi salah satu parameter kritis kualitas udara di Kota P…

Kurangi Beban TPA, TPST Dadapan Lamongan Ditargetkan Olah 50 Ton Sampah per Hari

Kurangi Beban TPA, TPST Dadapan Lamongan Ditargetkan Olah 50 Ton Sampah per Hari

Kamis, 15 Okt 2026 13:17 WIB

Kamis, 15 Okt 2026 13:17 WIB

Jurnas.net – Pemerintah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, memperkuat upaya pengelolaan sampah melalui pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Dadapan …

Dugaan Suap Muktamar NU, Gus Lilur Sebut 130 PCNU Siap Kembalikan Dana ke KPK

Dugaan Suap Muktamar NU, Gus Lilur Sebut 130 PCNU Siap Kembalikan Dana ke KPK

Kamis, 15 Okt 2026 07:19 WIB

Kamis, 15 Okt 2026 07:19 WIB

Jurnas.net – HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, warga Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus kiai kampung, berencana kembali melaporkan sejumlah pihak ke …

Eks Anak Buah Khofifah Didakwa Terima Rp 4,09 Miliar dalam Kasus Pungli Izin Tambang di Dinas ESDM Jatim

Eks Anak Buah Khofifah Didakwa Terima Rp 4,09 Miliar dalam Kasus Pungli Izin Tambang di Dinas ESDM Jatim

Rabu, 14 Okt 2026 14:53 WIB

Rabu, 14 Okt 2026 14:53 WIB

Jurnas.net – Mantan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur, Aris Mukiyono, didakwa menerima uang sebesar Rp 4,09 miliar dalam perkara d…

Satpol PP Surabaya Segel 5 Toko Miras, Karena Jual Alkohol Eceran hingga ke Anak-anak

Satpol PP Surabaya Segel 5 Toko Miras, Karena Jual Alkohol Eceran hingga ke Anak-anak

Rabu, 14 Okt 2026 11:08 WIB

Rabu, 14 Okt 2026 11:08 WIB

Jurnas.net – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperketat pengawasan peredaran minuman beralkohol yang diduga melanggar ketentuan. Hasilnya, sebanyak 10 lo…