Keindahan Laut dan Pelajaran Tentang Keselamatan Diving, Disiplin, dan Kerendahan Hati

author Redaksi

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Didik Prasetiyono saat menyelam di tengah-tengah terumbu karang di dasar lautan. (Foto: Timur Angin)
Didik Prasetiyono saat menyelam di tengah-tengah terumbu karang di dasar lautan. (Foto: Timur Angin)

Oleh: Didik Prasetiyono, Penyelam scuba rekreasional, PADI Advanced Open Water Diver

Jurnas.net - Tragedi meninggalnya lima diver asal Italia di Maldives pada 14 Mei 2026 mengejutkan komunitas penyelam dunia. Mereka melakukan penyelaman di area underwater cave sekitar Vaavu Atoll dengan kedalaman diperkirakan mencapai 50–60 meter. Dalam proses evakuasi, seorang diver penyelamat dari militer Maldives juga meninggal akibat komplikasi dekompresi saat operasi recovery. Total enam nyawa hilang dalam satu rangkaian insiden yang menjadi perhatian besar komunitas diving internasional.

Korban meninggal dalam insiden tersebut adalah Monica Montefalcone, profesor ekologi laut Universitas Genoa yang memimpin ekspedisi penelitian; putrinya Giorgia Sommacal; peneliti kelautan Muriel Oddenino; lulusan marine ecology Federico Gualtieri; dive instructor Gianluca Benedetti; serta diver penyelamat militer Maldives Staff Sergeant Mohamed Mahudhee yang meninggal saat operasi recovery. Saat artikel ini ditulis, seluruh jenazah korban telah berhasil ditemukan dan dievakuasi dari sistem cave di Vaavu Atoll oleh tim recovery internasional yang melibatkan cave diver spesialis dari Finlandia dan Divers Alert Network Europe.

Yang membuat banyak orang terdiam, para korban bukan diver pemula. Sebagian merupakan instruktur, peneliti laut, dan penyelam dengan pengalaman tinggi. Peristiwa ini kembali menunjukkan satu hal penting dalam dunia diving: laut selalu menuntut rasa hormat, setinggi apa pun pengalaman penyelamnya.

Namun tragedi seperti ini tidak perlu membuat orang takut terhadap diving. Scuba diving tetap menjadi salah satu aktivitas wisata dan olahraga air dengan standar keselamatan yang sangat baik. Jutaan penyelaman dilakukan aman setiap tahun di seluruh dunia. Laut menghadirkan pengalaman yang sulit digantikan aktivitas lain: ketenangan, keheningan, dan rasa kagum terhadap kehidupan bawah laut.

Dalam banyak destinasi wisata diving dunia, standar keselamatan sebenarnya sudah sangat baik. Sistem buddy, briefing, dive computer, pelatihan bertahap, hingga prosedur emergency dibuat agar risiko dapat diminimalkan. Karena itu sebagian besar penyelaman rekreasional berlangsung aman dan menyenangkan ketika dilakukan sesuai prosedur.

Yang perlu dipahami sejak awal, diving bukan aktivitas yang mengandalkan keberanian semata. Diving adalah aktivitas yang sangat mengandalkan disiplin, prosedur, dan kemampuan mengenali batas diri.

Tubuh manusia sebenarnya tidak dirancang hidup di bawah air. Semakin dalam penyelaman dilakukan, tekanan air meningkat. Udara yang dihirup menjadi lebih padat, napas terasa lebih berat, konsumsi udara meningkat lebih cepat, dan tubuh menyerap lebih banyak nitrogen. Pada kedalaman tertentu, diver juga dapat mengalami nitrogen narcosis, kondisi yang memengaruhi konsentrasi dan pengambilan keputusan.

Dalam diving, kepanikan sering membuat masalah kecil berubah menjadi besar. Masker kemasukan air, arus sedikit lebih kuat, atau kehilangan orientasi sesaat sebenarnya masih dapat diatasi dengan prosedur yang benar. Karena itu ketenangan menjadi bagian penting dalam pelatihan diving.

Karena itu dunia diving membedakan penyelaman menjadi beberapa kategori dengan tingkat risiko yang berbeda.

Didik Prasetiyono saat menyelam. (Foto: Timur Angin)Didik Prasetiyono saat menyelam. (Foto: Timur Angin)

Mayoritas wisata diving di dunia masuk kategori recreational diving. Pada level Open Water Diver, batas kedalaman umumnya sekitar 18 meter. Advanced Open Water biasanya sampai sekitar 30 meter. Dalam recreational diving, batas maksimum absolut yang masih dianggap area rekreasional adalah sekitar 40 meter untuk diver berpengalaman dan kondisi tertentu.

Mengapa 40 meter menjadi batas penting? Karena setelah melewati kedalaman tersebut, risiko fisiologis meningkat jauh lebih besar. Nitrogen narcosis menjadi lebih kuat, udara terasa semakin padat, konsumsi gas meningkat drastis, dan risiko oxygen toxicity mulai menjadi perhatian serius. Kesalahan kecil di kedalaman seperti itu dapat berkembang cepat menjadi situasi darurat.

Karena itu penyelaman di atas 40 meter umumnya sudah masuk kategori technical diving. Technical diving bukan sekadar “diving lebih dalam”. Technical diving merupakan disiplin khusus yang membutuhkan pelatihan tambahan, sertifikasi tambahan, redundansi sistem keselamatan, prosedur dekompresi, serta perencanaan yang jauh lebih kompleks.

Pada technical diving, penyelam sering menggunakan tabung ganda, stage tank, campuran gas khusus seperti nitrox atau trimix, decompression stop bertahap, guideline dalam cave diving, hingga backup regulator dan sistem buoyancy cadangan. Penyelaman seperti cave diving, wreck penetration, atau deep diving di atas 40 meter memang memiliki daya tarik tersendiri, tetapi sebenarnya lebih dekat ke operasi teknis daripada wisata rekreasi biasa.

Semakin tinggi risiko, semakin besar pula mitigasi yang harus disiapkan. Dalam operasi penyelaman teknis profesional, terutama offshore atau industrial diving, keberadaan hyperbaric chamber sering menjadi bagian penting mitigasi risiko. Pada operasi rig, kapal kerja, atau penyelaman komersial tertentu, chamber biasanya disiapkan dekat lokasi operasi untuk mengantisipasi decompression sickness atau kondisi darurat lainnya.

Didik Prasetiyono saat menyelam di kedalaman laut. (Foto: Timur Angin)Didik Prasetiyono saat menyelam di kedalaman laut. (Foto: Timur Angin)

Decompression sickness atau yang sering disebut “the bends” terjadi ketika nitrogen membentuk gelembung di dalam darah dan jaringan tubuh akibat proses naik ke permukaan yang tidak aman atau paparan tekanan tinggi terlalu lama. Dampaknya dapat berupa nyeri sendi, gangguan saraf, mati rasa, kelumpuhan, hingga kematian. Dalam kondisi tertentu, kecepatan penanganan menjadi faktor yang sangat menentukan.

Teknologi seperti dive computer sangat membantu diver memantau kedalaman, ascent rate, dan batas aman penyelaman. Namun alat tetap membutuhkan disiplin dan keputusan manusia yang baik. Dalam diving, teknologi membantu mengurangi risiko, tetapi tidak pernah menghapus risiko sepenuhnya.

Karena itu technical diving seharusnya tidak dilakukan sembarangan atau sekadar demi sensasi rekreasi ekstrem. Semakin berpengalaman seorang diver, biasanya semakin memahami bahwa laut tidak perlu “ditaklukkan”.

Menariknya, sebagian besar keindahan laut tropis justru berada di kedalaman yang relatif aman untuk recreational diving. Terumbu karang paling sehat umumnya hidup di area yang masih mendapat cahaya matahari optimal, sekitar 5–20 meter. Di kedalaman inilah warna-warni coral terlihat paling hidup, schooling fish bergerak dinamis, penyu melintas tenang, dan cahaya matahari menciptakan pemandangan bawah laut yang luar biasa indah.

Banyak spot terbaik Indonesia justru dapat dinikmati aman pada kedalaman recreational. Raja Ampat, Bunaken, Alor, Wakatobi, Derawan, Banda, hingga Nusa Penida menghadirkan pengalaman kelas dunia tanpa harus mengejar kedalaman ekstrem.

Banyak diver berpengalaman justru menghabiskan waktu lama di kedalaman belasan meter, menikmati detail kecil kehidupan laut yang sering terlewat ketika terlalu fokus mengejar kedalaman. Slow dive di perairan dangkal sering menghadirkan pengalaman yang jauh lebih kaya dibanding sekadar mengejar angka depth di dive computer.

Didik Prasetiyono saat menyelam di kedalaman laut. (Foto: Timur Angin)Didik Prasetiyono saat menyelam di kedalaman laut. (Foto: Timur Angin)

Karena diving sebenarnya bukan kompetisi. Tidak ada medali untuk penyelam terdalam. Tidak ada trofi untuk penyelam paling nekat. Yang paling penting dalam diving sesungguhnya sederhana: semua bisa naik kembali ke permukaan dengan selamat.

Keselamatan diving dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan disiplin. Memilih operator diving yang profesional, briefing yang jelas, buddy check sebelum masuk air, memahami batas sertifikasi, menjaga buoyancy, memantau depth dan air secara rutin, naik perlahan, melakukan safety stop, menjaga kondisi tubuh tetap fit, hingga berani membatalkan penyelaman ketika kondisi dirasa tidak aman.

Dalam dunia diving ada ungkapan yang sangat terkenal: “Any diver can cancel any dive, at any time, for any reason.” Kalimat sederhana ini justru menjadi inti budaya keselamatan penyelaman.

Laut tidak pernah bisa dipaksa. Arus tidak peduli sertifikat. Kedalaman tidak peduli pengalaman. Karena itu rasa hormat kepada alam selalu menjadi perlengkapan keselamatan yang paling penting.

Indonesia sendiri memiliki salah satu kekayaan laut terbaik di dunia. Laut hangat, biodiversitas luar biasa, coral reef yang indah, dan ribuan spot penyelaman yang memikat penyelam dari berbagai negara.

Laut Indonesia terlalu indah untuk dijelajahi dengan terburu-buru. Ia mengajarkan ketenangan, disiplin, dan rasa hormat. Karena di bawah air, keselamatan selalu dimulai dari kerendahan hati.

Berita Terbaru

Gagas Gerakan ‘Parlemen Bawa Tumbler’, Ketua DPRD Kab. Bandung Tabuh Genderang Perlawanan Terhadap Sampah Plastik

Gagas Gerakan ‘Parlemen Bawa Tumbler’, Ketua DPRD Kab. Bandung Tabuh Genderang Perlawanan Terhadap Sampah Plastik

Rabu, 20 Mei 2026 13:01 WIB

Rabu, 20 Mei 2026 13:01 WIB

Jurnas.net - Langkah konkret dan progresif diambil oleh Ketua DPRD Kabupaten Bandung, Renie Rahayu fauzi, dalam merespons darurat kerusakan lingkungan akibat…

Embarkasi Surabaya Sudah Berangkatkan 40.207 Jemaah, 13 Wafat dan 10 Calon Haji Tertunda

Embarkasi Surabaya Sudah Berangkatkan 40.207 Jemaah, 13 Wafat dan 10 Calon Haji Tertunda

Rabu, 20 Mei 2026 11:32 WIB

Rabu, 20 Mei 2026 11:32 WIB

Jurnas.net – Operasional pemberangkatan jemaah haji Embarkasi Surabaya memasuki hari ke-29 dengan capaian 91 persen dari total kuota musim haji 1447 H…

Cegah Titip Alamat KK Saat SPMB, Pemkot Surabaya Integrasikan Data dengan Cek In Warga

Cegah Titip Alamat KK Saat SPMB, Pemkot Surabaya Integrasikan Data dengan Cek In Warga

Rabu, 20 Mei 2026 08:24 WIB

Rabu, 20 Mei 2026 08:24 WIB

Jurnas.net – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat sistem pengawasan dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 untuk j…

Hari Kedua Pencarian, Warga Blitar Tenggelam di Sungai Brantas Masih Belum Ditemukan

Hari Kedua Pencarian, Warga Blitar Tenggelam di Sungai Brantas Masih Belum Ditemukan

Selasa, 19 Mei 2026 17:02 WIB

Selasa, 19 Mei 2026 17:02 WIB

Jurnas.net - Tim SAR gabungan terus melanjutkan pencarian terhadap Isnaini (50), warga Dusun Dawuhan, Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar,…

Embarkasi Surabaya Sudah Berangkatkan 38.690 Jemaah, 12 Wafat dan 16 Calon Haji Tertunda

Embarkasi Surabaya Sudah Berangkatkan 38.690 Jemaah, 12 Wafat dan 16 Calon Haji Tertunda

Selasa, 19 Mei 2026 16:20 WIB

Selasa, 19 Mei 2026 16:20 WIB

Jurnas.net – Operasional pemberangkatan jemaah haji Embarkasi Surabaya memasuki hari ke-28 dengan capaian 88 persen dari total kuota keberangkatan musim haji 1…

Tinggalkan Surabaya untuk Haji, Eri Tunjuk Armuji dan Syamsul Hariadi Pimpin Pemkot Surabaya

Tinggalkan Surabaya untuk Haji, Eri Tunjuk Armuji dan Syamsul Hariadi Pimpin Pemkot Surabaya

Selasa, 19 Mei 2026 15:05 WIB

Selasa, 19 Mei 2026 15:05 WIB

Jurnas.net – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memastikan roda pemerintahan dan pelayanan publik di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, tetap berjalan o…