Jurnas.net - Universitas Ciputra Surabaya (UC) resmi menjadi tuan rumah penyelenggaraan TrainIQA Workshop 3 dan ASEAN-QA Forum 2025, salah satu forum penjaminan mutu perguruan tinggi paling berpengaruh di regional ASEAN dan Eropa. Kehadiran delegasi sembilan negara dan lembaga internasional menjadikan Surabaya sebagai pusat diskusi global mengenai masa depan mutu pendidikan tinggi di era kecerdasan buatan (AI).
Acara lima hari ini terlaksana melalui dukungan penuh DAAD Jerman, lembaga pendanaan pendidikan internasional terbesar di dunia, serta kolaborasi dengan HRK (German Rectors’ Conference) yang mewakili 263 universitas Jerman, University of Potsdam, AQAN, European University Association (EUA) yang menaungi lebih dari 850 universitas Eropa, dan SEAMEO RIHED.
Baca juga: Sinergi Kampus dan Industri: Model Baru Pendidikan Kreatif di Era Artificial Intelligence
Sebanyak 80 peserta dari Indonesia, Jerman, Laos, Thailand, Filipina, Myanmar, Timor Leste, Kamboja, dan Vietnam ambil bagian. “Program ini melibatkan para trainer QA dari Jerman dan negara-negara ASEAN terpilih. Surabaya menjadi titik temu penting bagi pertukaran standar mutu lintas benua,” kata Frank Niedermeier, TrainIQA Project Leader dari University of Potsdam.
Forum tahun ini mengangkat tema besar: “Opportunities and Challenges in Higher Education Quality Assurance in the Era of AI.”
Tema tersebut relevan dengan arah global, sejalan dengan peringatan UNESCO dalam laporan “AI and the Future of Education” yang menyebut AI telah “mengubah cara kita belajar, mengajar, dan memahami dunia.” OECD juga menekankan bahwa pesatnya perkembangan AI menuntut negara-negara untuk “memikirkan kembali sistem pendidikan”, terutama keterampilan manusia yang perlu dipertahankan atau diperkuat.
Acara dibuka oleh Rektor UC, Prof. Wirawan E.D., dengan menghadirkan pakar AI nasional Dr. Trianggoro Wiradinata, Director of Apple Developer Academy sekaligus Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Employability, dan Kolaborasi Industri.
Sesi panel diisi oleh tokoh QA internasional seperti Frank Niedermeier (University of Potsdam, Jerman), Prof. Dr. Duu Sheng Ong (Multimedia University, Malaysia), Prof. Dr. Philipp Pohlenz (University of Magdeburg, Jerman).
Baca juga: Mahasiswa Surabaya Ciptakan Keripik Rasa Sayur Asem: Inovasi Kuliner Lokal Siap Go Global
Penyelenggaraan forum ini menandai momen penting bagi Indonesia. TrainIQA merupakan program unggulan DAAD yang sejak 2011 telah melatih lebih dari 200 pimpinan QA dari 70 universitas ASEAN, banyak di antaranya kini berperan dalam perumusan kebijakan pendidikan nasional.
Lenny Rosita, S.T., M.MT., Head of Institutional Development & Quality Enhancement UC, sekaligus trainer TrainIQA pertama dari Indonesia dan Secretary of Executive Committee ASEAN-QA Association, menegaskan makna strategis kepercayaan DAAD kepada UC.
“Dipercaya menjadi host forum internasional membuktikan bahwa Indonesia mampu menjembatani dialog global mengenai mutu pendidikan tinggi. TrainIQA dan ASEAN-QA Forum bukan hanya pertemuan akademik, tetapi ruang implementasi kolaborasi ASEAN–Eropa,” ujarnya.
Baca juga: Universitas Ciputra Tantang Dominasi AI: Desain Harus Dikendalikan Manusia Bukan Mesin
Menurut Lenny, isu AI menjadi sorotan utama karena tak ada perguruan tinggi yang bisa menghindari dampaknya.
“AI membuka peluang efisiensi dan analisis mutu, namun juga membawa risiko terhadap integritas akademik, keamanan data, dan kualitas asesmen. Forum ini membantu merumuskan kerangka QA yang etis, bertanggung jawab, dan berorientasi pada capaian pembelajaran mahasiswa,” tambahnya.
Tidak hanya menjadi tuan rumah, UC berperan aktif dalam merumuskan diskusi substantif mengenai masa depan penjaminan mutu di era digital. "Keterlibatan UC di forum ini merupakan komitmen untuk menghadirkan suara Indonesia dalam pembahasan standar QA global. Kami ingin mendorong terbentuknya kerja sama konkret antar universitas ASEAN dan Eropa,” pungkas Lenny.
Editor : Rahmat Fajar