Saatnya Indonesia Memikirkan Rumah Pasca Bencana

author jurnas.net

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Ar. Akhmad Fatah Yasin, IAI (Afys),  Principal Imajiner Arsitek, Penggagas RUCANA – Rumah Tumbuh Pasca Bencana. (Dok: Jurnas.net)
Ar. Akhmad Fatah Yasin, IAI (Afys),  Principal Imajiner Arsitek, Penggagas RUCANA – Rumah Tumbuh Pasca Bencana. (Dok: Jurnas.net)

RUCANA, gagasan rumah tumbuh yang disiapkan sejak masa tanggap darurat

Oleh: Ar. Akhmad Fatah Yasin, IAI (Afys)

Setiap kali terjadi bencana besar, perhatian kita langsung tertuju pada upaya penyelamatan dan penanganan korban. Tenda didirikan, makanan dan obat-obatan dikirim, relawan berdatangan. Semua bergerak cepat karena memang dibutuhkan dalam situasi darurat.
Namun ada persoalan yang biasanya baru terasa setelah keadaan mulai tenang.

Bagaimana dengan rumah mereka?
Pertanyaan itu kembali muncul di benak saya ketika gempa mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur. Beberapa bulan sebelumnya, ketika gempa terjadi di Sumatra, pertanyaan yang sama juga muncul.

Sebagai arsitek, saya melihat persoalan ini dari sisi yang mungkin sedikit berbeda. Ketika sebuah rumah hancur, yang hilang sesungguhnya bukan hanya sebuah bangunan. Di dalam rumah ada ruang untuk keluarga berkumpul, tempat anak-anak tumbuh, tempat menyimpan barang, memasak, beristirahat dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Membangun kembali rumah setelah bencana membutuhkan waktu yang panjang. Sementara keluarga korban membutuhkan tempat tinggal sejak saat itu juga.

Dari kegelisahan itulah saya bersama tim di Imajiner Arsitek mengembangkan sebuah gagasan yang kami beri nama RUCANA (Rumah Tumbuh Pasca Bencana). Gagasan ini sebenarnya sudah kami pikirkan sejak terjadinya gempa di Sumatra. Gempa di NTT membuat saya kembali teringat bahwa konsep seperti ini seharusnya tidak berhenti sebagai sebuah desain.

Mungkin sudah waktunya kita mulai membicarakannya lebih serius. Rumah yang Bisa Mengikuti Proses Pemulihan
Selama ini, hunian pascabencana sering dibangun untuk memenuhi kebutuhan pada fase tertentu. Ada tenda untuk keadaan darurat, kemudian hunian sementara, dan setelah itu masyarakat menunggu rumah permanen.

Dalam proses tersebut, sering terjadi jarak waktu yang cukup panjang. RUCANA mencoba melihat persoalan itu dari sisi yang berbeda. Kami merancang sebuah hunian modular yang dapat dibangun dengan cepat pada masa tanggap darurat, kemudian dikembangkan sesuai dengan kondisi dan kemampuan penghuninya.

Modul awal RUCANA memiliki luas sekitar 11,5 meter persegi. Ketika keadaan mulai pulih, modul tersebut dapat dikembangkan menjadi sekitar 23 meter persegi. Struktur utama tetap digunakan, sementara material penutup dan elemen bangunan dapat ditingkatkan menuju rumah permanen.

Konsep ini kami sebut Emergency to Permanent. Artinya, rumah yang didirikan saat kondisi darurat sudah dipikirkan untuk perjalanan berikutnya.

Bagi saya, ini penting. Sebab keluarga yang kehilangan rumah tidak sedang membutuhkan sebuah bangunan untuk beberapa bulan saja. Mereka sedang memulai kembali kehidupannya.
Mengapa Harus Dibongkar?

Ada satu pertanyaan sederhana yang terus mengganggu pikiran saya. Mengapa rumah yang dibangun untuk korban bencana harus selalu dianggap selesai ketika masa darurat berakhir?. Kalau sejak awal struktur dan modulnya memang dirancang untuk berkembang, mengapa tidak kita manfaatkan kembali?.
Itulah salah satu dasar pemikiran RUCANA.

Hunian ini menggunakan konsep modular flat-pack. Komponen bangunan dirancang agar lebih mudah dikirim, disimpan dan dirakit di lokasi. Desainnya juga membuka kemungkinan penggunaan material yang menyesuaikan dengan kondisi setempat. Tentu konsep ini masih membutuhkan pengujian dan penyempurnaan.

Struktur harus diuji. Biaya produksi harus dihitung secara realistis. Sistem pengiriman dan penyimpanan perlu dipikirkan. Kondisi iklim dan karakter wilayah bencana juga berbeda-beda.
Saya justru berharap hal-hal tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan RUCANA ke depan.

Jangan Menunggu Bencana Terjadi

Saya membayangkan Indonesia mempunyai sistem yang lebih siap untuk menghadapi persoalan hunian pascabencana. Misalnya, komponen rumah dapat diproduksi terlebih dahulu dan ditempatkan di beberapa wilayah yang rawan bencana. Ketika terjadi bencana, kita tidak perlu memulai semuanya dari awal. Perguruan tinggi bisa ikut menguji dan mengembangkan sistemnya.

Industri bisa memikirkan bagaimana komponen diproduksi dalam jumlah besar dengan biaya yang masuk akal. Pemerintah dapat menyiapkan kebijakan dan standar penggunaannya. Komunitas lokal bisa dilibatkan dalam proses perakitan dan pembangunan.

Dunia usaha, lembaga filantropi dan organisasi kemanusiaan dapat mengambil bagian dalam pembiayaannya. Dengan pola seperti ini, bantuan pascabencana bisa bergerak lebih jauh. Masyarakat mendapatkan tempat tinggal untuk menghadapi masa darurat, tetapi pada saat yang sama sudah memiliki fondasi untuk membangun rumah mereka kembali.

RUCANA Masih Sebuah Gagasan

Saya tidak ingin mengatakan RUCANA sudah menjadi jawaban untuk semua persoalan hunian pascabencana. Masih Belum. Konsep ini masih perlu diuji dan dikembangkan. Justru itulah alasan saya ingin membawanya ke ruang publik.

Saya ingin mendapatkan masukan dari para ahli, pemerintah, perguruan tinggi, pelaku industri, komunitas kebencanaan dan masyarakat yang memiliki pengalaman langsung menghadapi bencana.

Saya percaya sebuah gagasan akan menjadi lebih baik ketika dibicarakan dan diuji bersama. RUCANA juga tidak harus diterapkan dengan bentuk yang persis seperti desain awalnya. Bisa saja nanti ada perubahan struktur, material, ukuran maupun sistem konstruksinya setelah melalui berbagai pengujian. Tidak masalah.

Yang ingin saya dorong adalah cara berpikirnya. Bahwa hunian pascabencana perlu direncanakan sebagai bagian dari proses pemulihan jangka panjang.

Kita Perlu Mulai Sekarang

Indonesia adalah negara yang sangat akrab dengan bencana. Gempa bumi, tsunami, banjir, longsor dan berbagai bencana lainnya sudah berkali-kali mengajarkan kepada kita bahwa persiapan sangat penting.

Kita sudah memiliki banyak pengalaman dalam penanganan tanggap darurat. Mungkin sekarang waktunya kita memberi perhatian lebih besar pada apa yang terjadi setelah fase tersebut. Sebab setelah kamera media pergi, bantuan mulai berkurang dan tenda-tenda mulai dibongkar, masih ada keluarga yang harus melanjutkan hidup.

Mereka membutuhkan rumah. Dan rumah tidak selesai hanya karena masa tanggap darurat sudah berakhir. Dari situlah saya menawarkan RUCANA. Sebuah rumah yang dimulai dalam keadaan darurat, tetapi sejak awal sudah dipersiapkan untuk tumbuh menjadi rumah permanen.

Saya berharap gagasan ini bisa menjadi bahan diskusi dan, kalau memungkinkan, menjadi proyek percontohan yang benar-benar diuji di lapangan. Mungkin RUCANA belum sempurna. Tetapi saya percaya, lebih baik kita mulai menguji sebuah gagasan hari ini daripada kembali mencari jawaban ketika bencana berikutnya sudah terjadi.

 

Penulis adalah Ar. Akhmad Fatah Yasin, IAI (Afys),  Principal Imajiner Arsitek dan Penggagas RUCANA – Rumah Tumbuh Pasca Bencana

Berita Terbaru

46 Tersangka Sindikat Love Scamming Internasional Segera Diadili di Surabaya, Ini Modusnya

46 Tersangka Sindikat Love Scamming Internasional Segera Diadili di Surabaya, Ini Modusnya

Rabu, 19 Agu 2026 19:37 WIB

Rabu, 19 Agu 2026 19:37 WIB

Jurnas.net - Kasus penipuan daring bermodus asmara atau love scamming yang melibatkan sindikat kejahatan siber internasional memasuki babak baru. Penyidik…

PKS Desak Pemprov Jatim Prioritaskan TPG Rp274,57 Miliar: Jangan Abaikan Hak dan Kesejahteraan Guru

PKS Desak Pemprov Jatim Prioritaskan TPG Rp274,57 Miliar: Jangan Abaikan Hak dan Kesejahteraan Guru

Rabu, 19 Agu 2026 15:33 WIB

Rabu, 19 Agu 2026 15:33 WIB

Jurnas.net — Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Jawa Timur menyoroti belum tuntasnya pembayaran Tunjangan Profesi Guru (TPG), termasuk komponen T…

Surabaya Gelar Lomba Kampung Pancasila, 4 Pilar Jadi Dasar dan Penilaian Hingga Desember

Surabaya Gelar Lomba Kampung Pancasila, 4 Pilar Jadi Dasar dan Penilaian Hingga Desember

Rabu, 19 Agu 2026 14:18 WIB

Rabu, 19 Agu 2026 14:18 WIB

Jurnas.net — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan menggelar Lomba Kampung Pancasila mulai September hingga Desember 2026. Sebanyak 1.360 RW yang tersebar di 1…

Jelang Kick-off Turnamen Mini Soccer 31 Agustus, Golkar Jatim Pastikan Kesiapan Venue

Jelang Kick-off Turnamen Mini Soccer 31 Agustus, Golkar Jatim Pastikan Kesiapan Venue

Rabu, 19 Agu 2026 13:36 WIB

Rabu, 19 Agu 2026 13:36 WIB

Jurnas.net — Turnamen Mini Soccer 2026 yang memperebutkan Piala Ketua Umum DPP Golkar Bahlil Lahadalia memasuki tahap akhir persiapan. DPD Partai Golkar Jawa T…

Tak Boleh Parkir Sembarangan, RW di Surabaya Terapkan Denda Rp500.000 Mulai Pukul 22.00

Tak Boleh Parkir Sembarangan, RW di Surabaya Terapkan Denda Rp500.000 Mulai Pukul 22.00

Rabu, 19 Agu 2026 09:21 WIB

Rabu, 19 Agu 2026 09:21 WIB

Jurnas.net — Jalan lingkungan di kawasan permukiman sering kali berubah fungsi menjadi tempat parkir ketika ketersediaan lahan di rumah warga terbatas. Kondisi …

81 Tahun Merdeka, DPRD Jatim Soroti Akses Sekolah Negeri, Kesehatan hingga Lapangan Kerja

81 Tahun Merdeka, DPRD Jatim Soroti Akses Sekolah Negeri, Kesehatan hingga Lapangan Kerja

Selasa, 18 Agu 2026 09:10 WIB

Selasa, 18 Agu 2026 09:10 WIB

Jurnas.net — Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak cukup dimaknai melalui upacara dan capaian angka statistik. Momentum tersebut dinilai p…